Mohon tunggu...
Martua Intan
Martua Intan Mohon Tunggu... Konsultan - Pemerhati Lingkungan Hidup

Dilahirkan di Pontianak. Pernah tinggal di Australia hampir 9 (sembilan) tahun. tertarik dengan lingkungan hidup, khususnya tentang pelestarian sumber air dan peduli dengan dampak penambangan di tanah borneo.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Negeri 100 Calon Presiden. Namun Akhirnya Hanya 2 Pasang yang Bertanding.

7 Juni 2021   17:07 Diperbarui: 7 Juni 2021   17:08 45 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Negeri 100 Calon Presiden. Namun Akhirnya Hanya 2 Pasang yang Bertanding.
Image : Shutterstock.com 

Pemilihan presiden di tanah air biasanya dilakukan di bulan April pada tahun terakhir masa jabatan presiden petahana. Dan pada minggu ke tiga bulan Oktober dilakukan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih. Menariknya pembicaraan tentang pemilihan presiden satu dekade terakhir ini sudah ramai sebelum genap 100 hari presiden menjalani pemerintahannya. Bahkan mengalahkan bicara kandidat siapa yang menjadi ketua Osis disuatu sekolah yang kita sama-sama tahu bahwa jabatan ketua Osis hanya satu tahun.

Menjamurnya lembaga-lembaga survei di sepuluh tahun belakangan ini turut meramaikan keriuhan perpolitikan tanah air. Hanya dua hal yang disorot oleh lembaga survei biasanya mengenai prosentase pemilih terhadap para calon presiden dan partai politik di tanah air. Dan mungkin hanya 1 atau 2 saja yang tertarik dengan survei kinerja pemerintahan. Lucunya masing-masing lembaga survei ketika merilis hasil calon presiden hampir-hampir berbeda satu sama lain. Bukan saja angka yang berbeda mencolok, bahkan kedudukan siapa yang unggul dan siapa yang ada di bawahnya sangat bertolak belakang antar satu lembaga survei dengan lembaga survei lainnya.

Akhir-akhir beberapa calon presiden untuk tahun 2024 menghiasi berita-berita nasional. Sebut saja finalis dua kali ajang pilpres sebagai calon presiden (2014 dan 2019) dan cawapres (2009) Prabowo Subianto, Anies Bawesdan sang gubernur Jakarta, Ganjar Pranowo pemimpin gubernur Jawa Tengah  yang tinggal menunggu tiket bu Mega, Ridwan Kamil gubernur dengan populasi terbesar di tanah air yaitu Jawa Barat, Sandiaga Uno yang mencoba peruntungannya menjadi capres bukan hanya cawapres kali ini, Airlangga Hartanto capres dari Golkar yang ingin mengembalikan kejayaan Golkar kembali, Muhaimin Iskandar yang coba menatap tilas perjalanan Gus Dur sebagai Presiden RI ke-4 sebagai capres dari PKB, AHY berharap memberi kejutan di 2024 walau dibilang hampir tidak mungkin. Serta 3 srikandi yang akan berusaha mengulang sejarah sebagai presiden wanita  ke-dua setelah Megawati Soekarno Putri, yaitu sang putri sekaligus Ketua DPR RI Puan Maharani, Menteri Sosial saat ini Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Timur saat ini Khofifah Indar Parawansa. Dan kalau melihat perkembangan saat ini untuk partai politik penghuni Senayan kemungkinan Nasional Demokrat (Nasdem), PKS, PAN dan PPP belum memunculkan figur dari kader sendiri dan berharap hanya mendukung salah satu nama-nama di atas sebagai calon presiden sekaligus mendorong Ketua Umum atau salah satu pengurus partai mereka diajak sebagai calon wakil presiden dalam perhelatan pilpres 2024.

Dalam tiga tahun ke depan memang sangat sulit memprediksi siapa dari calon potensial menjadi calon aktual. Dan bila mengikuti aturan ambang batas menjadi calon presiden (President Treeshold) sebesar 20% suara parlemen, maka satu-satunya partai politik yang bisa mengajukan calon presiden dan calon wakil presiden hanya PDIP, sementara bagi partai politik lainnya harus berkoalisi. Bagi PDIP persoalannya hanya bagaimana mengajak beberapa partai politik untuk bergabung sehingga diharapkan gabungan partai politik yang ada bisa mengerakkan mesin-mesinnya meraih 50% plus 1 sebagai syarat memenangkan Pemilihan Presiden 2024. Namun bagi partai politik yang hanya meraih 10-11 % di pemilihan legislatif yang lalu (2019) seperti Golkar dan Gerindra jelas membutuhkan partai politik yang lebih banyak dan umumnya partai politik tersebut terlalu meminta banyak bahkan sebelum pemilihan dilaksanakan. Beberapa permintaanya yang harus diakomidir oleh parpol yang mengusung calon presiden misalnya, posisi calon wakil presiden  dan jumlah menteri di kabinet bila menang dan yang lebih aneh adalah permintaan pada posisi "jabatan menteri yang lebih basah" seperti menteri keuangan, menteri BUMN, menteri koordinator dan jabatan strategis lainnya.

Kalau melihat kecenderungan ke depan, kalau pemilik 3 besar suara di pemilihan legislatif 2019 pecah kongsi maka calon aktual sebagai calon presiden di panggung 2024 adalah Ganjar Pranowo (bila mendapat restu ketua umum PDIP plus dorongan yang sangat besar dari kader dan pemilih tradisional PDIP) atau calon lain (Puan Maharani, Risma bahkan Gibran), Gerindra dengan opsi utama Prabowo Subianto dan opsi lainnya Sandiaga Uno, serta Airlangga Hartanto kalau partai Golkar bisa membuat partai politik papan tengah ikut bergabung dan menuruti permintaan mereka bahkan sebelum dimulai perhelatan elektoral di 2024.

Bagaimana dengan Anies Bawesdan yang dari berbagai survei di bawah bayang-bayang Prabowo dan Ganjar Pranowo, tepatnya penghuni 3 besar. Disini sang gubernur Jakarta berharap beberapa partai politik papan tengah seperti Nasdem, PKS dan PAN mengusungnya. Namun persoalan akan dimulai siapa yang menjadi pendampingnya, dan ini biasanya akan terlihat di detik-detik terakhir pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden di 2024 akan terjadi tarik ulur antar partai politik bahkan bisa jadi kesepakatan gagal. Untuk AHY mungkin lebih realistis mengajukan menjadi calon wakil presiden itupun bila tidak mengulang sejarah ketika Prabowo Subianto lebih memilih Sandiaga Uno sebagai pendampingnya dibanding AHY saat itu. 

Bila melihat sejarah pemilihan presiden di 2014 dan 2019 maka kemungkinan hanya ada 2 calon pasangan ketika pendaftaran ditutup. Apabila PDIP dan Gerindra berkoalisi maka mereka akan menghadapi parpol yang lain dengan calon presiden dari partai politik peraih suara terbesar di antara anggota koalisi. Namun apabila PDIP dan Gerindra akan mencalonkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden masing-masing, maka polarisasi juga akan dimulai. Tawar menawar akan di mulai saat itu, dan biasanya partai politik yang akan bergabung akan melihat siapa figur yang diusung dan apakah figur tersebut merajai survei-survei setahun menjelang pemilihan presiden 2024.

Pemilihan biasanya tidak melulu hanya didasarkan dari hitungan matematika, hasil-hasil survei, kepopuleran para calon, namun perasaan para pemilih terhadap calon juga sangat berpengaruh. Apa yang terjadi di tahun 2023 dan awal-awal 2024 bisa jadi calon yang selama ini merajai beberapa survei tersungkur dengan calon yang sama sekali tidak diperhitungkan. Bisa jadi calon fenomenal tersebut mengunakan prinsip "Vini-Vidi-Vici" Datang-Bertanding dan Menang.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN