Fathan Muhammad Taufiq
Fathan Muhammad Taufiq pegawai negeri sipil

Pengabdi petani di Dataran Tinggi Gayo, peminat bidang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Agroklimatologi

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Minim Inovasi, Pemanfaatan Dana Desa Belum Optimal

21 November 2018   12:56 Diperbarui: 22 November 2018   07:03 1625 5 0
Minim Inovasi, Pemanfaatan Dana Desa Belum Optimal
ilustrasi: thinkstockphotos

Sudah hampir 4 tahun Anggaran Dana Desa (ADD) diluncurkan oleh pemerintah, namun sampai saat ini sasaran penggunaan dana desa tersebut masih jauh dari harapan. Pengurangan angka kemiskinan, penurunan tingkat pengangguran, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pemerataan pembangunan sampai tingkat perdesaan dan mendorong kemandirian desa yang menjadi tujuan utama peluncuran dana desa ini, capaiannya masih sangat rendah. 

Masih tingginya angka kemiskinan, bertambahnya anak-anak pengidap stunting, masalah pengangguran yang belum tertangani dan belum adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat desa secara signifikan, adalah beberapa indikasi belum optimalnya pemanfatan dana desa.

Minimnya pengetahuan aparatur desa tentang pengelolaan dana desa, lemahnya sistim perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan dana desa, menjadi salah satu penyebab yang ditengarai menjadi muasal belum optimalnya pencapaian tujuan pemanfaatan dana desa. Padahal keberadaan dana desa ini mestinya bisa menjadi stimulant untuk memunculkan potensi desa yang bisa meicu peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan.

Menyadari berbagai kelemahan tersebut, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sejak tahun 2017 lalu mulai menggulirkan Program Inovasi Desa (PID). 

Melalui program ini, diharapkan akan muncul inovasi dan pengelolaan pengetahuan secara partisipatif, sehingga pemanfaatan dana desa benar-benar efektif, efisien dan tepat sasaran sesuai dengan potensi sumberdaya yang ada di desa tersebut. Program Inovasi Desa juga merupakan bentuk dukungan kepada desa agar lebih efektif dalam menyusun perencnanaan dan penggunaan dana desa dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Secara struktural, program inovasi desa ini dikelola oleh Tim Inovasi Kabupaten (TIK) yang berperan untuk melakukan pembinaan, identifikasi, inventarisasi, verifikasi, capturing dan validasi terhadap inovasi yang ada di perdesaan. Selain itu TIK juga memiliki fungsi untuk membangkitkan inovasi baik yang berasal dari gagasan masyarakat desa yang bersangkutan maupun yang berasal dari replikasi atau adopsi dari inovasi yang telah dikembangkan oleh desa lainnya. 

Gambar 1, Kegiatan Orientasi Pengelolaan Pengetahuan Inovasi Desa Provinsi Aceh (Doc. FMT)
Gambar 1, Kegiatan Orientasi Pengelolaan Pengetahuan Inovasi Desa Provinsi Aceh (Doc. FMT)
Tim Inovasi Kabupaten juga bertugas melaksanakan Bursa Inovasi Desa (BID) yang mengakomodir inovasi-inovasi yang telah muncul di desa-desa dalam kabupaten itu serta menampilkan inovasi yang telak dilaksanakan oleh desa-desa di kabupaten lain yang bisa dijadikan model replikasi inovasi desa bagi desa-desa dalam kabupaten tersebut.

Pemprov Aceh Gelar Orientasi PPID
Tim Inovasi Kabupaten sebagai pengawal program inovasi desa, memiliki 2 organ utama yang disebut kelompok kerja (Pokja) yaitu Pokja Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa (PPID) dan Pokja Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD). 

Dalam hal pengembangan inovasi di perdesaan, peran Pokja PPID lebih dominan, sementara Pokja P2KTD berperan sebagai penyedia data dan perangkan yang dibutuhkan dalam pengembangan inovasi desa. 

Namun meski sudah berjalan hampir 2 tahun, peran PPID juga belum optimal, karena sosialisasi tugas dan fungsi PPID juga belum optimal, sehingga masih sering terjadi salah tafsir atau kekeliruan dalam penjabaran program inovasi desa ini.

Terkait dengan peran PPID dalam program inovasi desa di provinsi Aceh, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DPMG) belum lama ini menggelar Orientasi Bagi PPID dari seluruh kabupaten/kota di wilayah provinsi Aceh. 

Kegiatan yang berlangsung selama sepekan dari tanggal 9 sampai 16 November 2018 ini diikuti oleh seluruh PPID dari 23 kabupaten/kota se Aceh dimana masing-masing kabupaten/kota mengirimkan 5 perwakilan Pokja PPID .

Orientasi PPID ini merupakan bagian dari kegiatan pra Bursa Inovasi Desa (BID) yang akan digelar paling lambat pada akhir bulan November 2018 ini di masing-masing kabupaten/kota. 

Kegiatan ini dipandang perlu karena Pokja PPID melibatkan stake holder lintas sektoral seperti dari unsure Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas PUPR, Dinas Kominfo dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa/Gampong/Kampung di setiap kabupaten/kota dan dibutuhkan persamaan persepsi dalam mengawala program inovasi desa ini. Kegiatan orientasi ini merupakan agenda dari Kemndes PDTT yang juga dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia.

Dalam orientasi ini dihadirkan nara sumber dan fasilitator baik dari Kementerian Desa PDTT maupun Tenaga Ahli dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong provinsi Aceh. 

Materi yang disampaikan dalam kegiatan orientasi ini juga sangat detil, yaitu menyangkut semua seluk beluk pengelolan program inovasi desa, sehingga seluruh peserta diharapkan mampu menguasai seluruh aspek program inovasi desa dan dapat menjabarkan serta mengimplemplementasiannya di daerah masing-masing.

Desa butuh inovasi
Ketika menutup kegiatan orientasi yang digelar di Hotel Oasis Banda Aceh ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong Aceh yang diwakili oleh Sekretaris Dinas, T. Rusdi, SP, M Sc mengungkapkan bahwa ada 4 unsur utama yang menjadi obyek dalam pengembangan inovasi desa ini yaitu Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia, Peningkatan Ekonomi Masyarakat, Pengembangan Kewira Usahaan dan Pembangungan Infrastruktur yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat desa.

"Selama ini penggunaan dana desa hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur yang terkadang tidak begitu dibutuhkan masyarakat, itulah sebabnya perlu sentuhan inovasi agra pemanfaatan dana desa ini bisa optimal dan menyentuk seluruh aspek kehidupan masyarakat serta memberi dampak pada peningkatan kesjahteraan masyarakat desa," ungkap Rusdi.

Lebih lanjut Rusdi mengharapkan para peserta orientasi mampu menjadi penggerak inovasi desa di daerah masing-masing, karena kondisi cultural masyarakat perdesaan khususnya di Aceh masih perlu didorong dan digerakkan untuk mampu melahirkn sebuah inovasi.

"Kegiatan seperti ini merupakan kesempatan langka dan sangat berharga bagi saudara-saudara sekalian, oleh karena itu kami sangat berharap dengan bekal pengetahuan yang didapatkan selama mengikuti orientasi ini, dapat saudara manfaatkan untuk menggerakkan dan mendorong lahirnya inovasi desa di daerah masing-masing, dengan lahirnya inovasi desa ini kita harapkan pemanfaatan dana desa akan lebih efektif, efisien dan tepat sasaran" lanjut Rusdi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2