Mohon tunggu...
Siti Marwanah
Siti Marwanah Mohon Tunggu... Syukuri apa yang ada

Allah tahu yang kita butuhkan

Selanjutnya

Tutup

Novel

Rasa (Part 5)

12 Oktober 2020   08:45 Diperbarui: 12 Oktober 2020   08:47 24 3 0 Mohon Tunggu...

Ring....ring....ring....
Terdengar handpone Aisyah berbunyi.
Ponsel sederhana merk Nokia tergeletak di atas meja.

Aisyah menutup buku yang dibacanya dan langsung mengambil benda kecil tersebut.
Ada kekhawatiran muncul di benak gadis itu saat melihat nomer yang tertera di layar.
Ditariknya napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya.
"Apakah Parhan sakit, karena tadi saya ajak jalan-jalan," batin Aisyah.

"Assalamualaikum, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Aisyah dengan suara bergetar.
"Waalaikum salam, terdengar jawaban seorang wanita.

"Maaf ibu mengganggumu.
Saya hanya ingin menanyakan tentang prilaku Parhan tadi saat diajak keluar. Ibu melihat dia mulai membiarkan kamarnya terbuka, yang biasanya terkunci dari dalam. Saat makan malam, dia tampak lahap." Ucap Bu Nely dengan suara yang terdengar bahagia.

"Maaf Bu, saya takut dia sakit atau lelah. Tadi saya hanya mengajaknya ke Masjid yang tidak terlalu jauh dari komplek rumah ibu."

Apakah kamu punya waktu besok?
muka gadis itu tampak pucat, dia takut terjadi sesuatu pada putra Bu Nely. Aisyah terdiam sejenak.
"Hallo, bagaimana nak Aisyah? suara Bu Nely menyadarkan gadis yang duduk bersandar di kursi.

"Kebetulan pagi saya ada kuliah sampai siang Bu. Apakah Parhan sakit? Tanya Aisyah masih dengan perasaan khawatir.
"Bukan, Parhan sehat-sehat saja. Dia hanya minta agar menelponmu dan bisa
mengajaknya keluar seperti tadi.

Kalau nak Aisyah tidak keberatan, ibu minta tolong agar menemani Parhan selama seminggu ini saja. Kalau dia sudah normal, kita kembali kepada kesepakatan awal jadwal lesnya 3 kali seminggu." Ungkap Bu Nely dengan suara memohon.

Suara seorang ibu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata melihat perubahan anaknya yang baginya sangat luar biasa. Hal ini tidak bisa dibayar dengan apapun sehingga dia rela memohon kepada seorang gadis yang cocok sebagai anaknya. Tapi itulah gambaran hati seorang ibu, dia akan melakukan apapun untuk buah hatinya.

Aisyah bernapas lega setelah tahu maksud Bu Nely menelponnya.
"Nggih Bu, insyaallah besok saya usahakan selesai kelas, seperti waktu yang tadi," jawab Aisyah lega. Wajah manisnya tersungging tipis.

*****

Cuaca masih terasa panas saat Aisyah sampai di depan rumah megah dengan dinding tinggi ibarat tembok berlin. Terdengar suara langkah mendekati gerbang sesaat setelah gadis itu memencet bel yang ditempel di tiang pintu gerbang.  

"Neng Aisyah, silahkan masuk! Ibu sudah menunggu dari tadi," ucap lelaki yang berseragam lengkap bertuliskan satpam di baju yang digunakan. Sambil membuka pintu gerbang lebih lebar.

"Terima kasih pak," sahut Aisyah sembari mengganggukan kepala.
Gadis manis itu langsung masuk dan memarkir sepedanya di pojok halaman. Kendaraan yang selalu setia mengantar gadis bermata sipit itu kesana kemari.

"Tas ransel bergelayut di punggung, jilbab warna hijau magenta sangat serasi dengan baju gamis motif bunga-bunga. Sambil merapikan baju dia berdiri di depan pintu.
"Assalamualikum," ucap Aisyah.
"Waalaikumsalam," terdengar suara seorang wanita dari dalam.

Pintu besar dobel terbuka. Tampak seorang wanita berkulit putih bersih keluar sambil menyapa.
"O, nak Aisyah, silahkan masuk!" Sebentar ibu panggilkan Parhan dulu," ucap Bu Nely sambil berlalu setelah mempersilahkan Aisyah duduk di sofa.

Tidak membutuhkan waktu lama saat ibu dan anak sudah berada di depan Aisyah.
"Parhan mau di ajak kemana hari ini?" Tanya Bu Nely.
"Rencananya mau ke stasiun kereta api Bu." Jawabnya singkat.

Suara riuh sudah terdengar saat mereka baru memasuki stasiun. Bumi terasa bergetar begitu ada kereta api lewat. Terlihat orang mondar mandir di dalam stasiun sambil membawa barang bawaan. Pedagang asongan menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang ditemuinya. 

Bangku yang berjajar dipenuhi oleh penumpang yang sedang menunggu keberangkatannya ke kota tujuan, sambil menjaga barang bawaan masing-masing. 

Di sisi lain terlihat penumpang sambil berdiri sedang asyik dengan gawainya. Di pojok ruang tunggu tampak beberapa orang terlelap sambil duduk di kursi.

Mata Aisyah tertuju pada seorang anak laki-laki yang seusia dengan Parhan. Dia duduk di lantai keramik. Tubuh kurusnya dibalut kulit kecoklatan terpapar matahari, kakinya berselonjor, punggung bersandar di tembok. 

Tangan kanan mengipas-ngipas tubuhnya menggunakan topi terbuat dari bambu. wajahnya tampak letih.  Pandangannya tidak lepas dari orang yang lalu lalang di depannya,  sambil sesekali menawarkan dagangannya.

Aisyah menarik tangan Parhan dan mengajaknya duduk di samping anak tersebut sembari membeli dua botol air mineral. Aisyah menyodorkan satu botol kepada Parhan. Gadis manis bermata sipit itu mencoba menggali kondisi remaja di depannya.

"Siapa namamu dek?" tanya Aisyah sambil berusaha membuka tutup botol air mineralnya.
Sambil memperbaiki posisi duduknya Anak tersebut menjawab "Malik kak."
"Sudah lama berjualan di sini?"
"Sejak bapak saya meninggal tiga tahun lalu."
"Memang kamu tidak sekolah?"
"Sekolah kak, kebetulan saya masuk pagi. Siang baru saya mulai jualan sampai menjelang Magrib."
"Kalau boleh tahu, kamu sekolah dimana dan kelas berapa?
"Di SMP Negeri 6 Bajur, kelas delapan kak."

Percakapan antara Aisyah dan Malik menggambarkan kondisi keluarga pemuda yang masih duduk di bangku SMP itu sangat memprihatinkan. Dia adalah anak paling besar. Ibunya sakit-sakitan sementara dua adiknya masih duduk di bangku sekolah.

Namun Malik tidak pernah putus asa. Dia bersama kedua adiknya membantu sang ibu, dengan berjualan di stasiun kereta api setelah pulang sekolah. Sebelum Magrib kakak beradik itu pulang membawa hasil jualan yang langsung diserahkan kepada ibu mereka.

Mata Parhan selalu tertuju kepada laki-laki di  yang seusia dengannya. Dia mendengar dengan seksama percakapan antara Aisyah dan Malik.
Sesekali terdengar helaan napas panjang. tatapan iba tergambar di bola matanya. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulut remaja berkulit putih. Dia mencoba membayangkan jika dia berada dalam posisi Malik.

Tidak terasa dua jam sudah mereka berada di stasiun kereta api. Cuaca sudah mulai gelap saat Aisyah mengajak Parhan meninggalkan stasiun. Aisyah meminta Parhan yang memboncengnya. 

Bukan tanpa alasan. Aisyah ingin menanamkan rasa menghargai. Agar dia bisa merasakan dan tahu bagaimana lelahnya jika harus bekerja dan mengayuh sepeda.

Disisi lain Parhan menikmati kegiatan demi kegiatan yang sudah direncanakan Aisyah. Dia bisa belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya dan bagaimana mereka bisa menghadapi semua rintangan hidup agar bisa tetap bertahan.

VIDEO PILIHAN