Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Setelah Senja (87): Takdir pada Perjumpaan dan Asa

25 Mei 2021   04:04 Diperbarui: 25 Mei 2021   04:17 129 27 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setelah Senja (87): Takdir pada Perjumpaan dan Asa
Ilustrasi. rectanglecirclee.blogspot.com

Perjumpaan seringkali tak terduga waktu dan tempatnya. Perjumpaan pun kadangkala memberikan lompatan perasaan yang memercikkan ingatan tertentu di masa lalu. Perjumpaan juga yang mengalirkan harapan dan realita baru untuk masa depan. 

Di malam yang sesunyi ini, aku duduk terdiam di bawah langit malam sambil ditemani oleh sepeda kesayanganku. Aku sudah duduk termenung di sini selama 30 menit sambil berusaha untuk menuliskan sesuatu di bukuku. Huh... sekali lagi kuhembuskan nafas berat ini, memang benar kata orang, hidup itu sulit. Kalian pasti bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang aku lakukan. 

Jadi, aku adalah seorang penulis yang harus menuliskan sebuah bahan untuk cerpen yang akan dimuat minggu depan. Pekerjaan ini sangat memberatkan diriku karena aku merupakan bintang di pekerjaan ini, ini merupakan sebuah tekanan untukku. Entah sudah berapa hari mataku belum tertutup. Aku sungguh tertekan dan tak tau apa yang akan terjadi besok jika aku tidak mendapatkan ide untuk ceritaku.

Di tengah lamunanku, aku mendengar gemerisik suara ilalang yang diikuti dengan dentuman langkah kaki. Hatiku berdegup kencang dan aku mulai ketakutan. Tak lama setelah itu kulihat bayangan sesosok lelaki yang sedang berjalan ke arahku. Dia tersenyum dan mengajakku berbincang-bincang, aneh memang siapa dia. Ternyata dia adalah Suena, anak desa yang sekitar rumahnya di kelilingi oleh banyak aliran sungai. Tidak seperti aku yang berasal dari kota yang dikelilingi oleh banyak gedung dan menara pencakar langit. 

Pembicaraan kami ternyata lumayan mendalam hingga aku melupakan pekerjaanku dan kenyataan bahwa dia adalah orang asing. Hingga pada suatu titik aku tersadar setelah ia mengatakan bahwa ia merupakan seorang penulis. Seorang penulis kisah-kisah revolusi zaman dahulu. Dari situ aku mendapat ide untuk menuliskan cerpen tentang dirinya "Suena Penulis asal Desa".

Layaknya dedaunan yang jatuh dari ranting pohon, ide-ideku pun mulai bermunculan. Lalu kumulai bertanya pada Suena maukah kisahnya kujadikan sebuah cerita dan akan diterbitkan di koran minggu depan. Suenapun heran dan karena bujukanku diapun tak dapat menolak ajakkan itu. 

Saat aku hendak mulai menuliskan sesuatu ternyata tinta bolpenku habis. Akupun segera pergi menuju ke jalan raya dan segera meninggalkan taman itu. Ternyata Suenapun mengikutiku, entah mengapa. Dan malam itu jalanan sepi dan memang berliku-liku serta gelap. Di tengah perjalanan menuju toko kelontong aku melihat seekor ular yang tubuhnya melikuk layaknya tanda koma. Melihat hal itu Suenapun terkejut dan sontak ia memelukku. Dan saat itu entah hatiku mulai berdegup tak karuan dan spontan aliran darah dalam tubuhku naik. Setelah hal itu terjadi mata kami bertatapan dan dia segera menggandengku dan mengajakku berlari bersama sambil bergandengan tangan.

Sepanjang perjalanan kami menggenggam erat satu sama lain seperti ada rantai yang mengikat tangan kami. Setelah perjalanan yang cukup jauh kulihat ada toko berwarna merah yang sangat terkenal itu. Kamipun memutuskan untuk mampir di toko itu dan duduk beristirahat di halaman toko itu. 

Tak lama setelah itu Suena masuk ke dalam toko itu dan keluar kembali sambil menggenggam 2 buah botol minuman. Aku tak tahu lagi apa yang sedang aku pikirkan, namun entah mengapa aku merasa ia sangat tampan dengan keringat yang bercucuran di seluruh wajahnya. 

Perhatianku terpaku pada wajah indahnya seperti ada lingkaran cahaya di wajah Suena saat itu. Kemudian dia memanggil-manggilku namun aku tetap terdiam layaknya simbol titik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x