Mohon tunggu...
Martino
Martino Mohon Tunggu... Peneliti dan Freelance Writer

Gemar Menulis, Penimba Ilmu, Pelaku Proses, Penikmat Hasil

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Melawan Sepanjang Zaman: Pergerakan Anti-Narkoba di Era 4.0

10 Agustus 2019   23:06 Diperbarui: 10 Agustus 2019   23:19 0 0 0 Mohon Tunggu...
Melawan Sepanjang Zaman: Pergerakan Anti-Narkoba di Era 4.0
The Narco Art that documents the absurd war on drugs (source: https://medium.com/@analuisagonzalez

"Narkoba takkan memberimu apa-apa atau membuatmu menjadi siapa-siapa, bahkan akan membuatmu kenapa-kenapa di dunia yang memberi begini banyak kesempatan."(Alberthein Endah)

Awal peredaran narkoba di Indonesia tidak terlepas dari kiprah pemerintah kolonial Belanda di wilayah Jawa abad 17. Melalui perusahaan dagangnya, VOC memonopoli opium sebagai komoditas perdagangan dan objek pajak. Tercatat sekitar 56 ton per tahun opium mentah didatangkan kurun waktu 1619 hingga 1799. Peredaran opium semakin menyebar di tahun 1800-an pasca dibukanya perkebunan opium di Asahan, Aceh dan Madiun. Maraknya candu di Jawa kala itu bahkan mencapai rerata konsumsi 51,3 ton per tahun.

 Candu sempat dijadikan gaya hidup dan suguhan tamu oleh masyarakat kelas atas. Adapun bagi kalangan pengembara, seniman, pedagang dan buruh-buruh perkebunan, opium digunakan untuk mengurangi rasa sakit, lelah, dan mendapat sensasi kesenangan. Efek candu yang terus menggejala memunculkan gelombang anti candu tahun 1800-an. Di Minangkabau muncul Gerakan Padri memerangi pemakaian candu yang telah merusak tatanan budaya religius masyarakat Minang. Di Jawa, Paku Buwono IV gencar menuliskan peringatannya untuk menjauhi madat dalam syair "Wulangreh" karena risau dengan banyaknya masyarakat yang terjangkit candu. 

Pada 1899, tokoh wanita, Kartini mengungkapkan keresahannya dalam sebuah surat. "Pada awalnya Anda makan opium, tetapi pada akhirnya opium itu akan memakanmu."..Oh! Penderitaan, kengerian yang tak terkatakan itu telah dibawa ke negara saya!" demikian tulisnya pada beberapa bagian surat tertuju untuk Stella Zeenhandelaar. Keresahan yang sama juga dialami organisasi pergerakan pemuda Boedi Oetomo pada 1900-an. Boedi Oetomo menyuarakan agar Bumi Putera Jawa berhenti mengisap candu serta mengajukan usulan pendidikan anti opium pada pemerintah.

Era Baru Perusak yang Perkasa 

Modernisasi merubah tatanan pergerakan anti narkoba semakin kompleks. Narkoba berkembang dari keragaman jenis, modus peredaran dan penyalahgunaannya. Narkoba bahkan digunakan sebagai alat proxy war yang menyasar generasi muda untuk melemahkan negara. Kecanduan total dan kerumitan efek samping narkoba begitu perkasa menghancurkan manusia dan aspek sosial-kulturalnya. Begitu berbahayanya, bangsa yang terdisrupsi narkoba terancam mengalami putus generasi sehingga memicu gagalnya pembangunan. 

Di dunia, produksi opium dan ganja terus meningkat seiring hadirnya kratom sebagai narkoba jenis baru berbasis tanaman yang semakin populer. Perkembangan narkoba sintetik tak kalah pesat. Sabu-sabu tetap menjadi ancaman, sebab Asia Tenggara menjadi pasar terbesarnya. Disaat bersamaan, rekayasa kimia terus dilakukan sindikat narkoba untuk melahirkan jenis narkoba yang tidak teridentifikasi oleh hukum. Tujuannya agar dapat diedarkan dan dijual bebas, baik secara langsung maupun dalam bentuk olahan dan campuran. Terbukti 803 jenis narkoba baru telahmasuk
ke Indonesia dalam kurun 2009-2017. 

Industri 4.0 turut mempengaruhi rantai bisnis narkoba menjadi kian canggih. Sistem online menjadi senjata baru mendistribusi dan memasarkan narkoba lintas wilayah. Proteksi terhadap transaksi dibuat demikian mutahkir dengan web kamuflase, grup khusus, kode dan sandi. Hasilnya, transaksi jual beli online menjadi sangat privat ditengah pasar yang semakin luas dan sulit terlacak. Fakta ini menampilkan ancaman peredaran narkoba melalui sistem online ditengah kehidupan milenial yang juga tumbuh bersama teknologi. Hal itu patut diwaspadai. Sebab dengan semakin
mudahnya akses via jejaring online, potensi peredaran narkoba masuk kekehidupan milenial semakin tak berjarak. 

Menurut BNN, sekitar 27,32 persen dari 3,3 juta penyalahguna narkoba di tahun 2017 merupakan pemuda berstatus pelajar dan mahasiswa. Banyak faktor yang menjerumuskan pemuda dalam narkoba. Coba-coba, pengaruh teman, ingin diterima dalam kelompok, stres dan pelarian menjadi faktor pendorong yang umum. Dari sana penyalahgunaan narkoba tumbuh menjadi "penyakit menular" yang dikenalkan, diperkuat dan dipelihara dalam lingkungan sosial tertentu sehingga menjadi ketergantungan kronis. 

Efek ketergantungan menimbulkan kerusakan tidak hanya secara fisik tetapi seluruh aspek kehidupan. Pecandunya akan terjebak dalam situasi semu seperti merasa diterima dalam kelompok baru, memiliki teman, dan aktivitas menyenangkan dibanding sebelumnya. Ditahap ini narkoba telah mengambil alih kendali penuh terhadap individu. Praktik adiksi narkoba pun berkembang menjadi ragam jenis (polydrug). Hal tersebut didorong kebutuhan untuk memenuhi atau menambah sensasi kepuasan. Selain itu, ketersediaan dan harga narkoba yang dinamis membuat para pecandunya
mencoba mencari substitusi narkoba untuk dikonsumsi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x