Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Penulis - Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pendidikan Humanis (16): "Ada Apa dengan Kotaku?", Eksploratifnya Pembelajaran

20 September 2021   04:05 Diperbarui: 20 September 2021   04:25 346
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Buku #The_Educatorship, 2016.

Daya eksplorasi dan kreasi anak didik kadangakala terbelenggu di ruang kelas. Saatnya pendidikan terbebas dari batas ruang dan waktu menuju pada kesinergisan pembelajaran. 

Sore itu tampak sekelompok remaja berjalan menuju Lawang Sewu, sebuah bangunan tua peninggalan Kolonial Belanda yang sangat identik dengan kota Semarang. Lawang sewu sudah menjadi seperti ikonnya Semarang. Anak-anak itu tampak asyik berbincang-bincang dengan seorang yang sudah agak tua. Rupanya, orang itu adalah pemandu bagi kelompok remaja itu untuk melihat seluruh wilayah lawang sewu dari penjara bawah tanah hingga bagian teratas bangunan dekat kubah.

Di hari yang lain, terlihat juga sekelompok anak remaja yang sedang mengabadikan beberapa bangunan kuno peninggalan Kolonial Belanda juga di Kota Lama. Ada beberapa dari mereka berbincang-bincang dengan warga sekitar. Sepertinya mereka sedang menggali informasi berkaitan dengan keberadaan dan sejarah Kota Lama itu.

Di hari minggu yang cerah itu, sekolompok anak juga berangkat menuju ke sebuah tempat yang agak jauh dari kota. Rupanya mereka pergi ke arah Gunung Pati untuk melakukan observasi sebuah gua yang bernama Gua Kreo. Tempat itu masih sangat alami dan sangat bagus untuk obyek wisata karena ada gua dan juga air terjun yang begitu indah. Anak-anak itu tampak begitu menikmati suasana di sana sembari melakukan observasi.

Ada juga kelompok lain yang mengunjungi pusat pembuatan jajan khas Semarang, seperti wingko dan bandeng presto. Mereka tampak asyik menggali informasi berkaitan dengan sejarah usahanya, cara pembuatannya, hingga pemasarannya. Tentunya, mereka pun senang karena bisa mencicipi makanan itu gratis berkat kebaikan si pemilik usaha.

Kelompok lain melakukan hal yang berbeda lagi di mana mereka malah asyik mengamati hiruk pikuk kemacetan di sebuah perempatan pusat kota. Mereka mengamati bapak polisi yang sedang sibuk mengatur lalu lintas, pengamen dengan alat sekadarnya menyanyikan lagu-lagu terbaik negeri ini, padatnya lalu lintas, banyaknya pengemis di perempatan jalan, dan masih banyak lagi.

Bahkan di saat malam minggu, ada sekelompok remaja juga asyik pergi ke daerah atas yang begitu banyak caf dengan view yang begitu indah. Mereka bisa melihat kota Semarang di malam hari. Mereka asyik mengabadikan beberapa tempat yang lokasinya bagus dan tak lupa pula melakukan wawancara dengan beberapa pengunjung dan pengelola caf.

Sebuah Kepedulian

Siapakah kelompok-kelompok remaja itu? Dalam rangka apa mereka melakukan kunjungan ke tempat-tempat itu dengan dilengkapi berbagai alat? Tampak dari mereka begitu lengkap dengan kamera untuk mengabadikan gambar, alat perekam untuk wawancara, dan alat tulis untuk mencatat informasi.

Rupanya mereka sedang melakukan eksplorasi data dalam sebuah pembelajaran dengan melakukan berbagai metode, baik dengan observasi, wawancara, maupun survei sesuai dengan topik yang mereka angkat. Dalam pembelajaran itu masing-masing kelompok mengangkat sebuah topik untuk kajian tertentu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun