Mas Gagah
Mas Gagah

Lecturer, Reseacher, Writer, and Runner Pernah Sinau di Magister Kajian Budaya, Media, dan Islam (UIN Ciputat) https://dosenbaper.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Penjajahan Budaya Melalui Anime Jepang, Dari Dragon Ball hingga Naruto

8 Juli 2018   10:40 Diperbarui: 8 Juli 2018   11:29 1360 2 3
Penjajahan Budaya Melalui Anime Jepang, Dari Dragon Ball hingga Naruto
zerochan.net

Jika menyebut nama Jepang tentu kita harus menunduk takzim dengan prestasinya dalam bidang sains teknologi. Jepang merupakan ras sipit yang menorehkan sejarah mengagumkan hingga sekarang. Pernah luluh lantak oleh bom atom dua kota yaitu Hirosima dan Nagasi, perlahan bangkit menjadi bangsa yang kuat.

Pada tulisan ini akan sedikit membahas penjajahan Jepang melalui film Anime. Ada sisi lain dari budaya Jepang yang tidak perlu dicontoh misal Jepang merupakan negara dengan produksi film porno yang mendominasi dunia. Di sisi lain Jepang merupakan bangsa yang dulu juga pernah menjajah Indonesia lebih kurang 3,5 tahun. Semua tentang Jepang memiliki dua sisi yang berlawanan yaitu pernah menjajah sekaligus negara yang kita contoh kemajuan teknologinya.

Bagi orang-orang lahir dan tumbuh dari tahun 90-an mungkin mengenal film anime misalnya Dragon Ball dan Doraemon dll. Ada juga film anak yang bukan anime tetapi sangat populer yaitu Satria Bajar Hitam RX, Power Ranger, dan Ultraman Seven. Kemunculan film anak dan anime ini dimulai dengan adanya TV hitam putih di Indonesia.

Seingat saya, mulai menonton film tersebut dengan menumpang di rumah tetangga. Anak-anak seumuran saya waktu hari minggu berkumpul di rumah tetangga untuk menonton film anak tersebut. Film buatan Jepang tersebut menjajah secara ideologis kehidupan masa kecil kami yang lahir dan tumbuh pada tahun 90-an.

Film Jepang yang dulu saya nonton, sekarang semakin banyak jumlahnya dan tetap menjajah kehidupan anak-anak Indonesia. Film Dragon Ball Super yang merupakan sekuel dari Dragon Ball tahun 90-an ini masih tayang. Saya pun masih sangat suka menonton film anime ini. Selain Dragon Ball Super ada film favorit saya yang lain yaitu Naruto, Boruto, dan One Piece, dan lain-lain.

Mungkin bukan hanya saya yang suka film-film tersebut, sebagian orang dewasa dan anak-anak sangat menggemari film anime Jepang. Berbagai film anime yang dibuat ini menjadi representasi budaya masyarakat Jepang. Melalui film anime, Jepang membuat hegemoni kekuasaan dalam pembentukan budaya dan ekonomi politik dunia dan khususnya Indonesia.

Film Jepang yang kita lihat dan ditonton oleh anak-anak tersebut secara tidak langsung menyebarkan virus budaya yang menjadi representasi masyarakat Jepang. Secara perlahan dan pasti Jepang menjajah bangsa Indonesia melalui budaya yang dikonstruksi lewat film Anime.

Film Dragon Ball misalnya merepresentasikan mitos yang terkadang tidak masuk akal. Mitos ini hampir secara pasti menjadi nilai jual dalam film anime tersebut. Sebagai contoh adalah Son Goku yang pernah mati yang kemudian dihidupkan kembali, hal ini adalah mitos yang menyesatkan.

Jika di dunia nyata sampai sekarang, mungkinkah ada orang mati bisa hidup kembali? Mitos yang lain misalnya adalah tentang Dewa Naga Senron yang bisa mengabulkan berbagai keinginan. Orang yang berhasil mengumpulkan tujuh bola naga milik Senron ini akan bisa meminta apapun. Bahkan Dewa Naga Senron dapat memberikan kehidupan abadi bagi orang yang berhasil mengumpulkan tujuh bola dragon ball tersebut.

Secara keseluruhan film Dragon Ball ini isinya adalah mitos yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Tetapi melaui film anime inilah mitos direpresentasikan sehingga kadang mitos menjadi bagian dari hidup kita.

Film Naruto juga sejalan dengan anime Dragon Ball yang isinya hanya mitos. Film Naruto ini juga berisi dengan budaya kehidupan dewa yang direpsentasikan sebagai tuhan. Dalam film Naruto misalnya orang-orang yang sudah mati dihidupkan kembali untuk diajak berperang. Hampir secara keseluruhan film Naruto adalah isinya mitos yang tidak cocok dengan budaya timur.

Maka pada hari ini, anak-anak Indonesia penggemar film anime Jepang, mau tidak mau menjadi konsumen budaya Jepan yang tidak produktif. Saya menyebutnya sebagai "Penjajahan Budaya Melalui Film Anime". Anak-anak kita menjadi geger budaya Jepang yang dikonsturksi lewat anime.

Tidak hanya dijajah lewat budaya tentunya, film anime Jepang ini merupakan bagian dari industri media massa. Dari sudut pandang lain film anime Jepang ini menjajah kita melalui ekonomi politik. Melalui film anime ini, Jepang mendapatkan keuntungan ekonomi yang jumlahnya tidak sedikit. Secara politik tentu Jepang juga medominasi pengaruhnya dengan menggunakan film anime.

Jepang memang menjajah kita melalui film Anime sebabanya bangsa kita memang miskin kreativitas. Kita belum mampu menciptakan film anime yang dibuat oleh Jepang. Bangsa kita terlalu malas untuk mebuah visi pendidikan yang disiplin seperti bangsa Jepang. Hal buruknya kita hanya menjadi bangsa konsumen dari produk film anime Jepang.

Berhari-hari kita menunggu film anime Jepang diputar di media massa. Bahkan saya sendiri pernah geger saat film Naruto dan Dragon Ball tidak tayang pada sebuah minggu. Sepertinya hidup saya tidak dapat dilepaskan dari menonton film anime Jepang.

Semoga bangsa kita mau terus belajar agar kelak tercipta film anime produk dalam negeri. Tentu anime yang sesuai dengan budaya kita yatiu budaya nusantara. Jika hal itu terjadi maka kita bisa lepas dari penjajahan anime Jepang secara budaya dan ekonomi politik.