Mohon tunggu...
Siti Marwanah
Siti Marwanah Mohon Tunggu... Syukuri apa yang ada

Allah tahu yang kita butuhkan

Selanjutnya

Tutup

Novel

Durgaku di Rida-Mu (The End)

21 Mei 2020   11:01 Diperbarui: 21 Mei 2020   10:59 27 2 0 Mohon Tunggu...

Hari ini aku dan kak Fajar berencana akan membersihkan rumah dinas yang akan kami tempati besok, sambil membawa barang-barang seperlunya dulu setelah dia pulang kantor.

Setelah mengganti pakaian dinas keki yang digunakan ke kantor. Kami langsung berangkat ke sana.

Rumah merangkap kantor dengan bentuk bangunan memanjang didominasi cat warna cream yang terdiri dari dua bagian. Sebelah timur terdiri dari tiga ruang. Ruang administrasi, ruang pemeriksaan, ruang tindakan digabung dengan ruang obat serta kamar mandi pasien yang digunakan sebagai tempat melayani pasien.

Sementara bangunan bagian barat terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, ruang tengah dan kamar mandi dan dijadikan sebagai tempat tinggal bagi petugas Pustu.

Halaman Pustu yang ditumbuhi dengan beberapa pohon mangga dan jambu membuatnya terlihat rindang. Ditambah dengan beberapa bunga bigenvile, palm hias serta bambu hias menjadikannya terlihat asri. Ditengah halaman terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk duduk santai.

Kak Fajar membersihkan sampah dedaunan yang berserakan dihalaman, sementara aku membersihkan bagian dalam rumah yang berdebu karena bangunan ini tidak terurus selama kak Fajar mengambil cuti.

Kami duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelah yang mendera setelah membereskan rumah, sambil menikmati tiupan udara dari kipas angin yang berdiri di depan.
"Aduh capeknya," kalimat yang keluar dari mulut suamiku.
Kondisi badan yang berkeringat membuatku kurang nyaman, sehingga aku langsung mengambil handuk untuk mandi.
Syukur aku membawa baju sehingga langsung mengganti baju yang penuh keringat dengan baju bersih.
Sambil menunggu kak Fajar mandi, kurebahkan badanku di kasur. Karena lelah aku langsung tertidur. Saat terbangun, kulihat suamiku juga sedang tertidur pulas disampingku.

Saat keluar kamar mandi untuk mengambil air wudhu kulihat suamiku sudah duduk dipinggir sofa.
"Ayo kita sholat bareng kak!" Ajakku.
Diapun langsung wudhu dan kami melaksanakan sholat Ashar berjamaah.

Sebelum pulang, kami mampir dulu di Cave Ngangenin hanya untuk sekedar menghilangkan rasa haus.
"Es kelapa muda dua mbak," jawabku saat pramusaji menghampiri kami untuk memesan makanan.
"Pakai syruf atau gula merah mbak?" Dia balik bertanya.
"Pakai gula merah ditambah susu", jawabku lengkap.
Tidak sampai lima menit, pesanan kami datang. Dan aku langsung meneguk es yang dari tadi terbayang.

Terdengar lagu "Makin ku cinta" miliknya Krisdayanti sedang mengalun lembut mengingatkanku tentang kalimat Gina yang kemarin. Bahwa suamiku menemukan cinta sejatinya yaitu aku.

"Kak Fajar suka dengan lagu ini," tanyaku.
"Suka, memang kenapa?" Dia balik bertanya.
Lagu ini mengingatkanku tentang seseorang yang kakak sangat kenal!!!.
"Siapa?" Dia bertanya dengan nada penasaran.
"Gina." Dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Siapa kamu bilang." Dengan nada kaget dan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Gina kak." Kubesarkan volume suaraku.

Aku diam sejenak menahan dadaku yang terasa sesak, ada rasa cemburu saat dia mengajakku ke tempat ini. Sementara kak Fajar terlihat gelisah dan salah tingkah.

Kuberusaha melanjutkan unek-unek yang ada dihatiku.
"Wanita yang sudah lama dekat denganmu dan hampir kamu nikahi, tapi karena orang tuanya tidak setuju dan dia dijodohkan dengan orang yang lebih kaya.

Aku tahu tempat ini adalah tempat favorit kalian berdua. Mungkin itu sebabnya kakak selalu mengajakku kemari untuk mengenang masa-masa indah bersamanya." Suaraku parau mungkin karena rasa cemburu.

Kak Fajar tetap saja diam sambil menunduk, dia mengaduk-aduk minumannya. Mungkin dia kaget darimana aku tahu semuanya dan dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Apakah kakak masih merindukannya sampai saat ini?" Tanyaku mencoba memancing suaranya.

Dia berhenti mengaduk gelas yang ada di depannya dan menatapku dengan tatapan sendu.
"Kalau aku mengatakan apa yang aku rasakan sekarang, apakah kamu akan percaya Yu?" Tanyanya.

Aku menjawab dengan mengangkat bahuku. Sambil bibirku tersenyum dipaksakan.

Dengan nada khawatir suamiku mulai mengungkapkan perasaannya.
"Jujur aku sangat kaget waktu kamu menyebut nama Gina. Akupun tidak tahu, siapa yang menceritakan semuanya kepadamu.

Bukannya aku ingin menyembunyikan masa laluku darimu, tapi aku tidak ingin mengingat semuanya, aku ingin melupakannya bahkan aku ingin menguburnya dalam-dalam.

Tapi ...... Dia terdiam sesaat sambil menarik napas.

Memang masa lalu tidak bisa lepas dari diri kita. Dan semua yang kamu katakan itu memang benar. Gina pernah mengisi hari-hariku, kami sering kesini dan pernah merencanakan menikah.

"Tapi.......suaranya terhenti.
Perbedaan kami sangat jauh.
Dan sekarang saya menemukan cinta sejatiku.
Cinta terpendam yang belum sempat saya katakan sejak dulu.
Cinta pada pandangan pertama.
Perasaan yang membuat saya harus lari dari tempat kemah remaja masjid karena wanita yang aku cintai tidak ikut.
Cinta yang membuatku untuk pertama kalinya berjalan menyusuri hutan kiloan meter tanpa lelah dan pengalaman itu selalu terukir indah dihatiku sampai hari ini."

Dia meraih tanganku dan menggenggam jemariku, membuat dadaku bergemuruh, desiran halus kembali mengalir disekujur tubuhku.

"Kamulah yang  Membuat hari-hariku sekarang terasa bermakna.
Kamulah orang yang aku rindukan sejak dulu. Aku tidak menginginkan siapapun. Aku hanya ingin kamu berada disampingku, setiap saat menemaniku menjalani hidup ini, sampai maut memisahkan." Ungkapnya panjang lebar.

Dia berhenti sesaat sambil menarik napas.

"Saya minta maaf jika kamu mendengar tentang masa lakuku dari orang lain, sehingga membuatmu berpikir negatif tentang tempat ini.
Aku ingin tempat ini menjadi tempat bersejarah bagi kita berdua sampai kita tua nantinya." Dia melanjutkan ucapannya.

Perkataannya membuatku nyakin dengan ucapan Gina bahwa kakak Fajar terlihat bahagia saat berada didekatku.
Hal itu menambah kenyakinan ku bahwa kak Fajar betul mencintaiku saat ini dan membuat hatiku lebih tenang.

Kamipun meninggalkan tempat itu sebelum magrib.
Di atas motor yang melaju, kupeluk suamiku dari belakang sambil kusandarkan kepalaku dipunggungnya.
Ada rasa damai menyelinap di relung hatiku karena diantara kami sudah tidak ada rahasia lagi.

Keesokan harinya Umi, kak Yanti dan suaminya serta kak Salman membantu kami membawa sisa barang ke rumah dinas. Rumah yang akan kami tempati serta menjadi saksi bisu perjalanan cinta kami berdua.
Tempat dimana aku akan  melahirkan dan membesarkan anak-anak kami nantinya.


TAMAT

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x