Mohon tunggu...
masikun
masikun Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Pertanian

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Belajar Bahasa Daerah

1 November 2019   07:55 Diperbarui: 1 November 2019   10:15 10 1 1 Mohon Tunggu...

Beberapa waktu silam saya berkesempatan untuk ikut pulang ke kampung salah seorang teman kuliah. Terlepas itu memang benar-benar kampung atau bukan, yang pasti kalo pulang ke rumah ya namanya pulang kampung. Meskipun tak jarang kampung mereka lebih kota. Buka itu point yang ingin saya bahas. Menjadi menarik kenapa saya ingin ikut pulang kampung adalah keadaan saat ini, -saat itu. Saat saya berangkat kondisi alam sedang tidak baik-baik. Kabut asap. Yha, sebagian besar wilayah Indonesia sedang disibukan dengan bencana ini. Termasuk Banjarbaru, tempat saya tinggal. 

Kampung teman saya namanya Pambuang Hulu. Sebuah Kecamatan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Jarak yang saya tempuh tak kurang dari 700km. Lebih kurang dua belas jam bersepeda motor roda dua. Menyusuri jalan trans Kalimantan. Selama perjalanan panjang itulah saya juga acapkali berdecak miris hati. Saya mengira kabut yang di Banjarbaru sudah parah. Ternyata sebagian besar daerah di Kalimantan Tengah, yang saya lewati lebih parah keadaanya. Bahkan saya dapat melihat dengan mata kepala sendiri geliat api di kanan-kiri saya. Asap putih pekat membumbung tinggi. Tim pemadam bahu membaku kerja keras tak tahu waktu. Memadamkan di satu tempat, tempat lain terbakar. Begitu seterusnya. Saya yang hanya sekadar lewat saja cukup tersesak oleh asapnya, apa kabar yang tinggal sehari-hari? Dan saat-saat seperti ini banyak pemegang kebijakan malah pangku tangan, berdebat menguatkan kepentingan dari dia punya golongan. Ah negeri ini. Memang begitu.

Perjalanan itu menemui ujung kala gelap menyapa. Teman saya bilang, ini rumah neneknya. Malam ini menginap di sini. Kata dia di rumahnya tak ada orang. Masih di lahan. Saya terlelap dengan membawa lara yang terendap. Mengarungi mimpi indah dengan penuh harap.

Pagi-pagi, saya bangun dengan sambutan suara anak-anak. Betapa kaget saya mendapati seisi rumah sudah berada di depan tv. Sedang menonton acara kartun pagi. Masih setengah sadar saya perhatikan satu persatu dari mereka. Tidak ada yang saya kenal. Tentu saja. Saya orang baru. Saya meminta diri untuk ke kamar mandi. Melakukan kebiasaan pagi. 

Kembali menuju ruang tamu, saya mendapati bergelas-gelas kopi lengkap dengan kudapan ringan. 

"Itu kopi dan wadainya, dimakan." Wadai adalah sebutan dalam bahasa Banjar untuk makanan yang berbentuk 'kue'

Saya duduk. Mendengarkan teman saya ngobrol dengan Neneknya menggunakan bahasa Dayak, saya hanya terdiam. Saya tak paham. Selama empat tahun di Kalimantan Selatan, saya hanya faseh bahasa Banjar, salah satu bahasa yang dipakai orang-orang Kalimantan. Sesekali mereka mencandai saya dengan mentranslate obrolan mereka, berharap saya mengerti yang sedang mereka bicarakan. Saya hanya tersenyum kagum. Dulu ketika awal di Banjarbaru, saya juga hanya bisa diam ketika teman-teman ngobrol dengan bahasa Banjar. Lambat laun, sayapun belajar. Sampai-sampai sekarang jika ngobrol dengan orang baru menggunakan bahasa Banjar mereka tak jarang meragukan asal saya yang dari Cilacap, ngapak. Mereka lebih mengira saya asli Banjar. Saya senang bisa belajar bahasa, apalagi negeri ini sangat kaya akan bahasa daerah. Itulah salah satu alasan kenapa saya suka mendatangi tempat baru, orang-orang baru, juga segala macam perniknya. Saya ingin mencari alasan untuk tidak mencintai Indonesia. Sampai hari ini semakin saya jauh melangkah, semakin banyak orang yang saya temu, saya semakin tidak menemui alasan itu. Sebaliknya, saya semakin cinta. Meskipun awalnya harus merasakan bagaimana menjadi minoritas, orang baru. Selebihnya, mereka, dan kita semua adalah saudara.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x