Wanita

Makna di Balik Kunyit Asam Buatan Ibu

3 Januari 2018   22:27 Diperbarui: 4 Januari 2018   16:42 1045 1 0

Ibu adalah wanita yang sibuk. Kesibukannya bukan karena pekerjaan semata, namun karena perannya sebagai anak dan ibu yang sangat menguras waktu. Ya, Ibu juga seorang anak yang berkewajiban merawat orang tuanya terutama ketika orang tua sudah tidak mampu merawat dirinya sendiri. Begitu pun dengan kondisi Kakek saat ini. Kondisi kesehatannya berangsur-angsur menurun. 

Apalagi setelah anak ketujuhnya meninggal tahun lalu, Kakek adalah sosok yang merasa paling kehilangan. Pasalnya, anak ketujuh Kakek atau kakak dari Ibu merupakan anak kesayangan yang selalu merawat Kakek dan Nenek. Setelah kepergiannya, giliran Ibu yang merawat Kakek dan Nenek.

Sebagai seorang ibu, wanita 47 tahun itu tahu betul cara membagi waktu untuk pekerjaan rumah dan kantor. Jika semua pekerjaan rumah sudah selesai atau minimal telah terorganisasi, Ibu baru akan mengerjakan tugas kantornya. 

Aku bahkan hampir tidak pernah melihat Ibu bermalas-malasan ketika kondisinya sehat. Bagaimana tidak? Ia, ibu dari 6 orang anak yang bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan tak meninggalkan kewajibannya untuk berbakti kepada orang tua, harus melakukan hal-hal tersebut dalam waktu 24 jam setiap harinya. Mungkin karena itulah kualitas waktu kegiatan Ibu semakin baik dan aku selalu merasa bahagia dalam setiap kebersamaan dengannya.

...

Sudah hampir seminggu ibu selalu membuatkanku jamu kunyit asam. Ia sengaja membuatnya sendiri untuk memastikan bahwa semua bahannya aman dan higienis. Bahan yang dibutuhkan adalah kunyit, asam jawa, air hangat, gula jawa, dan madu. Bukan tanpa alasan ibu membuatkannya untukku. Kata Ibu, jamu tersebut sangat baik untuk kesehatan kulit. Memang beberapa minggu terakhir aku mengeluhkan munculnya jerawat di wajah dan punggung yang jumlahnya semakin lama semakin banyak dan membesar.

Dan benar sekali, frekuensi munculnya jerawat di tubuhku berkurang, pun jerawat besar yang menempel pada wajah dan punggungku berangsur-angsur mengecil bahkan hilang. Sekali lagi aku cemburu. Aku cemburu pada Ibu yang lebih menguasai disiplin ilmu gizi, studi yang sedang kujalani kini. Ia hampir tak pernah menjawab "tidak tahu" jika kutanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu gizi. Memang benar kata pepatah "Guru yang paling baik adalah pengalaman."

Ibu telah lebih dulu mengenyam bangku kuliah dan merasakan asam garam kehidupan. Ia bukan orang yang serba praktis, tetapi justru proses yang selalu ia perhatikan. Jika saja ibu adalah manusia modern zaman "now", mungkin tak pernah aku temukan kata "jamu" dalam kosakatanya. Bagaimana tidak? Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan setelah mengkonsumsi jamu, kita tidak serta merta langsung merasakannya setelah meminumnya. 

Efeknya baru akan muncul setelah kita rajin mengkonsumsinya. Sebaliknya, di era yang serba instan seperti sekarang, muncul berbagai obat-obatan yang memberi efek praktis dan cepat sesuai tuntutan zaman.

Namun, konsumsi jamu kunyit asam tersebut ternyata tidak hanya berefek pada kesehatan kulit saja, ada beberapa hal yang aku rasakan setelah rajin mengkonsumsinya. Yang paling membuatku was-was adalah keluarnya flek-flek coklat 1 minggu setelah menstruasi. Beberapa hari flek-flek tersebut muncul dan itu bukan hal yang umum bagi remaja putri. Tentunya aku tidak apatis menanggapinya. Aku cari informasi mengenai hal tersebut dan hasilnya ternyata meleset dari dugaanku.

Ya, entah sudah kali ke berapa Ibu membuatku kagum. Aku tak habis pikir, bagaimana Ibu bisa sejauh itu menutupi alasan klisenya. Kurang lebih satu tahun yang lalu, Ibu mengalami peristiwa yang tak terduga. Ibu, seorang wanita yang pernah 6 kali hamil, tiba-tiba mengalami pendarahan. Aku ingat sekali apa yang terjadi saat itu.

Pagi itu pukul 02.00, Ibu membangunkanku yang tengah tertidur pulas. Sembari kuusap mataku, aku melihat Ibu memegangi perutnya dengan wajah kurang mengenakkan. Ibu mengatakan bahwa perutnya memang sakit dan ia hendak pergi memeriksakannya. Aku pun yang diberi amanah menjaga rumah dan seisinya pagi itu. Sebentar setelah Ibu keluar dari kamarku, aku mendengar suara mobil yang mulai dihidupkan. 

Lamat-lamat kudengar suara itu semakin menjauh. Aku masih setengah sadar saat itu, kemudian benar-benar terbangun setelah adik bungsuku memanggil-manggil nama Ibu. Tanpa pikir panjang, aku bergegas ke kamarnya dan menemaninya. Tak lama setelah aku menemaninya, ia pun tertidur dan aku mengikutinya. Lalu, pagi harinya Ayah telah berada di sampingku. Ia yang tadi mengantar Ibu pergi. Namun, Ayah tak bersama Ibu kali ini. Ayah mengatakan bahwa sesuatu terjadi pada Ibu, darah yang berceceran di sekitar tempat tidur Ibu adalah pertanda bahwa Ibu mengalami pendarahan.

Setelah hari yang panjang itu dan kondisi Ibu membaik, aku baru tahu bahwa pendarahan yang dialami Ibu disebabkan karena keguguran dan janin yang dikandungnya harus 'pergi' karena ada kista dalam rahim Ibu. Kista itulah yang sampai sekarang masih menghantui Ibu. Ibu harus menghindari berbagai makanan untuk mencegah bertambah besarnya kista itu.

Di samping itu, peristiwa keguguran yang dialami Ibu sedikit membuatnya trauma. Ia tidak hanya membatasi makanannya sendiri, melainkan juga makananku. Itu karena aku satu-satunya anak perempuan Ibu jadi hanya akulah yang berpeluang mengalami hal yang sama.

Dari situlah aku menduga,  Ibu rajin membuatkanku jamu kunyit asam karena ada maksud lain. Kunyit asam  mampu mengatasi masalah haid dan membersihkan rahim. Itulah mengapa kunyit asam dikenal baik dalam mencegah timbuknya kista atau penumpukan darah kotor dalam rahim. Menurut sumber pustaka online, flek-flek coklat yang keluar dari dalam rahim kemungkinan adalah darah kotor yang tidak meluruh saat menstruasi.

Kesediaan Ibu membuatkanku jamu kunyit asam adalah hadiah berkesan bagiku. Ibu yang biasanya bersenda gurau dengan anak-anaknya pada pagi hari justru merelakan waktunya untuk sekadar membuat jamu. Berkali-kali lipat rasa terima kasihku pada Ibu karena waktu yang telah ia berikan padaku, pengorbanannya, dan banyak sekali hal yang tidak dapat disebut satu per satu. 

Ia  tak pernah meminta balas jasa namun terus mengalirkan kebaikan untuk anak-anaknya. Semua pemberiannya tak pernah ia sebutkan terang-terangan, tetapi jusru ia bungkus dalam bentuk rutinitas harian. Ia berikan, korbankan, dan lakukan hal menakjubkan setiap saat hingga kita terkadang kurang jeli menangkap makna sebenarnya. Untuk itulah, Ibu diciptakan sebagai hadiah terindah dalam hidup kita.

Yogayakarta, 3 Januari 2018