Mohon tunggu...
Marsha Bremanda TR
Marsha Bremanda TR Mohon Tunggu... A learner, Dreamer, Achiever

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019 di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Find me on instagram @marshabremanda

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Persepsi: Siapa yang Benar dan Siapa yang Layak Didengar?

29 September 2020   01:24 Diperbarui: 29 September 2020   01:50 131 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Persepsi: Siapa yang Benar dan Siapa yang Layak Didengar?
Sumber : https://www.universitaspsikologi.com/2018/06/persepsi-penjelasan-pengertian-dan.html

 

Saat pertama kali melihat gambar tersebut, mana jawaban yang benar menurut Anda? Apakah gelas yang setengah terisi? Atau setengah kosong? Mana jawaban yang benar?

Yup, jawabannya tidak ada yang benar maupun salah. Masing-masing individu tentu memiliki jawaban yang berbeda-beda. Semua pikiran dan jawaban inilah yang kita sebut persepsi. Sebelum mengulik lebih dalam lagi mengenai persepsi, yuk kita ketahui dulu apa sih arti persepsi itu.

Persepsi merupakan bagaimana kita memandang , memahami dunia dan membangun realitas tersebut. Proses membangun realitas ini terdiri dari menerima, mengidentifikasi dan memaknai suatu hal melalui indera yang kita miliki. Persepsi yang kita miliki dapat terbentuk dari faktor keluarga, sejarah, agama, dan identitas budaya (Samovar, 2017).

Kita hidup di lingkungan yang dipenuhi dengan berbagai informasi. Setiap hari, indera kita menerima banyak sekali rangsangan fisik dan psikologis. Sebelum tercipta persepsi, kita akan mengalami beberapa proses diantaranya ada seleksi, yang mana kita memilah dan memilih informasi mana yang akan kita terima dan mana yang harus dibuang. Lalu langkah selanjutnya adalah dari informasi yang sudah kita terima ini akan diberi makna berdasarkan pengalaman yang pernah kita alami. Dengan adanya pemberian makna inilah dapat menghasilkan persepsi baik tentang orang lain, benda, informasi, dan lain sebagainya.

Persepsi masing-masing individu berbeda. Tergantung dari sudut mana mereka memandang sebuah persoalan yang ada. Sangat mungkin, dengan adanya perbedaan tersebut dapat memunculkan konflik satu sama lain. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan perbedaan karena persepsi yang berbeda merupakan penyebab umum dari perselisihan antarbudaya dan konflik. Maka dari itu, persepsi sangat penting saat berkomunikasi dengan seseorang dari budaya lain. Penting sekali untuk memiliki pemahaman lebih mengenai perbedaan budaya satu sama lain.

Menurut Alder dan Gunderson (dalam Samovar, 2017, hlm. 201) mengatakan ada lima karakteristik persepsi. Diantaranya perspektif itu selektif.  Dengan banyaknya rangsangan yang kita terima, kita hanya fokus pada infomasi yang menarik perhatian indera kita. Lalu yang kedua adalah persepsi itu dipelajari melalui pengalaman hidup. Selain itu persepsi juga dapat ditentukan oleh budaya. Budaya mengajari kita makna dibalik sebagian besar pengalaman yang kita miliki. Persepsi juga konsisten dalam menginterpretasikan sesuatu dan biasanya tahan terhadap perubahan. Yang terakhir, persepsi tidak akurat. Memandang dunia melalui lensa subjektif yang dipengaruhi oleh budaya, nilai serta pengalaman pribadi yang kita miliki.

Kembali dengan gambar di atas. Apapun jawaban yang diberikan masing-masing itu semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Ketika kita memberikan jawaban bahwa gelas tersebut terisi setengah, ini bisa jadi menandakan bahwa indera kita memberi perhatian lebih dengan isi gelas yang hampir penuh tersebut. Lalu mungkin dengan kita memiliki pengalaman pernah mendengar seseorang berkata bahwa gelas tersebut terisi setengahnya karena ia melihat dari sisi positif yang ada bukan dari sisi negatifnya, menjadikan sudut pandang kita berubah dan kita belajar dari pengalaman tersebut. Tentu bisa jadi budaya di sekitar kita telah menanamkan nilai-nilai optimis sehingga ketika melihat gambar diatas, persepsi kita langsung memunculkan pikiran optimis bahwa gelas tersebut berisi setengah air daripada gelas nya kosong setengah.

Namun kembali lagi bahwa tidak ada persepsi dengan jawaban yang benar maupun salah. Semuanya sama rata. Yang ada hanyalah persepsi yang berbeda. Perbedaan ini bisa kita kelola dengan baik agar tidak memunculkan konflik sehingga kehidupan kita dapat berjalan dengan damai dan harmonis.

Apapun persepsimu, tidak ada yang salah dan benar. Kita semua tetap satu ditengah banyaknya perbedaan. Unity In Diversity.

#kabuajy05

Sumber :

Samovar, Larry A, Richard E. Porter, Edwin R. McDaniel, (2017). Communication Between Cultures. Boston: Cengage Learning US.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x