FX Aris Wahyu Prasetyo Martodikromo
FX Aris Wahyu Prasetyo Martodikromo Pendidik, Pembaca, dan Penulis.

Penulis adalah pendidik dan pecinta buku.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bertobatlah Para Pemimpin!

9 Maret 2018   08:01 Diperbarui: 9 Maret 2018   08:06 271 1 0

Sebuah penekanan yang mengesankan tatkala membaca uraian tentang Heroic Leadership yang ditulis oleh Chris Lowney (2003) bahwa refleksi menjadi elemen penting dalam kepemimpinan, baik dalam kepemimpinan diri maupun kepemimpinan sebagai sebuah posisi (jabatan). Sebuah keyakinan tertanam  bahwa mengembangkan kebiasaan berefleksi adalah sebuah kekuatan untuk menghidupkan hidup itu sendiri. 

Orang bisa saja tetap melaksanakan segala rutinitas hidupnya atau orang boleh saja tetap menduduki posisi sebagai pemimpin dengan segala kuasanya tetapi tanpa kebiasaan refleksi, kekeringan rohani perlahan-lahan akan merasuki jiwanya bahkan merusak keutuhan dirinya sebagai manusia yang beradab. Celakanya, keberadaban itu dapat menjadi sebuah kebiadaban pada diri dan komunitas/lembaga lambat laun. Ini sangat mengerikan.

            Akhir-akhir ini bangsa Indonesia tercinta sedang mengalami kegaduhan dalam berbagai bidang yang bisa mengancam keutuhan negara kesatuan ini. Aroma saling serang sangat kental dalam setiap wacana yang ada. Perbedaan menjadi masalah utama untuk saling menghargai, memaafkan, dan berkolaborasi. Celakanya, masyarakat selalu disuguhi akrobat pertikaian yang tak kunjung henti. Sesungguhnya, keadaan saat ini sangat memalukan dan menjijikkan karena generasi muda belia disuguhi contoh-contoh yang jauh dari kearifan dan keteladanan.

Refleksi sebagai Kebiasaan

            Para pemimpin, pemuka, pejabat, dan juga masyarakat pastinya memiliki kesibukan dan rutinitas tersendiri setiap harinya. Ide dan pikiran secara bertubi-tubi keluar, baik secara proaktif maupun responsif atas berbagai stimulus yang ada di sekitar mereka. Perasaan pun menyelimuti diri mereka seirama dengan gejolak batin dan dinamika komunitas/lingkungan kerja. Dan tak kalah menarik, berbagai aktivitas pun tertata secara beruntun dalam lingkup keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan berbagai komunitas. 

Di dalam kesibukan itu, kebiasaan refleksi sesungguhnya perlu dibangun untuk membangun kesadaran diri. Inilah pondasi dasar kepemimpinan, di mana mampu mengenal diri sendiri secara objektif, jujur, dan utuh. Kepemimpinan diri menjadi modal untuk memimpin orang lain.

            Profesor Havard Business School Joseph Badaracco secara fasih menyatakan bahwa refleksi sebagai sebuah kebiasaan adalah sebuah keutamaan dalam keseharian. Dijelaskan lebih lanjut, kebiasaan refleksi yang ditekuni para manajer telah membantu mereka membangun kesadaran diri dan komunitas yang perlahan-lahan menghapus konsep cerdik, teknis, dan pragmatis belaka dalam relasi kerja. 

Hebatnya, para manajer mulai membuat transisi dari seorang manajer berubah menjadi seorang pemimpin. The manager does things well, but the leader does good things. Tidak sekedar melakukan segala sesuatu dengan baik, tetapi pemimpin lebih berfokus melakukan hal-hal  baik.

            "Hidup yang tidak diperiksa tidak pantas untuk dijalani", begitulah ungkapan filsuf Yunani kuno Socrates yang sesungguhnya dapat menjadi pondasi dan pilar penting dalam membangun hidup yang berkualitas dalam melayani sesama. Refleksi membantu siapapun dalam mengusahakan cita-rasa pribadi yang selalu mengupayakan sesuatu yang lebih baik. Refleksi juga secara langsung membantu orang menjadi La persona que se ejercita "pribadi yang melatih diri" setiap saat secara konsisten dan berkesinambungan.

Refleksi Nasional

           Tatkala keadaan bangsa begitu keruh dengan segala benturan-benturan yang ada, sudah waktunya untuk menciptakan refleksi nasional sebagai sebuah media untuk koreksi diri dan memaknai semua peristiwa yang telah terjadi. Tidak lagi semangat menang-kalah yang dikedepankan, tetapi semangat rendah hati dan tulus harus menjadi keutamaan sebagai bentuk kepemimpinan diri. Kepentingan bangsa lebih penting daripada kepentingan golongan semata.

            Sebuah tantangan besar untuk semua orang yang memangku jabatan penting di negara kesatuan ini. Semangat reflektif semestinya berkobar dalam sanubari mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Negara sedang dalam perjalanan menuju kehancuran. Negara membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu membangun kesadaran diri secara reflektif dan menularkannya kepada seluruh masyarakat. Api konflik yang begitu membara harus segera diredakan dalam keteduhan hati.

            Harus diakui bahwa kebiasaan refleksi sesungguhnya menumbuhkan semangat ingenuitas dalam setiap visi dan misi hidup yang dijalani dalam menyelaraskan diri pada visi komunitas. Ingenuitas juga merupakan buah dari kebiasaan refleksi yang mampu memberi  buah-buah semangat kehidupan, seperti: imajinasi, adaptabilitas, kreativitas, fleksibilitas, dan kemampuan merespon secara cepat dan manusiawi. Ingenuitas itu juga mampu  memberi kekuatan dalam menjalani hidup. 

Para pemimpin bangsa ini membutuhkan semangat ingenuitas sebagai sebuah cara hidup (modo de proceder) dalam memimpin bangsa tercinta menuju pada peradaban yang beradab.

            Akhirnya, bangsa ini membutuhkan pemimpin dan sekaligus masyarakat yang mampu membangun refleksi sebagai sebuah kebiasaan. Inilah sebuah momen membangun refleksi nasional untuk menyelamatkan bangsa tercinta ini. Yang pertama, kesadaran diri  patut dikedepankan untuk seluruh warga negara sehingga  mampu melihat kelebihan sebagai potensi diri untuk melayani negara dan mulai melenyapkan kelemahan-kelemahan serta kelekatan-kelekatan yang tidak sehat dalam diri  yang mengganggu kestabilitasan negara.

            Kedua, semangat ingenuitas dalam diri setiap warga negara hendaknya mulai mengakar. Setiap warga negara mulai belajar semakin cerdas dan bekerja lebih keras dalam hidup dan sekaligus belajar memupuk sikap lepas bebas untuk meruntuhkan: fanatisme diri maupun golongan, ketakutan dan kekhawatiran akan hal baru, kelekatan pada status dan kepemilikan, pembohongan dan konspirasi publik, prasangka buruk, dan keengganan untuk bertanggung jawab pada sesuatu yang beresiko. Refleksi yang berbuah ingenuitas dapat mengarahkan pada hidup yang penuh harapan, perhatian, kreativitas, inovasi, dan optmisme bagi bangsa tercinta ini.

Ketiga, cinta kasih pada diri, keluarga, pekerjaan, dan masyarakat menjadi irama kehidupan berbangsa dan bernegara. Cinta kasih ini dapat memberi semangat dan gairah tersendiri dalam hidup sehingga kita benar-benar dapat mengalami pengalaman mencintai dan dicintai dalam ketulusan sebagai saudara satu bangsa. 

Keempat, heroisme dalam hidup menjadi tantangan dalam mengusahakan peradaban. Heroisme ini diharapkan mendorong setiap warga negara hidup secara aktif terarah pada sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih besar dan mulia. Sebuah harapan besar bahwa bangsa Indonesia semakin memiliki energi besar berkembang, imajinasi yang visioner, dan motivasi yang saling mendukung.  NKRI adalah harga mati.

Akhirnya, "The most difficult person to govern is oneself". Pernyataan tersebut benar-benar membuka mata hati dan pikiran kita semua sebagai warga negara bahwa diri atau pribadi manusia adalah zona tersulit dalam sejarah peradaban manusia untuk diatur. Konflik dan kekacauan muncul karena pribadi-pribadi yang sulit ditata dalam kerangka bersama. 

Sebuah harapan besar, dengan membangun kebiasaan refleksi dalam diri para pemimpin dan seluruh masyarakat Indonesia perlahan-lahan bangsa Indonesia tercinta semakin membaik dan kita segera merasakan peradaban yang humanis di negara tercinta ini. Indonesia berharap.