Marthinus Selitubun
Marthinus Selitubun Penulis

Saya seorang pastor dan pelajar yang berasal dari keuskupan Agats Asmat, Papua. Mencoba menginspirasi orang-orang terdekat lewat tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Seeing Salvation: Salib di Ruang Antroestetik

29 April 2019   19:37 Diperbarui: 2 Mei 2019   18:44 453 5 2
Seeing Salvation: Salib di Ruang Antroestetik
Dok. Pribadi

Masih dalam semangat Paskah, seorang ibu bersama anaknya mengunjungi pameran lukisan Kristiani di salah satu balai lelang ternama di Inggris. "Ma, lukisan itu bagus banget! ...kalau mama punya uang beliin buat kado papa paskah nanti, ya?" kata si anak dengan mata berharap. 

Dia tidak mengerti berapa harga lukisan ini. Sang bunda hanya diam memandang obyek lukisan di depannya dengan mata berkaca-kaca. Itulah the Dead of Christ karya pelukis sohor Holbein. Lukisan itu merupakan salah satu lukisan termahal saat ini, yang disandingkan di dekat the downtrodden clemency dari Kathe Kollwitz, Christ of clemency-nya Martinez Montanez, juga Stephen Cox dalam Crucifixion yang dirakit di tahun 1993. 

Ekspresi penuh haru dari ibu ini menebarkan pertanyaan realistis: apakah elemen seni ini mampu menjadi jembatan penghubung antara iman manusia dengan Yang Transenden?. Apakah yang ilahi bisa dijumpai melalui seni?

Tak dapat dipungkiri bahwa ekpresi yang ditampilkan dalam lukisan-lukisan itu berangkat dari satu realitas yang oleh orang Kristen disebut Salib.

Salib adalah refleksi kontroversial atas kehidupan. Didalamnya ada perjumpaan antara kebodohan dan kecerdasan, rendah hati dan pengorbanan, juga kematian dan kemuliaan. Banyak teolog Kristen menilai salib adalah titik arkhaik dari hidup dan mati. Sadar atau tidak apapun tentang salib melahirkan buah bibir iman, yang menyetuh aspek terdalam sekian juta jiwa untuk menggumulinya. 

Yohanes Paulus II menuliskan kepada para seniman, bahwa dengan cinta yang besar dari Seniman Agung, merecik dalam sukma seniman, memanggil mereka untuk membagikan mereka daya kreatifnya.

Hal ini menjadi tanda bahwa kristianitas tidak bisa lepas dari ruang iman dan budi manusia. Artinya bersentuh dengan Allah. Seniman dianugerahi kesanggupan utnuk melihat keindahan ciptaan dan hati manusia, dan mengekspresikan pewahyuan itu dalam sketsa. Ekspresi itu menampilkan spasi kecil -yang menyatakan keindahan hidup dalam Allah- yang kadangkala kita tolak.

Kita sadari bahwa pesona seni tak lepas dari sejarah kekristenan. Pieta, The Light of the world, the Adoration of the Kings, Catacombe, Kafan, The Crucified Christ, atau the Last Supper yang kontroversial; sungguh mendapat tempat di hati umat, bahkan diyakini menjadi bagian dari iman kristiani. Hal ini tentu merupakan bagian kecil dari cinta manusia yang memberi jeda bagi pesona ilahi yang melabrak dirinya. 

Semua ini dipercaya berawal dari Allah yang merapresentasikan diri-Nya dalam diri Nabi Isa dalam ruang dan waktu manusia. Karena Sang Nabi menderita, disalibkan dan wafat, maka apapun yang berkaitan dengan atmosfir salib menjadi raga kekristenan, identitas bahkan self --bahkan yang diekspresikan para seniman melalui media apapun, termasuk lewat media digital yang ditampilkan oleh seniman kontemporer dengan media digital, Bill Viola.

Dalam sebuah wawancara dengan Viola, ia mengatakan bahwa seni yang digelutinya adalah seni mengenai kehidupan yang bermuara pada pergerakan, pencarian daya hidup dan pengendapan melalui refleksi.

Dengan ini, saya tertegun mengingat Tempo yang menampilkan Last Supper edisi Soeharto beberapa tahun yang lalu. Satu sisi menyentuh realitas di negeri ini, di lain sisi menyentuh 'self' kekristenan. Lepas dari pada semua itu, seni kekristenan memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam tatanan sosial. 

Saya juga mengoleksi berbagai macam versi ekspresif lukisan last supper mulai dari McDonald, Robocop, Disneyland, Rasta ala Bob Marley, Batman, hingga bintang Hollywod; atau saat pencekalan Madonna di suatu konser karena menggunakan simbol salib dan sang artis pun disalibkan di sana. Artinya, seni dalam mazhab manapun dan seni Kristianitas ini tidak berhenti di lampu merah kefanatikan, melainkan melaju karena perkembangan iman dan zaman.

Sambil menuliskan ini, saya membayangkan entah bagaimana lagi salib Kristus atau simbol-simbol agama lain, akan diekspresikan 1000 tahun lagi. Semuanya ini memiliki satu tujuan: merealisasikan simbol iman melalui media agar direfleksikan banyak orang.

Kita tentu percaya bahwa otak dan raga kecil kita tidak mampu menampung pesona Allah Yang Maha Besar. Karena keterbatasan itu, yang ilahi terjabar dalam horison kreativitas yang indah; dan keindahan yang ditransformasikan itu meluap dan menjadi gerak yang menghidupkan jiwa lain. 

Eugene Veron bertutur bahwa art is the manifestation of emotion, obtaining external interpretation, now by a series of gestures, sounds or words governed by particular rhythimic cadence. Tidak sebatas itu, seni tidak berarti menteror kesasaran rutin, tidak untuk mengguncang pikiran dan nurani dalam menimbang pemecahan masalah fisik manusia, tapi bersasar untuk menggerakkan orang mengambil dan mengayunkan cangkul, lalu menebarkan benih yang bernama kasih dalam peradaban dunia. 

Inilah kesanggupan manusia 'menjabarkan'  Allah yang Indah. Memang bahasa manusia terlalu miskin ketika berhadapan dengan kekayaan realitas, kata Leonardo Boff. Dengan kata lain, dalam seni kita dapat membaca realitas nyata, entah itu berupa salib atau bukan, yang berdaya mengungkap.

Dengan kata lain pula, seni salibiah atau simbol agama lain bukan dipandang semata-mata oleh pameran indah yang dangkal seperti kata Baumgarten, tetapi menyuarakan bonum, verum dan pulchrum. Dalam hal ini, seni yang keluar dari anthroposentris bukan lagi sebatas karya gampangan yang bisa disepelekan karena bertendensi materialis, melainkan kedalaman jiwa terpendam yang menyuarakan Allah.

Sebagaimana seni salib yang multi-interpretatif itu, pada dasarnya kita semua memiliki simbol tertentu yang kita percaya memiliki line khusus antara subyek dan alter subyek itu. Seni salib yang adalah seni pemerdekaan, masih kekal zaman karena sanggup mengekspresikan kisah manusia yang hidup dalam chaos sekaligus dalam kasih. Seni ini serentak menyuarakan pergerakan karena kematian, kehidupan yang mendalam, pengorbanan, dan nilai-nilai sebuah kesetiaan. 

Adanya keterbatasan telah mendorong manusia untuk memahami Allah secara baru dalam hidup. Itulah paskah sejati. Secara puitis dituangkan filsuf asal Indonesis, Ign. Bambang Sugiharto dalam syair karyanya, yakni "proses merangkak dari hablur demi untuk mengetuk pintu-Mu". Untuk mendekati Allah, pesona salib atau apapun boleh menjadi sarana. Itu hanya image, itu hanya simbol. Tapi jelaslah bahwa sasarannya adalah hidup dalam kubangan cinta Allah. Bukan sekedar hadir di depan sebuah simbol agama, tetapi menanggap keindahan ilahi ini lewat berdiam diri, menikmati, dan rendah hati. 

Salib, bukan berarti meniadakan kekritisan. Tapi menjadikan kekritisan itu tombak demi kemajuan dalam iman. Salib juga bukan berarti kekristenan semata, tapi secuil ekpresi ekslusif akan kebobrokan bangsa manusia atas tindakan Cinta dan Keindahan. Karena itulah, pesona Kristianitas (dan agama lain) yang tersentralisasi pada manusia Yesus (dan nabi lainnya) terus menjelajahi zaman, menggigit, dan membelai manusia yang dekat dengan-Nya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2