Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Setelah Senja (32): Kamu... Abadi di Langit!

24 Februari 2021   05:05 Diperbarui: 24 Februari 2021   05:24 112 32 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setelah Senja (32): Kamu... Abadi di Langit!
Ilustrasi. depositphotos.com

Akhir sebuah kehidupan seringkali menjadi duka yang tak kunjung henti. Kenangan yang telah terukir dalam setiap dinding-dinging kehidupan menjadi memori yang menyentuh rasa dan air mata. Akhir sebuah kehidupan sesungguhnya awal dari keabadian yang tak bisa lagi diakhiri.

Setelah final basket laki-laki, Caroline dan Erdward pulang ke Salatiga tempat tinggal Erdward. Sesampainya di rumah, mereka menuju taman di belakang rumah Erdward dan bersantai seperti sedang piknik. Karena Erdward sangat kelelahan bermain basket, ia akhirnya merebahkan tubuhnya. Ia memandangi langit yang dipercantik oleh bintang di sana. Walaupun mata Erdward ingin tertutup namun ia senang sekali. Di sisi lain Caroline sangatlah bosan, ia akhirnya meminjam sepeda milik Erdward. Caroline merasa tetap bosan dan ia memutuskan untuk membaca buku mengenai kehidupan dua orang yang menyedihkan.

Dua orang dalam buku yang dibaca oleh Caroline membuat hati Caroline menangis terharu. Dengan latar belakang di desa dikelilingi sungai yang indah dan panjang, cerita itu menjadi luar biasa. Caroline merasa ia ingin ke sana dan menemukan ilalang-ilalang yang bertebaran. Karena ia tersentuh dengan bukunya, Caroline mengajak Erdward untuk jalan-jalan mengelilingi kota malam Salatiga. Akhirnya mereka pergi dan berkeliling melihat Kota Salatiga dan menara-menara antik di Salatiga. Sayangnya, Salatiga akan mengalami revolusi yang cukup besar.

Di tengah perjalanannya, Caroline merasa bahagia dapat melihat Kota Salatiga semaraknya lampu jalan raya. Caroline dan Erdward begitu terlihat bahagia seiring dengan daun di pohon yang tertiup. Tiba-tiba Erdward merasa haus dan memutuskan untuk berhenti sejenak di IndoApril. Dia membeli minuman dan koran yang berbeda dan sangatlah unik. Koran yang ia beli memiliki tinta warna hijau tosca dan dipenuhi dengan tanda baca koma seluruhnya. Hal itu cukup membuat Erdward tertarik untuk membeli walaupun harganya cukup mahal. Namun secara mendadak koran yang dipegang oleh Erdward tertetes oleh darah yang berasal dari Erdward.

Erdward kebingungan dan takut bila Caroline mengetahuinya, maka ia menggunakan botol untuk menampung darahnya. Anehnya warna darah Erdward benar-benar merah terang dan menyala tidak seperti biasanya. Ia kebingungan dan lupa untuk membuang koran yang penuh dengan darah itu. Caroline mengambil koran di tangannya dan melihat begitu banyak darah rata di seluruh permukaan koran. Titik-titik darah yang berbentuk lingkaran menciptakan sebuah rantai dari ujung koran hingga ujung lainnya. Caroline menatap Erdward dan mengajaknya untuk segera menuju rumah sakit. Namun Erdward menolak dan hanya meminta untuk pulang ke halaman rumahnya.

Caroline tidak dapat berbuat banyak dan menuruti apa yang diinginkan oleh Erdward. Sesampainya mereka di halaman belakang, Erdward segera duduk di kursi taman dan membawa kertas berpita yang sangat rapi. Caroline mengambil gelas berisi air teh hangat dan kotak P3K duduk di samping Erdward. Erdward memberikan kertas berpita itu kepada Caroline. Caroline segera membuka kertas itu dan terkejut bahwa surat itu tertulis satu kalimat yang sangatlah indah. Kalimat itu berbunyi, "Aku adalah manusia yang selalu menjadi sahabatmu dan akan membuat panah di langit suatu hari nanti." Caroline akhirnya menyadari bahwa sahabatnya akan meninggalkan dia sebentar lagi. Setelah Caroline selesai mengucapkan kata terakhir pada surat itu, ia menatap Erdward dan Erdward tersenyum. Itulah senyum terakhir dari Erdward sebelum meninggalkan Caroline dan peradaban di dunia ini.

*WHy-ViNsa

**Setelah Senja: sebuah kisah imajinatif reflektif yang mencoba mendaratkan nilai-nilai kehidupan (life value) dalam kisah fiksi ke dalam konteks zaman yang sangat nyata dalam realita hidup ini. 

***Setelah Senja:Dari pagi menjelang malam ada berbagai dinamika kehidupan yang menjadi bagian cerita hidup kita. Semuanya itu akan berjalan begitu saja dan pada akhirnya terlupakan begitu saja pula jika kita tidak berusaha mengendapkannya dalam sebuah permenungan sederhana tentang hidup ini demi hidup yang lebih hidup setiap harinya. "Setelah Senja" masuk dalam permenungan malam untuk hidup yang lebih baik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x