Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Penulis - Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menulis Makna (56): Mempercayai Diri dalam Kemampuan dan Kemauan

21 Agustus 2021   04:05 Diperbarui: 21 Agustus 2021   04:07 185 24 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Menulis Makna (56): Mempercayai Diri dalam Kemampuan dan Kemauan
Illustrasi. www.mindfulnessmuse.com

Mempercayai diri sendiri adalah rahasia pertama dari keberhasilan. (R.W. Emerson)

Setiap orang memiliki idealisme dalam hidup dengan kadarnya masing-masing sesuai dengan semangat dan motivasi yang ada dalam dirinya. Idealisme diri menjadikan setiap pribadi mulai menghidupi hal-hal baik yang siap diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menggapai apa yang dicita-citakannya. Idealisme senantiasa merasuki pikiran dan perasaan yang bersinergi membangun kebiasaan hidup yang mendukung pencapaian cita-cita. 

Hidup ini terkadang begitu rumit ketika semuanya berjalan tanpa skema diri yang jelas, namun di sisi lain hidup begitu sederhana tatkala ada arah tujuan yang mau dicapai. Idealisme hadir dalam kedua situasi ini sebagai pilihan pribadi untuk tetap jalani kehidupan.

Illustrasi. theplaidzebra.com
Illustrasi. theplaidzebra.com
Idealisme tentunya mempengaruhi pemikiran, cara berpikir, cara berasa, berperilaku, dan berelasi dengan siapapun. Dalam tatanan sosial bersama orang lain, idealisme tak akan lepas dari orang lain sebagai mitra berelasi dan berkomunikasi yang melibatkan segalanya dalam diri, dari ide, rasa, dan tindakan. Akan tetapi, tak jarang juga idealisme diri menimbulkan benturan-benturan pribadi karena adanya perbedaan pendapat, prinsip, kebiasaan, dan latar belakang. 

Ketika idealisme dipaksakan dalam kerangka memaksa orang harus mengikutinya, maka yang terjadi adalah kekacauan dan kebuntuan. Idealisme seringkali harus dikomunikasikan dalam pemahaman dan simpati yang tulus.

Sesungguhnya idealisme maupun cita-cita dalam hidup mesti mempertimbangkan potensi diri sebagai awalan sebelum pada akhirnya harus bersentuhan pikiran dan perasaan dengan sesama dan juga semesta. 

Mempercayai diri sendiri sungguh menjadi perilaku internal yang harus dibangun sehingga memiliki pondasi yang kuat dalam menghidupkan idealisme dan menggapai cita-cita. 

Mempercayai diri bukanlah tindakan yang menutup segala pandangan dari luar diri, justru sebalkinya mempercayai diri sendiri adalah sebuah kesempatan melatih diri tentang bagaimana cara mempercayai diri dan memaknai rasa tatkala diri dipercayai oleh diri sendiri. Proses ini senantiasa akan memberikan inspirasi dan motivasi yang mengembangkan diri.

Illustrasi. tinybuddha.com
Illustrasi. tinybuddha.com
Ketika pribadi mampu mempercayai diri sendiri bahwa dirinya memiliki potensi untuk berhasil dalam setiap tantangan hidup, ini adalah sebuah anugerah yang begitu hebat karena lahir semangat dan motivasi untuk mengusahakan kehidupan dengan idealisme dan cita-citaanya. 

Tatkala pribadi mau mempercayai diri sendiri, senantiasa ini menjadi pengalaman yang melecut diri untuk mempercayai orang lain sehingga terjalin relasi dan komunikasi yang baik dan berkualitas. Menjadi nyata bahwa mempercayai diri memiliki konsekuensi logis yang sangat bermanfaat bagi pribadi dan sesama dalam merajut sagala usaha menggapai cita-cita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan