Mohon tunggu...
Marsellia Claudia
Marsellia Claudia Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Turn everything into love

Everything is served honestly

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Polisi Masa Kini di Mata Gen Z: Berjiwa Jenderal Hoegeng dan Bersemangat "Presisi"

23 Juni 2021   23:21 Diperbarui: 24 Juni 2021   14:47 1019
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jenderal Hoegeng, sumber: kompas.com

Mari kembali ke profil Jenderal Hoegeng. Ada aneka keutamaan seorang polisi yang ditunjukkan Jenderal Hoegeng semasa hidup beliau: Hoegeng yang semoga menjadi teladan bagi anggota Polri zaman sekarang.

Pertama, kejujuran

Hoegeng pernah bertugas sebagai Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatra Utara (sejak 1956-1960) di Medan. Waktu itu wilayah Medan dikenal sebagai daerah pusat perjudian dan penyelundupan.

Seperti lazimnya praktik suap pada masa itu, sejumlah bandar judi mencoba meluluhkan hati Hoegeng dengan suap berupa rumah dan mobil mewah. Alih-alih tunduk pada bandar judi, Hoegeng memilih tinggal di hotel sampai akhirnya menerima fasilitas rumah dinas yang resmi.

Para cukong judi tak menyerah begitu saja. Mereka mengirim aneka perabot mewah ke rumah dinas Hoegeng. Hoegeng yang terkejut ketika rumah dinasnya telah dipenuhi perabot akhirnya menyuruh agar perabot haram itu dibuang keluar. Aksi jujur Hoegeng mendapat simpati warga Medan.

Kedua, kesederhanaan hidup

Hoegeng dikenal sebagai polisi yang hidup ugahari. Beliau berupaya mencukupkan diri dan keluarganya dengan penghasilan yang didapat dari keringat dan kerja keras.

Setelah menjabat sebagai Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara, pada 1960 Hoegeng dipercaya menjadi Kepala Jawatan Imigrasi. Kala itu istri beliau memiliki sebuah toko bunga di garasi rumah mereka di Jalan Muhammad Yamin, Jakarta.

Hoegeng meminta Merry, istrinya untuk menutup toko bunga yang selama ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Rupanya Hoegeng tidak ingin para pejabat dan kolega membeli bunga di toko Merry demi menyenangkan hati Hoegeng selaku Kepala Imigrasi.

Ibu Merry Hoegeng, sumber: merdeka.com
Ibu Merry Hoegeng, sumber: merdeka.com

Hoegeng memilih hidup ugahari daripada mendapatkan gelimang uang berbumbu konflik kepentingan. Selain itu, Hoegeng juga peduli pada nasib toko-toko bunga lain yang bisa kehilangan pelanggan jika toko bunga istrinya terlalu laris.

Kepedulian pada orang kecil dan sikap mengutamakan kerja keras ini sudah tampak saat Hoegeng menjadi siswa SMA di Yogyakarta. Sembari menuntut ilmu, Hoegeng rupanya membentuk band Hawaian guna mendapat penghasilan.

Puncak kesederhanaan Hoegeng tampak justru pada akhir masa pengabdiannya sebagai Kapolri. Selepas pensiun, Hoegeng tidak punya rumah dan mobil pribadi. Tersentuh oleh situasi itu, Kapolri Mohammad Hasan mengalihkan rumah dinas Hoegeng menjadi milik sang polisi budiman. Beberapa kapolda ramai-ramai patungan guna membelikan Holden Kingswood untuk Hoegeng.

Polisi masa kini bersemangat "Presisi"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun