Mohon tunggu...
M. Suaizisiwa Sarumaha
M. Suaizisiwa Sarumaha Mohon Tunggu... Berakit-rakit dahulu. Aeru tebai aetu.

Hunt down the truth Founder & Coordinator Luahawara Young Community (LYC) Founder Komunitas Bale Ndraono (KBN)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Politik Cerdas, Bangsa Maju

4 Desember 2019   10:13 Diperbarui: 4 Desember 2019   23:16 0 0 0 Mohon Tunggu...
Politik Cerdas, Bangsa Maju
Dok. pribadi

Sesaat sudah usai pemilihan legislatif dan presiden, yang begitu heboh, seru bahkan menegangkan terutama para konstituen. Pilihan yang berbeda tak jarang membuat hubungan perteman bahkan kekeluargaan retak. Saling bully dan bisa merugikan materi bahkan kehilangan nyawa.

Belum juga hilang aroma hiruk pikuk politik itu, masuk pada pemilihan kepala desa. Inipun membawa warna yang kekuatan aromanya bak pemilihan kepala negara. Berbagai trik dan manuver dilakukan oleh cakades demikian juga konstituen tak kalah seru untuk membahas calon yang mereka jagokan. Namun, yang disayangkan ketika masih berproses sudah banyak mengorbankan harta benda bahkan nyawapun ikut melayang. Pertanyaannya "apakah suatu beban tanggung jawab dan atau murni ingin membangun daerah/desa/bangsanya?" Ini sebagai sebuah tuntutan bahwa perlunya manusia lebih dewasa dalam berpolitik.

Hal inipun juga belum usai...namun sesaat lagi akan ada pilkada serentak di beberapa kab/kota dan propinsi. Aromanyapun sudah tercium. Saling bermanuver baik secara langsung, spanduk, baliho dan media sosial. Baik bacalon apalagi konstituennya yang menjagokan jagoannya. Pertanyaan yang sama pula "benarkah bahwa ingin membangun masyarakat dengan segala jargon, slogan bahkan janji?" Semua itu kembali kepada masyarakat dalam kedewasaan menentukan pilihan.

Terlebih lagi aroma PRESIDEN yang masih jauh 5 tahun ke depan, manuver politik dilakukan dengan berbagai cara. Pekerjaan 5 tahun berjalan belum terlihat dan belum selesai tutup buku, seolah kita haus untuk memasuki tahun 2024. Masyarakat yang menjagokannyapun bagaikan terhipnotis seolah keberadaan pemimpin saat ini bukanlah pemimpin mereka (belum moveon). Akankah ini terus berlangsung? Kembali pertanyaan ini muncul. Mari kita jawab dalam diri kita masing-masing.

Politik adalah alat dalam membangun bangsa dan negara. Politik dari bahasa asalnya politeia artinya lurus, jujur, tidak belok, tidak berliku-liku, membawa ke arah yang baik, kebaikan dan lain sebagainya. Namun makna politeia telah berubah dan sering disebut politik busuk, buaya, asal bapak senang, ketidakjujuran, kelihaian dan lain sebagainya yang terkesan negatif.

Politeia bukan saja tentang politik itu sendiri melainkan menyangkut segala bidang kehidupan manusia. Dalam urusan pribadi/individu, urusan rumah tangga, urusan pemerintahan, urusan agama dan spiritualitas seseorang dipengaruhi oleh politik dan dunia pendidikanpun sebagai wadah pembentukan manusia menjadi manusia telah melibatkan politik yang begitu kental. Misalnya dalam hal pemilihan pimpinan perguruan tinggi demikian pula dalam menghasilakn output pendidikan. Semuanya adalah politik.

Di sinilah kedewasaan suatu bangsa dibentuk dan didewasakan agar mampu menjadi seorang politik(us) yang handal dan cerdas. Bukan pintar melainkan CERDAS. Cerdas diamanatkan dalam UUD 1945. Semoga politik bangsa inipun dijalankan dengan handal dan cerdas untuk kelangsungan hidup orang banyak, masyarakat, bangsa dan negara. Bukan pribadi, kelompok, kaum, golongan, organisasi apalagi bukan partai. Hal inilah yang perlu dipertanggungjawabkan oleh setiap individu/pribadi yang berada di bawah Pancasila dan UUD 1945 agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar, berdaulat, kuat dan maju serta cerdas.

Tuhan memberkati.

Semoga @MSS

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x