Ahmad Muhammad
Ahmad Muhammad

Pengais sisa-sisa kearifan orang2 terdahulu yang hampir punah.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lampu Teplok

18 Maret 2017   22:25 Diperbarui: 18 Maret 2017   22:36 266 5 2
Lampu Teplok
Sumber: davidhahasudungan.blogspot.co.id

Setengah jam setelah pulang dari jamaah salat subuh, Kyai Jamil kembali lagi ke musala menjalankan rutinitasnya, mulang ngaji. Membagi ilmunya kepada masyarakat dan memberi pencerahan kepada mereka akan nilai-nilai luhur ajaran agama.

Bagi kebanyakan masyarakat Desa Kalitan, Kyai Jamil bukanlah sembarang kyai. Ia tidak hanya dikenal karena ilmu dan kesalehannya, tapi ia juga sosok pribadi yang bersahaja dalam berpenampilan. Tidak heran bila setiap hari pakaian yang ia kenakan itu-itu saja.

Belum lagi pecinya, para jamaah menyebutnya kupluk beirut. Maklum, warna hitam kupluknya sudah memudar dan berubah menjadi kuning, seperti kitab kuning cetakan Beirut. Sarung yang dikenakan pun sudah tidak nampak lagi garis-garis motifnya. Satu lagi yang mungkin agak aneh bagi mereka yang belum kenal Kyai Jamil. Ia selalu membawa lampu teplok sebagai penerang bila sedang ngaji, walau sudah ada lampu listrik.

Pagi itu seperti biasa, tak ada sesuatu yang berubah pada pengajiannya. Yang dibaca masih Kitab Tafsir Jalalain. Entah sudah berapa kali kitab itu khatam dibaca. Buat Kyai Jamil, bukan soal kitabnya, tapi bagaimana menyampaikan pesan-pesan yang tersurat maupun yang tersirat dalam kitab itu, agar bisa dipahami dan diamalkan oleh mereka, jamaah pengajiannya.

Kalau kemudian ada yang tampak berubah, mungkin karena jamaah yang hadir makin hari makin banyak. Mereka tidak hanya datang dari perkampuingan sekitar. Tapi juga dari daerah yang cukup jauh. Tidak heran bila mereka datang menggunakan kendaran bermotor. Mereka juga datang dari berbagai latar belakang dan profesi yang beragam. Ada PNS, bakul pasar, anak sekolah, buruh pabrik dll.

Pengajian Kyai Jamil hanya berlangsung satu jam. Sekitar setengah tujuh biasanya sudah kelar. Mereka yang PNS langsung ngantor. Anak-anak sekolah juga langsung berangkat sekolah.

Begitu pula para bakul juga terus ke pasar. Mereka yang aktifitasnya jam delapan ke atas, biasanya langsung menyerbu warung-warung yang ada di sekitar mushala. Di tempat itu pula para jamaah dari berbagai latar belakang bersosialisasi. Meski dari bermacam-macam profesi,  komunikasi di antara mereka tetap nyambung dan seru.

“ Wah, pengajiannya Kyai Jamil makin hari kian ramai, ya..”, kata Cak Sidik, si empunya warung membuka pembicaraan.

“ Itu namanya ilmu yang berkah. Bermanfaat”, sambung Pak Agus menimpali, sambil mulutnya menari-nari menyantap pisang goreng.

“ Nggak seperti Mahfud. Lulusan pesantren malah jadi kernet”, ujar Samsul menyayangkan tetangganya itu.

“ Sudahlah. Kita kan nggak tau jalan hidup setiap orang”, tukas Mas Yanto ikut nimbrung pembicaraan mereka.

“ Iya, tapi kan aneh kalau pulang dari pesantren cuma jadi kernet”, balas Samsul memrotes.

“ Yang seperti itu berarti ilmunya sia-sia”, imbuh Pak Agus membela Samsul.

“ Ukuran manfaat atau tidak, nggak bisa dilihat dari pekerjaan seseorang. Kalian tau, kan? Bagaimana Kang Mahfud sehari-hari. Kalian juga lihat anak istrinya. Di kampung ini nggak ada keluarga yang paling ideal dan harmonis seperti keluarga Kang Mahfud”, jelas Mas Yanto panjang lebar.

Semua diam. Tak ada yang protes. Mereka maklum. keluarga Kang Mahfud memang paling harmonis, bahkan bila dibanding dengan teman sejawatnya, Kyai Jamil.

Obrolan merekapun berakhir menjelang pukul delapan.

000

Tidak biasanya Kyai Jamil meliburkan pengajiannya. Banyak jamaah yang datang dari jauh kecelik. Ia sudah ditunggu tamu di rumahnya sejak habis subuh. Sepertinya orang penting. Dari mobil yang dikendarai dan penampilan sang tamu, jelas bukan tamu sembarangan. Baru kali ini ia mau menerima tamu pada jam-jam ngaji. Mungkin tamu itu sangat istimewa bagi Kyai Jamil.

Ternyata tidak hanya sekali tamu itu datang. Tamu asing itu datang hampir tiap hari pada jam yang sama. Dan anehnya, Kyai Jamil lebih mengorbankan jamaah ngajinya daripada menyuruh sang tamu menunggu sampai pengajian kelar.

Perubahan mulai benar-benar nampak ketika Kyai Jamil mengumumkan pada jamaah majlis taklimnya, bahwa jadwal ngaji dirubah tidak tiap hari, tapi setiap selapan hari atau 35 hari sekali menurut hitungan pasaran jawa. Perubahan tersebut tak ayal membuat banyak jamaah yang kaget. Mereka juga kecewa dengan perubahan yang terjadi pada diri sang kyai. Orang-orang terdekat beliau yang selama ini nguri-uri kegiatan majlis taklim juga turut menyayangkan tindakan Kyai Jamil.

“ Aneh. Mengapa Kyai Jamil tiba-tiba berubah seperti itu?”, tanya salah seorang jamaah yang datang dari jauh, setelah mendengar cerita dari Cak Sidik saat nongkrong di warungnya.

“ Orang di sekitar sini saja tidak tau penyebab perubahan itu. Nggak ada yang berani tanya sama beliau”, jelas Cak Sidik membalas pertanyaan orang itu.

“ Dan yang lebih aneh, ngajinya juga hambar. Nggak ngena di hati”, imbuh  Samsul yang nggak pernah absen nongkrong di warung Cak Sidik.

Ia termasuk orang yang paling kecewa dengan perubahan yang terjadi pada kyai Jamil. Kearifannya tak lagi nampak dari sikap dan cara dia menyampaikan petuah-petuahnya. Pesonanya pun mulai memudar. Aura yang selalu memancar dari raut wajahnya yang teduh, perlahan surut seperti ditelan senja.

Semua perubahan itu tetap disesali walaupun di sisi lain ada sesuatu yang positif. Musala yang sudah uzur dimakan usia, kini telah disulap Kyai Jamil menjadi masjid.

Walau baru mulai dibangun, masjid itu akan menjadi yang terbesar di daerah kaki gunung Merapi, setidaknya bila melihat maket dan gambar yang terpampang di balai desa. Rumah Kyai Jamil juga telah berubah total. Termasuk penampilan kyai sehari-hari.

Semua berubah. Lingkungan sekitar juga kecipratan berkah pembangunan yang dananya bersumber dari orang asing yang sering bertandang ke rumah Kyai Jamil. Tapi perubahan itu tetap tidak diamini oleh sebagian besar jamaah beliau. Hanya sebagian kecil saja yang beranggapan, perubahan itu sebagai hasil dari apa yang selama ini ditanam oleh Kyai jamil.

“Menurutmu, perubahan drastis ini pertanda apa, Cak?”, tanya Pak Agus pada Cak Sidik. Pak Agus sebenarnya termasuk orang yang melihat perubahan itu dari sisi positif. Cuma karena banyak orang yang menyayangkan hal itu, ia jadi ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi.

Cak Sidik hanya diam menggeleng. Ia sebenarnya tak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Ia hanya menyesal warungnya tidak lagi seramai dulu. Sepi, seiring dengan vakumnya kegiatan pengajian Kyai Jamil. Pengajian yang diselenggarakan kini jauh berbeda dari biasanya. Pengajian hanya diselenggarakan selapan sekali. Belum lagi jamaah yang datang, orang-orang asing yang tak mereka kenal, terkesan ekslusif dan menutup diri.

Jamaah setianya yang dulu rutin mengikuti pengajian, satu per satu pergi meninggalkan kyai pujaannya. Sebagian dari mereka memilih ngaji sama Kang Mahfud, yang sekarang menyempatkan ngaji seminggu sekali di rumahnya.

Semua telah berubah. Penampilan Kyai Jamil 180 derajat berubah menjadi sosok kyai kota yang necis. Walau pakaian yang dikenakan tidak terlalu pantas, ia nampak tetap menikmatinya. Ia juga tak terlalu risau dengan perubahan sikap masyarakat terhadap dirinya. Juga mereka, para jamaah majlis taklim yang meninggalkan dirinya. Toh dia kini punya komunitas baru yang telah memberi banyak gelimang materi, yang tak pernah ia dapat sebelumnya.  Bahkan pada perkembangannya, rumahnya lebih sering dipakai kumpul orang-orang asing itu. Sedang kegiatan ngajinya lebih banyak dilakukan di luar. Dari mobil yang datang menjemputnya, pengundang kegiatan ngaji Kyai Jamil datang dari jauh.

Rupanya perubahan tidak hanya terjadi pada  Kyai Jamil. Kang Mahfud, si kernet angkot yang juga teman sejawat Kyai Jamil waktu di pesantren, mendadak berubah. Ia kini menjadi idola baru bagi masyarakat sekitar sejak membuka kegiatan majlis taklim di rumahnya.

Kegiatan ngajinya tiap pekan lambat laun berkembang pesat. Tapi ada yang tak berubah dari dirinya. Ia tetap sosok yang santun dan rendah hati. Yang paling mengagumkan adalah sikap dia terhadap Kyai Jamil. Ia mencoba bersikap bijak terhadap apa yang sedang terjadi pada karibnya waktu di pesantren itu. Saat banyak orang meninggalkan Kyai Jamil, ia menjadi satu-satunya orang yang rajin nyambangi dan tetap bergaul baik dengannya. Entah apa yang dibicarakan dua sejawat itu manakala sedang berbincang. Menurut rumor, Kang Mahfud sedang mendekati Kyai Jamil untuk kembali mulang ngaji seperti dulu.

Sore itu tiba-tiba ada pengumuman lewat pengeras suara di masjid. Juga lewat pamflet-pamflet yang tersebar di berbagai tempat. Isi pengumuman itu; Kyai Jamil hendak membuka kembali pengajian rutin yang telah ia tinggalkan selama ini. Berita  itu disambut gembira dan antusias oleh masyarakat. Kabar itu seakan membangkitkan kembali kerinduan mereka akan petuah-petuah sang kyai yang menyejukkan. Ternyata pendekatan yang dilakukan Kang Mahfud tidak sia-sia. Ia berhasil membujuk Kyai Jamil mau mulang ngaji seperti dulu. Ia juga yang jadi sponsor pelaksanaan kegiatan majlis taklimnya Kyai Jamil.

Sehabis subuh jelang pengajian dimulai, jamaah dari berbagai daerah datang berduyun-duyun. Mereka seperti hendak menumpahkan rindu setelah sekian lama kehilangan sosok kyai yang telah menuntun mereka menuju  perubahan hidup menjadi lebih baik. Yang telah memberi inspirasi pada sikap dan cara mereka dalam memahami hakekat hidup.

Walaupun masyarakat sangat merindukan suasana seperti dulu pada kyai idolanya itu, perubahan tetap tidak bisa dihindari. Kali ini pengajian tidak diselenggarakan di musala yang sedang direnovasi menjadi masjid, tapi di rumah kyai yang cukup mewah untuk ukuran masyarakat sekitar. Rumah yang dibangun hanya dalam hitungan bulan itu tak ubahnya seperti istana.

Para jamaah sudah tak sabar menunggu Kyai Jamil keluar dari kamarnya. Sekitar pukul setengah enam, Kyai Jamil muncul dengan menenteng kitab di tangan kirinya dan tak lupa tangan kanannya membawa lampu teplok. Mungkin ia ingin mengobati kerinduan jamaahnya dengan tetap membawa lampu teplok, meski cahaya lampu di rumahnya cukup terang.

Sesaat setelah duduk dan mengucapkan salam, ia mulai membuka kitab. Kitab baru rupanya. Bukan Tafsir Jalalain, seperti yang biasa ia baca. Tapi tafsir terjemahan terbitan baru. Aroma yang muncul dari baju yang dikenakan kyai juga menjadi sesuatu yang baru bagi para jamaah. Kang Mahfud, sang sponsor, duduk bersila di samping sahabat karibnya itu. Ia yang menyalakan lampu teplok sebelum pengajian dimulai.

“ Prang!!!”. Tiba-tiba seekor kucing berlari menabrak lampu teplok, memuntahkan minyak lampu dan dalam sekejap apinya membakar tempat itu. Kang Mahfud meraih Kyai Jamil dan menyelamatkannya. Sementara jamaah yang lain berhamburan keluar menyelamatkan diri. Kobaran api itu begitu dahsyat hingga melumat habis Rumah Kyai jamil. Rumah senilai milyaran rupiah itu ludes dilalap api.

Semua tertunduk lesu menyaksikan kemarahan api yang melahap habis rumah Kyai Jamil. Setelah api bisa dipadamkan, Kang mahfud menemani Kyai Jamil menuju puing-puing rumah untuk mengais barang-barang yang mungkin masih bisa dimanfaatkan. Sepertinya tak ada yang tersisa, selain lampu teplok yang masih bisa digunakan dan sebuah almari kuno, kenang-kenangan waktu masih di pesantren.

Perlahan Kyai Jamil melangkah, ditemani Kang Mahfud, mendekati almari kuno yang menjadi salahsatu benda terselamatkan dalam peristiwa nahas itu. Airmata Kyai Jamil menetes membasahi pipi penuh kesedihan. Ia kemudian memberi isyarat kepada karibnya untuk membuka almari kuno itu. Dengan sedikit gemetar Kang Mahfud membuka almari yang sangat dikenali itu. 

Tak disangka ternyata almari itu berisi Kitab Tafsir Jalalain, kupluk beirut, baju serta sarung yang dulu biasa dipakai Kyai Jamil. Hanya benda-benda itu yang tak tersentuh oleh api. Benda yang bertahun-tahun telah memberi pelajaran berharga bagi jamaahnya tentang makna kesahajaan dalam hidup. Benda-benda yang sesungguhnya telah menghidupi  dan menerangi jalan hidup Kyai Jamil menjadi lebih qana’ah, sumeleh dan nrima ing pandum.

Kyai Jamil tertegun. Ia baru menyadari kekhilafannya memutuskan meninggalkan umat demi godaan materi yang ternyata menipu dan tak mendatangkan kebahagiaan hakiki.

Sesaat kemudian ia menoleh ke balakang. Dilihatnya para jamaah pengajiannya masih terpaku seakan tak percaya atas apa yang terjadi. Dia begitu terharu atas kesetiaan mereka terhadap dirinya. Kesetiaan yang menjadi penanda, mereka lebih mampu menerapkan nilai-nilai yang diajarkannya.

Dalam suasana yang mencekam dan penuh haru, salah seorang jamaah mendekati Kyai Jamil dan menyerahkan lampu teplok yang masih terselamatkan meski kaca semprongnya telah pecah. Dipandanginya benda yang selama ini menjadi simbol penerang dalam hidupnya. Sambil mengelus-elus benda itu, Kyai Jamil berujar,

Sedulur-sedulur kabeh, besok pagi kita tetap mengaji sebagaimana biasa. Nanti yang ngaji bergantian, saya sama Kang Mahfud.”

“Alhamdulillah”, sahut para jamaah lega mendengar pernyataan guru ngajinya itu. Mereka kemudian saling berpelukan haru. Tak ketinggalan Kang Mahfud, yang tak mampu menyembunyikan keharuannya, memeluk karibnya erat-erat sambil menangis sesunggukan.  Seperti ada oase kebahagiaan yang kembali membasahi rohani mereka.