Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Setelah Senja (23): Hati dan Matiku, Baru Sampai Koma

15 Februari 2021   07:07 Diperbarui: 15 Februari 2021   07:27 124 29 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setelah Senja (23): Hati dan Matiku, Baru Sampai Koma
Ilustrasi. www.istockphoto.com

Hidup bukanlah sekadar perjalanan pengalaman dari waktu ke waktu merangkai cerita. Mati bukan pula sebuah batas akhir dari sebuah alur cerita itu. Ada waktunya, manusia merenung lebih dalam: "mengapa dan bagaimana hidup ini terjadi" demi sebuah kebijaksanaan hidup.           

Kukayuh pedal sepedaku dengan kencang karena hari sudah mulai gelap. Langit sudah tidak bersahabat lagi menandakan hujan akan segera turun. Terlihat jelas kerlap-kerlip bintang menerangi angkasa malam ini. Pundakku sangat pegal membawa tas penuh buku pinjaman. Tentunya mataku mulai tidak fokus dan akhirnya aku kehilangan pandangan. Aku bingung dengan diriku, apakah aku masih hidup?

Mulai kubuka mataku perlahan-lahan, lalu kuingat kembali kejadian malam itu. Entah di mana aku sekarang namun tempat ini seperti sebuah menara tinggi. Suara gemilir air sungai seakan memanggilku untuk melihat keadaan sekitar. Tanpa alas kaki kupijakkan kakiku ke atas ilalang yang menjulang tinggi dan tajam. Dan benar saja, aku bertemu orang-orang desa setelah itu. Aku seperti terlempar di zaman hiruk-piruk revolusi Indonesia.

Siang panas itu, daun berguguran dari rantingnya membuat suasana terlihat semakin gersang. Aku menyelinap dan berdesak-desakan di tengah keramaian jalan raya. Inginku berteriak karena terlalu kacaunya suasana demo itu. Banyak orang berhamburan membakar karet ban, koran, kayu, dan lainnya. Mereka juga mengangkat papan dengan tulisan bertintakan warna merah. Sama seperti hidungku yang tiba-tiba mengeluarkan darah merah segar karena kepanasan. Setelah kupegang darahku ternyata semua ini tidak nyata dan langsung aku terbangun dari mimpi burukku. Di hadapanku berdiri orang tuaku, mereka mengatakan bahwa aku telah koma 5 hari.

Banyak kulihat bayangan titik-titik hitam karena belum kukenakan kacamata minusku. Dengan samar, aku memperhatikan warna ruangan itu, putih yang berarti rumah sakit. Orang tuaku dengan sigap menyodorkanku botol minum agar terlepas dari kaget. Aku baru ingat, malam itu aku menabrak sebatang pohon dan membuatku pingsan merantai ke mimpi buruk. Jadi ini rasanya koma, tersesat di lingkaran mimpi yang membawa seseorang kepada hidup atau mati. Aku bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan membuka halaman baru di kehidupan nyata.

Selama di rumah sakit, aku suka duduk berdiam diri di kursi. Aku menghabiskan segelas, dua gelas, tiga gelas air setiap harinya agar metabolisme tubuhku kembali normal. Ketika bosan, dengan iseng aku membuat prakarya dari kertas origami. Pokoknya, aku hanya tidak boleh kecapekan pada masa pemullihan. Manusia tidak boleh hanya hidup mengikuti arus dan tanpa tujuan. Aku sadar manusia haruslah seperti panah yang memiliki sasaran pasti untuk dituju.

*WHy-oCTa

**Setelah Senja: sebuah kisah imajinatif reflektif yang mencoba mendaratkan nilai-nilai kehidupan (life value) dalam kisah fiksi ke dalam konteks zaman yang sangat nyata dalam realita hidup ini. 

***Setelah Senja: Dari pagi menjelang malam ada berbagai dinamika kehidupan yang menjadi bagian cerita hidup kita. Semuanya itu akan berjalan begitu saja dan pada akhirnya terlupakan begitu saja pula jika kita tidak berusaha mengendapkannya dalam sebuah permenungan sederhana tentang hidup ini demi hidup yang lebih hidup setiap harinya. "Setelah Senja" masuk dalam permenungan malam untuk hidup yang lebih baik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x