Mohon tunggu...
Fathan Muhammad Taufiq
Fathan Muhammad Taufiq Mohon Tunggu... Administrasi - PNS yang punya hobi menulis

Pengabdi petani di Dataran Tinggi Gayo, peminat bidang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Agroklimatologi

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Hangatnya Aroma Therapy, Begadang Jadi Nyaman

7 November 2016   13:01 Diperbarui: 7 November 2016   15:13 59
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar 1, Pegelaran Seni Didong Gayo yang sering

Kota Takengon yang terletak di Dataran Tinggi Gayo boleh dikatakan sebagai salah satu kota terdingin di Indonesia. Berada di ketinggian rata-rata diatas 1.200 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh perbukitan yang masih banyak ditumbuhi pepohonan, kesejukan udara di kota ini terasa sangat “menggigit” dan “menusuktulang”, terutama pada malam hari dimana suhu udara hanya berkisar 13 sampai 16 derajat Celcius, lebih dingin dari ruangan ber AC.Tapi dinginnya udara malam di kota ini, tidak lantas membuat aktifitas masyarakat di malam hari kemudian terhenti, meski kadang kabut dan embun menyelimuti seluruh kawasan kota, namun geliat aktifitas malam hari tetap terlihat jelas disini.

Kafe-kafe dan warung kopi serta pusat jajan serba ada atau yang populer disebut “Rex”, masih tetap dipadati penggunjung bahkan sampai menjelang pagi. Secangkir kopi Gayo panas atau segelas bandrek ditambah dengan sepiring Mi Aceh yang kaya bumbu rempah, memang mmampu sedikit mengusir dinginnya udara malam di ibukota kabupaten Aceh Tengah ini. 

Geliat malam di kafe dan tempat mangkal lainnya semakin rame pada saat ada siaran langsung sepak bola kelas dunia atau Eropa, televisi layar lebar yang memang disediakan oleh para pemilik kafe, jadi daya tarik masyarkat untuk betah berlama-lama begadang disana. Begitu juga para peselancardunia maya, akan merasa nyaman duduk-duduk sambil browsing atau chatting memanfaatkan fasilitas WiFi gratis sambil tentunya menikmati kopi Gayo yang sudah mendunia itu.

Kebiasaan begadang masyarakat Gayo tidak hanya menjadi tren di kafe atau warung kopi, tapi juga terkait erat dengan tradisi atau kebiasaan masyarakat setempat. Dalam setiap acara resepsi adat keluarga seperti pesrta pernikahan, pesta sunatan/khitanan dan acara pemberian nama anak yang baru lahir atau yang disini dekenal dengan “turun mandi”, begadang semalaman selalu mengiringi acara-acara tersebut. Bahkan untuk acara pesta pernikahan, acara begadang ini bisa sampai dua tiga malam. 

Ini memang terkait erat dengan tradisi kekerabatan yang masih melakat erat dalam tatanan masyarakat disini. Resepsi atau yang dalam bahasa setempat disebut “sinte” dari salah satu keluarga, dianggap sebagai acaranya masyarakat sekampung, sehingga semua tetangga  “tumplek blek” disana mulai dari H-2 atau H-1 sampai H+1 mulai dari pagi sampai larut malam.

Kegiatan malam dalam “sinte”, selain diisi dengan do’a bersama dipimpn oleh imam atau ulama di kampung setempat, kemudian biasanya dilanjutkan dengan acara begadang yang diisi dengan permainan batu domino bagi para pria dan memukul “canang” (Gamelan khas Gayo) bagi ibu-ibu. Permainan batu domino atau yang oleh masyarakat disini disebut “atu dam” tentu menjadi kegiatan yang mengasyikkan, karena dalam permainan tersebut juga diselingi senda gurau dan candaan baik oleh para pemain maupun penunton yang mengitarinya. 

Tidak ada unsur judi disini, tapi ada hukuman bagi pemain yang kalah, misalnya disuruh berjongkok, dicoret wajahnya dengan endapan kopi atau “hukuman” lainnya yang memancing gelak tawa mereka yang berada disana. Permainan penuh canda inipun bisa berlangsung sampai dini hari pada malam mejelang hari H.

Gambar 2, Bermain Batu Domino, bagian dari begadang dalam acara hajatan di Gayo (Doc. FMT)
Gambar 2, Bermain Batu Domino, bagian dari begadang dalam acara hajatan di Gayo (Doc. FMT)
Acara begadang juga sering berlanjut pada malam berikutnya, apalagi jika tuan rumah juga menggelar kesenian tradisional “Didong Gayo” yang merupakan salah satu kesenian yang paling digemari disini. Didong yang merupakan seni adu syair berbahasa Gayo dan didendangkan oleh kelompok yang dipimpin oleh seorang “Ceh” ini memang hanya digelar pada malam hari. Biasanya dalam setiap pegelaran Didong selalu tampil dua kelompok atau yang dikenal dengan sebutan “kelop Didong” yang beradu kebolehan mengolah dan mendendangkan syair Gayo. Semakin terkenal kelop didong yang tampil, semakin banyak pula penonton yang rela menyimak pentas hiburan tradisional ini sampai menjelang pagi.

Bak pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, aku yang sedah puluhan tahun berinteraksi dengan masyarakat Gayo, akhirnya ikut larut juga dalam kebiasaan tersebut, bahkan sudah sejak awal mulai bergabung dengan masyarakat Gayo saat aku mulai menetap di Takengon lebih dari 30 tahun yang lalu.  Bermain batu domino atau atu dam, bahkan sekarang menjadi salah satu hobiku, dalam setiap hajatan yang digelar di kampung tempat tinggalku, kau nyaris idak pernah absen terlibat dalam permainan yang lama-lama makin mengasyikkan ini. 

Apalagi dalam acara seperti itu, suasana kekeluargaan antar tetangga menjadi semakin kental, jadi sangat enjoy aku menjalaninya. Menonton atau sekali;kali terlibat langsung sebagai “penepok” (tukang tepuk bantal) dalam pegelaran didong, juga sudah menjadi bagian dari kehidupanku bermasayarakat disini, bahkan meski tidak terlahir di daerah ini, aku juga sudah fasih mendendangkan beberapa syair Gayo, karena bahasa Gayo yang menjadi bahasa sehari-hari disini sudah lama aku kuasai.

Gambar 3, Begadang sambil menikmati masakan ikan
Gambar 3, Begadang sambil menikmati masakan ikan
Acara begadang juga tidak terbatas pada acara-acara adat keluarga saja, banyaknya teman dan komunitas yang kuikuti, juga sering membuatku harus sering ikut begadang bersama mereka, Malam minggu selalu jadi pilihan waktu buat bergadang bersama kawan-kawan atau komunitasku, kegiatan begadang seperti itu biasanya diisi dengan memasak dan makan bersama, ada kalanya memasak kari kambing dan sering juga memasak ikan dengan bumbu tradisional khas Gayo “Masam Jing” (asam pedas), uniknya mulai dari menyiapkan bumbu sampai memasak dan menyajikannya dilakukan oleh para pria. Dan sambil menunggu hidangan masak, bermain batu domino disertai senda gurau menjadi selingan yang mengasyikkan, disitulah rasa pertemanan dan persaudaraan terasa semakin lekat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun