Mohon tunggu...
Siti Marwanah
Siti Marwanah Mohon Tunggu... Syukuri apa yang ada

Allah tahu yang kita butuhkan

Selanjutnya

Tutup

Novel

Rasa (Part 10)

21 November 2020   21:04 Diperbarui: 21 November 2020   21:06 20 1 0 Mohon Tunggu...

Semilir angin bertiup sepoi-sepoi. Nampak ranting pohon melambai-lambai terkena tiupan. Kicau burung bersauhut-sahutan dari atas pohon akasia di pinggir jalan. Udara masih terasa dingin, namun Aisyah sudah tampak rapi. Hari ini dia janji akan bertemu dengan beberapa mahasiswa yang ingin konsultasi terkait dengan tugas yang diberikan oleh pak Faqih sebelum jadwal perkuliahan dimulai.

Dia mengayuh sepedanya diantara ramainya kendaraan yang lalu lalang. Halaman kampus masih sepi, hanya tampak beberapa orang saja saat gadis manis itu memasuki area parkir kampus.

"Assalamualikum kak," ucap salah seorang dari lima mahasiswi yang sudah menunggunya.

"Waalaikumsalam udah lama," tanya Aisyah.

"Ndak juga, sekitar 10 menit yang lalu," ungkap gadis berjilbab biru yang duduk persis di samping Aisyah.

Setelah berbasa basi keenam mahasiswi itu tampak asyik berdiskusi membahas tugas yang djberikan pak Faqih sebelum dia berangkat ke luar kota untuk mengikuti pelatihan.

Diskusi itu ditutup saat Aisyah melihat mobil Avanza warna silver memasuki halaman parkir kampus. Seorang wanita paruh baya keluar dari mobil dan menuju ruang administrasi.

Ibu Husna salah satu dosen pengampu mata kuliah Biopsikologi yang terkenal killer itu segera menuju ruang kelas setelah dia keluar dari ruang administrasi. May yang baru saja nongol langsung menarik tangan Aisyah. Kedua gadis itu mempercepat langkah mereka menuju ruang kelas sebelum Ibu Husna masuk kesana. Maklum kelas akan ditutup jika Bu dosen yang masih gadis itu sudah berad

tidak akan  memperbolehkan mahasiswa yang datang terlambat dengan alasan apapun untuk mengikuti perkuliahan.

Kursi deretan tengah dan belakang sudah terisi, tinggal deretan depan yang masih kosong. May dan Aisyah akhirnya memilih duduk di dekat pintu keluar. Suasana kelas hening begitu melihat sosok Bu Husna dari balik kaca jendela. Wanita bertubuh gemuk dengan kaca mata tebal itu sudah berdiri di depan pintu. Beberapa buku tebal bertenger dipelukan tangan kirinya.

"Selamat pagi," ucapnya dibarengi tatapan tajam, sembari menggeser posisi kaca matanya mendekati batang hidung. Matanya menilik satu persatu seolah mencari seseorang diantara puluhan mahasiswa yang ada di sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x