Mohon tunggu...
Marqus Trianto
Marqus Trianto Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Pendidikan Sejarah. Sedang belajar menulis.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sejenak, Menilik Dialektika Kampus

2 April 2019   01:26 Diperbarui: 2 April 2019   06:59 0 2 0 Mohon Tunggu...

"Tugas, tugas, tugas! Laporan, laporan, laporan!" Demikian kurang lebih yang sering menjadi keresahan mahasiswa. Meski demikian, masih ada yang menganggap, jika tugas dan  laporan adalah sesuatu yang menarik. Sampai sini, dapat diketahui ada dua kecenderungan. Pertama, ada mahasiswa yang menganggap jika tugas dan laporan adalah hal yang membosankan. Sebaliknya, ada yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan.

Tetapi, apakah dunia kampus hanya melulu soal itu? Okelah,mungkin masih ada kegiatan di UKM, Organisasi, dan kepanitiaan. Mungkin masih ada yang lain lagi? Silahkan tambahkan sendiri.

Mahasiswa akan selalu identik dengan "kegiatan". Jelasnya, mahasiswa adalah orang yang berkegiatan. Baik yang akademik, maupun non akademik. Baik yang di dalam kampus maupun di luar kampus. Tugas, laporan, UKM, organisasi, dan kepanitiaan merupakan unsur-unsur dari kegiatan. Selanjutnya, saya akan menyebut kelima unsur itu dengan kegiatan saja.

Kegiatan tentu penting. Pasalnya, kegiatan adalah bentuk aplikatif dari idealisme. Dengan adanya kegiatan, ide atau gagasan kita bisa termanifestasikan. Sebagai misal, kita punya gagasan untuk ikut serta memajukan literasi kampus. Akhirnya kita memutuskan untuk ikut LPM. Benar, di LPM tersebut, kita bisa menerbitkan majalah kampus, mengadakan seminar, bazar buku, dan sebagainya yang berbau literasi. Itulah yang saya maksud dengan termanifestasi. 

Gagasan kita untuk memajukan literasi kampus hanyalah sesuatu yang tidak nampak. Tetapi, majalah yang kita terbitkan, seminar dan bazar yang kita adakan adalah sesuatu yang nampak. Kita perlu ikut LPM supaya gagasan tersebut menjadi nampak. LPM, atau kembali sebut saja kegiatan, adalah media dimana gagasan kita menjadi nampak.

Sebagai misal lagi, ada sebuah diskusi di kelas. Siapapun yang bertanya, menyanggah, atau menambahkan akan mendapatkan nilai. Semua mahasiswa di kelas tersebut pasti punya gagasan. Saya jamin. Akan tetapi, tidak semua mengungkapkannya. Yang bertanya, menyanggah, atau menambahkan dapat nilai. Sedangkan yang hanya menggagas saja tidak akan dapat apa-apa. Dalam diskusi tersebut, pertanyaan, sanggahan, atau tambahan yang kita ungkapkan adalah manifestasi dari gagasan kita. Adapun diskusi itu sendiri merupakan media, supaya gagasan kita dapat menjadi pertanyaan, sanggahan, atau tambahan. Lewat diskusi tersebut, apa yang tidak nampak menjadi nampak. Kemudian, nilai tersebut merupakan penghargaan yang kita terima. Sekali lagi hanya contoh.

Masalahnya, apakah "kegiatan" dalam batasan yang saya buat sendiri tersebut merupakan satu-satunya cara supaya apa yang tidak nampak menjadi nampak? Saya berpendapat: tidak. Gagasan kita untuk ikut serta dalam memajukan literasi kampus bisa dilakukan dengan aktif mengirim gagasan-gagasan kita dalam bentuk tulisan ke redaktur LPM terkait, tanpa harus masuk menjadi pengurusnya. Demikian juga, kita tidak perlu menunggu sampai ada diskusi di ruang dan waktu kuliah. Untuk menyampaikan gagasan-gagasan tersebut, kita bisa membuat ajang diskusi sendiri! Tidak perlu menunggu sampai ada jam kuliah.

Apabila melihat dari judulnya, poin utama saya bukan di contoh pertama. Melainkan di contoh kedua, yaitu tentang diskusi.

Apa yang saya rasakan selama ini adalah telah terjadi dikotomisasi di dunia kuliah, yang diciptakan oleh mahasiswa sendiri. Termasuk mungkin saya diantaranya. Dikotomisasi yang saya maksud di sini adalah tentang apa yang "kegiatan" dan non kegiatan. Semoga pembaca masih ingat, tentang apa yang saya maksud kegiatan di sini. Dan tentu, itu hanya diksi yang saya buat sendiri.

Singkatnya, kegiatan adalah semua hal atau aktivitas yang bersifat formalistis. Sedangkan apa yang saya sebut non kegiatan, adalah segala sesuatu yang tidak formal. Apabila melakukan yang formal maka kita akan mendapatkan nilai, ijazah, sertifikat atau pujian. Sebaliknya, jika kita melakukan apa yang tidak formal [sepertinya] kita tidak akan mendapat "apapun".

Diskusi pada saat mengerjakan tugas, laporan, jam kuliah, dan rapat organisasi, adalah yang formal. Tanpa ada tugas dari dosen, bisakah kita mendiskusikan tugas dan laporan? Apabila tidak ada jam kuliah, mungkinkah kita tetap berdiskusi tentang mata kuliah terkait? Kemudian, apakah rapat organisasi merupakan satu-satunya tempat bagi kita untuk banyak bicara?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x