Mohon tunggu...
masikun
masikun Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Pertanian

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menabung Rindu

19 Oktober 2019   16:58 Diperbarui: 19 Oktober 2019   17:03 0 3 0 Mohon Tunggu...
Menabung Rindu
Gambar dok. pribadi

Jam menunjukan pukul 06.30 wib saat aku sampai di stasiun Sidareja. Masih lengang. Sepi. Terlalu pagi untuk aktifitas sebuah stasiun di pedesaan.

"Mangkat sit yo El!" ku julurkan tangan dengan selember uang menyalami Ela, keponakan tertua yang mengantarku pagi ini. Dia menjabat tanganku. Seperti biasa juga mencium tanganku, sambil bilang "Iya mang, ati-ati." Tak lama dia keluar dari parkiran stasiun. Ku pandangi punggunya yang semakin menjauh. Sampai jumpa 365 hari lagi. 

Ku angklek daypack warna biru muda yang penuh sesak makanan ringan dan pakaian. Ku langkahkan kaki menuju ruang tunggu stasiun. Tak ada seorangpun. Akupun duduk. Mengamati setiap sudut. Tersadarlah ini adalah pertama kalinya aku kembali menginjakan di stasiun ini selama sepuluh tahun terakhir. Banyak perubahan di sana - sini sudut. Terlihat rute keretapi sepulau Jawa. Salah satu dari rute itulah yang aku lewati. Sidareja-Jakarta (pasar senen). Perjalanan yang akan ditempuh kurang lebih sembilan jam dengan jarak tempuh tak kurang dari 350 Km. Jika ditotal maka aku akan menempuh jarak tak kurang dari 1000 km selama dua hari kedepan naik kereta. Karena setelah dari Jakarta aku akan kembali ke Sidareja, dan langsung ke Surabaya. 

Gambar dok. pribadi
Gambar dok. pribadi

Sesuai jadwal kereta yang akan ku naiki -Serayu Pagi- akan sampai di stasiun Sidareja pukul 08.26 wib. Masih dua jam lagi. Ku keluarkan buku dari daypack. "Kangen yang Berkualitas" karya Intan Rifiwanti itulah yang bakalan nemenin perjalanan kali ini. 

"Mas, kereta baru sampai Kroya ini. Kamu sarapan dulu ya!" pesan singkat via wa dari Intan. Yha Intan, pengarang buku yang sedang ku baca. 

Keretaku masih lama. Baca buku lama-lama juga bikin mata capek. 

"Mas, toilet sebelah mana ya?" Pertanyaan yang tak seharusnya aku tanyakan. Lah wong sudah ada petunjuknya. Termasuk petunjuk letak toilet. Semacam ingin basa-basi saja sebetulnya. Sekalian ingin menyapa orang stasiun pertama yang ku lihat pagi ini. Sepertinya cleaning servis. Seseorang yang berjasa menjaga kebersihan tempat ini tentu saja. 

"Lewat sini saja gak papa, Mas" Katanya, melihat wajahku penuh tanda tanya mencari jalan masuk menuju toilet. Letak toilet itu di dalam. Pintu masih ditutup. Ternyata tidak mengapa melewati pintu itu saja. Akupun manut. Daypack masih aku angklek. Kini aku berjalan tepat disamping rel kereta. Ku susuri jalan tepian. Toilet ada di ujung. 

Aku cuci muka. Aku tertegun di depan cermin ukuran  tak lebih dari 50 cm persegi itu. Aku masih melihat jelas sudut mataku masih menggenang. Sembab. Perpisahan dengan Ibu dan Bapak tiap  kembali menimba ilmu di rantau adalah moment mengharukan. Ini adalah kali ke-empatnya aku pamitan. Bisa jadi ini juga paling mengharukan dari pada sebelum-sebelumnya. Sejak dari dalam rumahpun Ibu sudah berkaca. Aku masih menahan. Aku peluk Ibu, lalu bapak. Terlihat pelupuk mata bapak juga kentara menahan jatuhnya butiran air matanya, tapi mungkin jaim di depan anak bungsunya ini. Baru aku memakai helm, dan mau menstarter motor, tiba-tiba Ibuk menangis. Akupun sontak kembali melepas helm dan seketika memeluknya kembali. Kali benar-benar tak bisa ku menahan air mata. Aku menangis dipelukan Ibu. Sejadinya. Tangis seorang anak laki-laki berumur dua puluh dua tahun. Ketawa, haru.

Bapak yang tepat disampingkupun semakin kentara larut dalam suasana haru itu. Berat sekali rasanya melepas pelukan itu. Pelukan yang akan aku rasakan entah kapan lagi. Paling tidak satu tahun kedepan. Menabung rasa rindu. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca lagi mengingat moment pagi tadi. Secepat mungkin aku menegakan wajahku. Ku tarik senyum di samping kanan-kiri, dua cm mungkin. 

"Mas, keretanya baru jalan, see ya!" Dia kembali berkabar.

"Oke"

-bersambung

KONTEN MENARIK LAINNYA
x
19 Oktober 2019