Mohon tunggu...
Ahmad Indra
Ahmad Indra Mohon Tunggu... Swasta

Menulislah 'tuk memperpanjang usiamu

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Hitung Mundur 22 Mei : Quo Vadis Aksi Kedaulatan Rakyat

20 Mei 2019   20:10 Diperbarui: 21 Mei 2019   03:50 0 0 0 Mohon Tunggu...
Hitung Mundur 22 Mei : Quo Vadis Aksi Kedaulatan Rakyat
Sekelompok mahasiswa berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro Bandung, Jumat (18/5/2019) | Dok. Tribunnews

Saban hari saya melintas di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jl. Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat. Dari arah Tugu Proklamasi yang di seberangnya berdiri kantor Partai Demokrat, saya biasa melewati kantor yang kini di depannya dipasang barikade kawat duri itu saat menuju ke kantor. Beberapa unit kendaraan angkut Brimob terparkir di sana. Puluhan personil Brimob nampak berjaga di depan kantor berdinding krem itu.

Sore itu beredar di whatsapp group (WAG) mengenai skenario pengamanan pada 22 Mei mendatang. Ribuan personel TNI dan Polri ditugaskan untuk menjaga puluhan titik, bukan saja kantor KPU dan Bawaslu. Ada yang bilang penjagaan seperti itu mirip perang saja, apalagi hanya untuk mengamankan situasi dari "ancaman" warga sipil tak bersenjata. 

Untung saja ungkapan yang dipakai masih menggunakan kata "seperti perang". Karena jika tidak, bisa dipastikan anggapan itu salah. Masa sih, perang kok nggak pakai senjata api, tank atau panser. 

Baca juga : Partai NU, Partai Muhammadiyah, dan "Gething Nyandhing" dalam Politik

Sebagaimana diberitakan media, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan bahwa semua personel pengamanan nantinya hanya dibekali dengan tameng dan gas air mata, tanpa senjata api dan peluru tajam. Sedangkan untuk kendaraan taktis, Polri akan mengerahkan water canon sebagai sarana penghalau massa jika terjadi chaos. Dikatakannya, prosedur itu didasarkan pada perintah langsung dari Kapolri.

Lalu jika ada yang menyayangkan tentang banyaknya personel yang ditugaskan, layak kita kembalikan kepada pemilik hajat Aksi Kedaulatan Rakyat. Jika dari awal tak ada gembar-gembor aksi di KPU dalam rangka apa pun, rasanya tak mungkin pula aparat mengerahkan begitu banyak anggotanya. Tak perlu beranggapan negatip terhadap kehadiran ribuan pasukan pengamanan itu kecuali jika memang punya agenda macam-macam.

Mobilisasi Massa dari luar Jakarta

Diberitakan Kompas, massa sudah mulai berangkat dari Jawa Timur sejak Sabtu, 18 Mei lalu. Mereka berangkat dengan menggunakan berbagai moda dari mobil pribadi hingga pesawat dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Demikian dituturkan oleh Gus Aam yang Ketua Umum Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN) itu. 

Baca jugaNU, Terbelah karena Politik?

Polisi juga sudah mengamankan beberapa orang yang terlibat dalam penggalangan massa dalam rangka mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai tur jihad. Nampak benar bahwa tema-tema agama disandangkan dalam kegiatan berbau politik ini.

Di saat yang bersamaan, pemberitaan di media sosial tentang keberangkatan massa ke Jakarta cukup gencar adanya. Namun sayang, pemberitaan itu tak jarang adalah hembusan berita bohong seperti kejadian-kejadian lampau. Entah untuk memperkuat legitimasi aksi massa atau dihembuskan oleh pihak-pihak yang justru bukan pendukung aksi yang ingin membodohi simpatisan aksi di dunia maya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x