Mohon tunggu...
Maryam
Maryam Mohon Tunggu... Content Writer

Menuangkan pikiran lewat tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Trending "Indonesia Terserah", Antiklimaks Perang Melawan Corona?

18 Mei 2020   14:18 Diperbarui: 19 Mei 2020   21:03 139 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Trending "Indonesia Terserah",  Antiklimaks Perang Melawan Corona?
www.thejakartapost.com

Indonesia? Terserah!!!

Sebuah tulisan sederhana yang (seharusnya) menggugah banyak orang itu terpampang jelas di kertas yang dipegang seorang tenaga medis berpakaian hazmat. Entah siapa dan dimana foto ini diambil, tapi dalam waktu singkat kata-kata + foto ini viral di jagat maya, menjadi trending topik, dan mewakili suara hati siapapun yang masih peduli pada negeri ini, dan juga nasib para tenaga medis pada khususnya.

Ya, bisa dimaklumkan, jika foto tersebut terasa agak nyinyir dan menyindir warga negeri +62 terkait penanganan pandemi covid-19.

Memasuki hari-hari menjelang lebaran, semakin terasa bahwa jalanan semakin ramai, bahkan bandara dan mall kembali sesak. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Miris, melihat masih banyak yang mampu menembus check point PSBB, mengelabui polisi, bahkan menyebrang provinsi demi bisa mudik ke kampung halaman. 

Belum tulisan "Dilarang berkumpul" yang terkadang justru sejajar dengan titik kumpul massa itu sendiri. Jika hanya "menghindari lapar" alasannya, mungkin masih bisa diterima. Tapi bagaimana dengan mereka yang betul betul tidak urgent untuk berkumpul / berpergian keluar? Haruskah kita memaklumkan alasan "bosan di rumah"?

Orang-orang beraktivitas seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi, seolah jumlah kasus positif dan meninggal yang setiap hari di umumkan di tv hanyalah kumpulan angka statistika, dan bukan nyawa manusia yang awal tahun lalu masih baik-baik saja berkumpul dengan kolega.

Indonesia terserah!

Tentu menjadi kalimat pendek yang mewakili seluruh kekesalan dan kekecewaan yang dirasakan masyarakat yang selama ini taat aturan selama pandemi. Tidak terhitung berapa usaha yang tutup bahkan bangkrut, berapa pekerja yang di PHK, berapa psikologis yang nyaris gila karena betul-betul #dirumahaja hampir selama 2 bulan lebih lamanya.

Belum lagi tenaga medis, staff/pekerja rumah sakit yang terpaksa terpisah dari sanak keluarga karena harus mengurus pasien covid. Semua lelah, semua ingin menyerah, tapi rasanya tetap saja kaget ketika semua tagline "Perang Melawan Corona yang susah payah digaungkan berbagai pihak itu justru dimentalkan dengan ajakan "Berdamai dengan Corona" oleh penguasa negeri sendiri.

Kalaulah sang pemimpin memberikan optimisme sedikit lagi untuk tidak mengibarkan bendera putih, masih ada harapan bahwa bangsa pejuang ini pasti akan berjuang sampai titik darah penghabisan, sebagaimana yang telah dilakukan nenek moyang  terdahulu saat melawan penjajah.

Memang benar, lockdown, isolasi, social distancing/ phisycal distancing atau apalah itu namanya bukanlah hal yang cocok dengan kultur kita. Kultur bangsa yang senang bersilahturahim dan berkumpul bersama. Karenanya ditangah pandemi yang melanda ini, masih banyak orang yang kumpul bersama, reuni di luar, ngabuburit seperti biasa, bahkan mengakali setiap aturan yang ada. Seolah virus Corona Wuhan ini memang tidak ada harga dirinya di mata warga +62.

Apakah tulisan ini ingin mengkritik pihak tertentu? Rasanya sudah tidak. Saat ini kritik hanya akan membuat panas telinga, dan dianggap angin lalu belaka.

Jika memang ekonomi adalah satu-satunya tujuan, bisakah kita memberi makan mereka yang telah disusul kematian? Ada satu pertanyaan menggelitik nurani siapapun yang masih bernurani:

Bisakah kita mempertanggungjawabkan kematian mereka yang wafat karena kelalaian massal ini?

VIDEO PILIHAN