Ahmad Muhammad
Ahmad Muhammad

Pengais sisa-sisa kearifan orang2 terdahulu yang hampir punah.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Michelle Boudewijn

8 Maret 2017   10:07 Diperbarui: 8 Maret 2017   10:25 209 1 0

Lama Michael berdiri berteduh di emperan toko kawasan Nonongan, Solo, menunggu hujan reda. Tiga jam berlalu seperti tak ada tanda-tanda hujan akan jeda barang sebentar. Rinainya lembut terbawa angin menembus pori-pori, bersama dingin menyergap sekujur tubuhnya. Lagi-lagi ia harus mengusir dingin dengan rokok yang tinggal beberapa batang. Ia hisap dalam-dalam demi menghangatkan tubuh kurusnya. Satu. Dua. Tiga. Sampai hisapan rokok terakhir, hujan baru tampak menepi perlahan menyisakan gerimis yang angkuh.

Beberapa saat setelah benar-benar reda, Michael segera menghampiri motornya di tempat parkir dan bergegas tancap gas menuju bilangan Solo Baru, tepatnya  The Park Mall, di mana ia berjanji hendak nonton film menemani kekasihnya, Risna. Sayang, sampai di tujuan rupanya Risna sudah tidak menampakkan batang hidungnya. Di lobi, bahkan di antara antrian penonton yang berjubel beli tiket juga tak kelihatan.

“ Uh”, keluh Michael sambil membanting tubuhnya di salah satu sofa  yang agak lengang ditinggal pengunjung antri membeli karcis. Ia diam sejenak sambil duduk bermalas-malas dan berharap Risna masih ada di mall itu.

“ Cari siapa?” Tiba-tiba Michael dikagetkan oleh pertanyaan seseorang di dekatnya. Seorang perempuan berusia sekitar 40an tahun. Cukup cantik, meski ada yang aneh dari perempuan itu. Raut wajahnya yang putih pucat, seakan menanggung beban yang teramat sangat. Tidak hanya malam ini saja perempuan itu muncul dan terlihat olehnya. Tapi hampir setiap ia bertandang ke bioskop, perempuan itu selalu ada di antara kerumunan penikmat film yang lain. Dan seperti biasa, ia sendirian. Tak ada seorang pun menemaninya.

“ Cari temen. Barangkali udah pulang. Tadi janjian mau nonton bareng”, jawab Michael sembari menoleh ke kanan-kiri, berharap Risna masih berada di lobi bioskop yang terletak di kawasan pusat bisnis Solo Baru itu.

“ Anda sendiri nunggu siapa?”, tanya Michael kemudian, sambil sedikit menoleh memperhatikan perempuan itu.

Tak ada jawaban. Perempuan itu balik menatapnya dan meninggalkan senyum seraya beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Michael menuju antrean penonton hendak membeli tiket. Aneh. Mengapa perempuan itu selalu terlihat olehnya? Dan malam ini, keanehannya bertambah saat tiba-tiba menegur. Walau hanya perbincangan singkat, pertanyaan perempuan barusan memancing Michael untuk mencari tahu , siapa sebenarnya orang itu? Mengapa di setiap pertunjukan film nasional perempuan itu tak pernah ketinggalan?

Michael akhirnya harus menunda keinginannya menyaksikan film berjudul Bukaan 8 itu. Malam itu tiketnya sold out, hingga banyak yang kecewa dan terpaksa pulang. Ia sendiri tetap tak beranjak. Dan perempuan tadi tak lagi tampak olehnya. Mungkin sudah masuk. Atau? Michael menjadi semakin penasaran. Makanya ia memutuskan menunggu sampai pertunjukan film berakhir dan berharap dapat menemui perempuan misterius itu.

Biar tak suntuk menunggu , Michael coba menghubungi Risna, yang mungkin  sudah berada di rumah. Belum sampai memencet tombol nomer telpon, terdengar dering nada pesan masuk ponselnya. Dari Risna:

“ Mas sekarang sudah di mall ? Sori ya,  aku pulang. Aku nggak mungkin nunggu terlalu lama. Ini tidak sekali dua kali, mas! Nggak usah dibalas!”

“Hemm.” Michael menghela napas sambil merebahkan tubuhnya di sofa. Rupanya ia benar-benar marah kali ini. Sebenarnya Michael ingin balas pesan itu. Tapi demi menjaga perasaannya, ia ikuti saja maunya. Toh dua tiga minggu mereka biasanya udah baikan kembali.

Tak terasa waktu merayap begitu cepat. Dua jam sudah Michael menunggu. Saat film berakhir, ia segera bergegas menuju depan pintu keluar, memerhatikan satu per satu penonton yang keluar dari gedung studio satu. Sampai dengan penonton terakhir, perempuan itu tak dijumpainya. “Jangan-jangan ia nonton di studio dua?”, pikir Michael.  Terpaksa ia harus menunggu lagi. Dan sampai penonton terakhir di 4 studio yang ada keluar, perempuan itu tetap tak terlihat . Ia pun segera beranjak, coba menghadang di luar. Saat keluar dari area bioskop xxi, dari kejauhan tampak perempuan itu sedang berdiri di halte seberang mall menunggu taksi. Kali ini Michael tak ingin kehilangan jejak. Langsung saja ia bergegas menghampiri perempuan itu.

“ Nunggu siapa, mbak?” , tanya Michael mengagetkan kesendiriannya.

Perempuan itu menoleh, memandanginya. Bola matanya yang bulat seperti hendak menelan dirinya. Tak ada jawaban yang meluncur dari bibir perempuan itu yang beku membiru. Michael jadi canggung untuk bertanya lebih jauh. Tak lama berselang, taksi kuning menepi, menghampiri lambaian tangan perempuan itu. Sopir keluar dan mempersilahkannya masuk. Sebelum masuk, perempuan itu membuka dompet, mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Michael. Kartu nama. Sesaat berselang, taksi telah membawanya pergi menembus gelap meninggalkan berjuta tanya di kepalanya.

MICHELLE BOUDEWIJN

Jl. I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru, Jogja

Demikian nama dan alamat yang tertulis di kartu nama. Lama ia pandangi kartu nama itu. Jogja? Kenapa hanya untuk nonton harus jauh-jauh ke Solo? Dan nama itu? Sepertinya ia pernah melihat nama itu pada buku catatan pribadi almarhum ayahnya, yang meninggal beberapa bulan lalu. Nama yang meninggalkan misteri bersama kematian sang ayah.

***

Dua minggu sudah Michael tak pernah lagi melihat perempuan itu. Bahkan di setiap pertunjukan film bermutu, dimana  perempuan itu tak pernah melewatkan dan selalu ada diantara kerumunan antrean penonton, kini tak lagi tampak. Di mana gerangan dia? Sakitkah? Atau? Ah, Michael nggak mau menerka-nerka. Toh selama ini Risna yang tak pernah nelpon dan SMS, juga tak membuatnya cemas sedikitpun. Tapi perempuan itu lain. Bukan seperti Risna, pacarnya. Perempuan itu seperti menyimpan sesuatu rahasia yang bisa dibaca dari sorot sayu matanya. Michael akhirnya membuka kembali beberapa buku harian ayahnya, di mana ia pernah menemukan tulisan yang menyebutkan nama itu di beberapa catatan harian ayahnya. Tiba-tiba ia dikejutkan sebuah pesan yang ditujukan untuk dirinya,

“Nak, sungguh ayah merasa berdosa karena hingga hari ini tak pernah berterus terang, tentang siapa sebenarnya ibu kandungmu. Mama Sofia terlalu baik padamu, hingga ia pun menganggapmu sebagai anak sendiri, meski hatinya hancur karena pernah merasakan pahitnya dimadu. Hingga hari ini, ayah belum cukup siap menceritakan hal yang sebenarnya. Tapi ayah berjanji, kelak  akan menceritakan semua hal tentang siapa ibumu. Setidaknya tulisan ini bisa menjadi doa, dan menuntunmu menemukan orang yang pernah melahirkanmu.”

Solo, 2 januari 2017

Tak terasa airmata michael menetes membasahi buku catatan itu. Sekujur tubuhnya lemas tak berdaya. Sesuatu yang tak pernah disangka mendadak menghujam dadanya bagai palu godam. Lalu, siapa ibunya kalau bukan mama Sofia? Michael berpikir keras. Menerka-nerka, apakah perempuan yang mengambil hati ayahnya dan meremukkan Mama Sofia adalah ibu kandungnya? Ah, sejahat itukah dia? Atau ayahnya kah yang mengkhianati Mama Sofia? Atau ...

Ia baru sadar. Banyak hal yang tak dimengerti dari kehidupan pribadi keluarganya, terutama kehidupan orangtuanya. Selama ini ia lebih sibuk dengan kehidupan pribadinya di luar; baik di kampus maupun di komunitasnya.

Seharian berada di kamar ayahnya membuka semua  dokumen penting dalam almari, membawa dia tahu banyak hal, apa yang selama ini disembunyikan oleh kedua orangtuanya.

Ayahnya, Slamet Prasetyo Herlambang, atau yang lebih dikenal dengan SP Herlambang di kalangan sineas ibukota, merupakan sutradara film nasional yang telah malang melintang di dunia perfilman nasional. Menikah dengan Mama Sofia, yang juga berprofesi di dunia akting, 30 tahun lalu. Kebahagiaan pernikahan kedua sejoli ini sempat mengalami badai yang cukup besar hingga hampir membuatnya karam. Itu terjadi saat Mama Sofia divonis menderita tumor kandungan dan harus diangkat rahimnya demi menyelamatkan nyawanya. 

Pupus sudah harapan untuk bisa memiliki anak. Inilah awal petaka yang membuat rumahtangga orangtuanya sering menghadapi badai. Bagaimanapun godaan perempuan di dunia film yang glamour tak bisa dihindari. Hingga suatu hari seorang aktris muda bernama Maria Larasati, datang menemui Mama Sofia dan menceritakan soal hubungan gelapnya dengan sang sutradara, yang tak lain suami Mama Sofia. Tangisnya tak dapat dibendung meski masih bisa menahan kemarahan atas perempuan di depannya, yang ia kenal sebagai perempuan baik-baik. Demi menyelamatkan mahligai rumahtangganya, Mama Sofia akhirnya merelakan ayah  menikah lagi dengan perempuan itu. Sebuah keputusan berat yang harus diambil. Apalagi perempuan itu telah mengandung hasil hubungan gelapnya dengan sang suami.

Michael masih bengong menatapi langit-langit kamar mendiang ayahnya. Kebetulan hari itu Mama Sofia sedang ada kesibukan pengambilan gambar oleh salahsatu perusahaan pariwara, hingga ia bebas berada di kamar itu, menelanjangi misteri yang menyelimuti kehidupan masa lalunya.

Ia coba mengingat-ingat beberapa peristiwa sebelum sang ayah meninggal. Sepertinya tak ada yang aneh dari perilaku ayah, atau tanda-tanda tertentu yang menghubungkan sang ayah dengan misteri perempuan itu. Tiba-tiba di sela beberapa dokumen penting ayah yang ia buka, ada terselip struk belanja sebuah minimarket yang beralamat hampir sama dengan alamat pada kartu nama perempuan itu. Michael jadi ingat sesuatu, Yah, sehari sebelum  meninggal, ayahnya bersama Mama Sofia sempat berkunjung ke Jogja. Waktu itu ayah berpamitan hendak berziarah ke salahsatu sepupu Mama Sofia. Michael menganggap hal itu biasa-biasa saja dan ia anggap sambil lalu, meski biasanya mereka tak pernah berpamitan karena Michael sudah tahu aktifitas orangtuanya setiap hari.

Akhirnya, demi menguak rahasia dan misteri perempuan itu, hari itu juga Michael berangkat menuju Jogja, mencari  alamat  yang dimaksud dalam kartu nama itu. Ia tahu betul alamat itu di mana, karena sering berakhir pekan di kota pelajar. Rumah itu berada di kawasan yang dulu merupakan tempat tinggal para elite Hindia Belanda. Sampai di depan gereja Santo Agustinus, ia berhenti sejenak. Seperti ada yang menghentikan motornya. Benar saja. Tiba-tiba ada orang yang menghampirinya.  Perempuan paruh baya.

“ Anda mau menemui Mey?” tanya perempuan itu. Michael hanya mengangguk heran. Siapa perempuan ini? Sekilas mirip dengan yang ia jumpai di bioskop.

Perempuan itupun memberi isyarat agar Michael mengikutinya.

“ Kita kemana?”, Tanya Michael curiga.

“ Kau ikuti saja mauku”. Jawab perempuan paruh baya itu.

Mereka berjalan menuju sebuah rumah yang tak begitu  jauh dari tempat Michael berhenti. Perempuan itu kemudian menunjuk ke sebuah rumah tua yang ada di depan dan pamit meninggalkan dirinya. Belum beberapa detik ia mencoba menoleh ke arah perempuan paruh baya itu, ternyata sudah tak terlihat entah kemana.

Michael agak ragu dan canggung untuk masuk. Bangunan dengan arsitektur gaya Indies itu nampak tak terawat. Hampir seluruh dindingnya telah dipenuhi lumut. Belum lagi beberapa daun jendela yang kelihatan rapuh tanpa kaca. Setelah cukup lama pandangannya menyapu hampir seluruh sudut halaman rumah yang cukup luas itu,  ia memberanikan diri masuk ke dalam rumah tua yang tak terkunci itu. Rupanya ia agak kesulitan menerobos ke dalam karena dihadang tumbuhan rumput setinggi lutut. Setelah memandangi ruangan depan yang cukup luas, tiba-tiba tatapan michael terhenti pada sebuah lukisan yang membuatnya sedikit bergidik bulu romanya. Sosok perempuan berdarah indo yang setiap malam ia jumpai di bioskop itu  seakan melempar senyum ke arahnya. Tatapan matanya seperti meminta Michael mendekati dirinya. Dengan sedikit ragu, ia perlahan melangkah mendekati foto itu.

“Duaarr.” Mendadak suara dan kilatan petir menghentikan langkah Michael  mendekati foto itu. Tak lama kemudian diikuti hujan yang cukup deras. Mihael seakan terperangkap dan tak bisa banyak berbuat. Tak adanya lampu penerang membuat ia kesulitan bergerak menghindari hujan yang leluasa masuk karena sebagian atapnya tak lagi bergenting. Ia akhirnya memilih masuk ke sebuah kamar yang relatif aman tak tersentuh hujan.

Di dalam kamar itu ia terkesima. Dilihatnya banyak barang-barang pribadi yang cukup terawat. Juga ada beberapa buku yang menarik perhatiannya, hingga akhirnya perhatian Michael berhenti pada sebuah buku diary. Diusapnya sampul buku yang tertutup debu itu dan dibukanya perlahan. Ia baca dengan khidmat lembar demi lembar. Tak terasa angin yang masuk dari celah jendela membuainya hingga Michael terkantuk dan tertidur.

Dalam tidurnya, Michael kembali bertemu perempuan yang biasa dilihatnya di bioskop. Perempuan itu,  Michelle Boudewijn, yang tak lain seorang aktris terkenal berdarah Indo-Belanda, ternyata meninggal secara misterius. Setidaknya dalam buku diary Michelle Boudewijn, memberi informasi dan petunjuk sebab kematiannya. Ia memilih mengakhiri hidupnya karena tak lagi dikehendaki kehadirannya oleh seseorang. Tapi dalam mimpi Michael, ia nampak tersenyum bahagia menatap dirinya. Bahkan mencoba mendekat dan hendak memeluknya, sebelum digagalkan suara petir menggelegar yang membuatnya terjaga dari tidur.

Michael kaget luar biasa dibuatnya. Ternyata ia tidak sedang tertidur di kamar perempuan itu. Ia tertidur di atas  pusara sebuah pemakaman umum. Dan yang membuatnya shock berat, saat melihat dan membaca nama pada batu nisan tersebut,

R.I.P.

MICHELLE BOUDEWIJN

( Maria Larasati)

Lahir  :Yogyakarta, 23Agustus 1972

Wafat :Surakarta,28 Pebruari1995

Lama ia tepekur di pusara itu. Ia baru menyadari, bahwa perempuan yang sering dijumpainya di bioskop adalah Maria Larasati, nama lain dari Michelle Boudewijn, ibu kandungnya. Beginikah cara Tuhan mempertemukannya dengan sang ibu, sebagaimana janji ayah?