Marius Gunawan
Marius Gunawan Konsultan

Tulisan sebagai keber-ada-an diri dan ekspresi hati

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Inilah yang Disesali Prabowo Seumur Hidupnya

24 April 2019   08:52 Diperbarui: 24 April 2019   12:13 3800 25 18
Inilah yang Disesali Prabowo Seumur Hidupnya
Sumber gambar: liputan6.com

Pilpres sudah berakhir. Jika prediksi Quick count menggambarkan hasil Pilpres, maka pemenang nya kembali Jokowi. Itu berarti Prabowo sudah kalah dua kali berturut - turut dalam kontestasi berhadapan dengan Jokowi.

Ini kisah politik yang diwarnai banyak drama. 

Kita tahu pada awalnya Jokowi hanya seorang walikota di Solo. Dia memang sudah didengar reputasinya, namun tetap hanya seorang yang mengepalai sebuah kota. Sebenarnya ada banyak bupati - bupati dan gubernur lain yang punya reputasi lebih moncer dari Jokowi pada waktu itu.

Tapi itulah jalan garis tangan. Tak seorangpun yang tahu.

Pada saat yang sama, pada waktu itu Gerindra baru muncul sebagai Partai Politik yang ingin menunjukkan reputasinya agar dilirik masyarakat.

Nampaknya memang, sejak awal Prabowo ingin membangun partai Gerindra sebagai kendaraan politik nya untuk meraih kursi kepresidenan. 

Setelah gagal berpasangan dengan Megawati sebagai calon wakil presiden, keinginan Prabowo bukannya surut. Mimpinya justru lebih melambung. Dia ingin menjadi Presiden.

Untuk mencapai impiannya itu, strategi dan langkah taktis pun mulai Prabowo susun.

Kita masih ingat, betapa sambil beriklan ria di televisi selama setahun Gerindra juga mulai bermanuver untuk merebut simpati masyarakat. Salah satu yang selalu Gerindra coba tunjukkan adalah mendukung calon pimpinan daerah yang bagus dan didukung masyarakat. 

Nampaknya strategi ini cukup berhasil. Langkah dukungan dan gambaran tegas serta berwibawa yang selalu ditampilkan dalam iklan dan pilihan politik yang nasionalis serta menghargai kebhinekaan membuat partai Gerindra menjadi lebih besar.

Salah satu langkah strategis dan taktis dalam strategi ini adalah memasangkan Ahok yang waktu itu masih di partai Gerindra dan Jokowi dari PDIP sebagai calon Gubernur DKI. Pada saat itu PDIP dan Gerindra masih mesra.

Kalau dilihat signal politik saat itu, sebenarnya PDIP awalnya tidak terlalu sreg mencalonkan Jokowi. Karena saat itu Jokowi memang bukan siapa - siapa di Partai PDIP. Dia baru bergabung sebagai anggota dan bukanlah pengurus partai. 

Namun rupanya loby - loby yang dilakukan Prabowo yang masih akrab dengan Megawati, akhirnya Jokowi pun didapuk berpasangan dengan Ahok untuk maju di Pilkada DKI.

Kala itu koalisi PDIP dan Gerindra menghadapi lawan yang cukup berat. Jokowi - Ahok berhadapan dengan petahana yang didukung partai PKS yang waktu itu menguasai DKI Jakarta. Namun usaha dan dukungan Gerindra yang luar biasa akhirnya meloloskan Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Sampai di situ drama Gerindra masih ceria. Partai ini semakin bisa membuktikan bahwa mereka memang mendukung calon - calon yang didukung oleh masyarakat. 

Dengan mendukung Ahok, Gerindra juga mempunyai reputasi tersendiri sebagai partai nasionalis yang mendukung pluralitas dan inklusifitas.

Namun babak drama selanjutnya benar - benar di luar skenario Prabowo. Jalan lempang untuk menuju kursi kepresidenan tiba - tiba terhalang.

Janji tidak tertulis yang rupanya sudah disepakati antara PDIP bahwa setelah dirinya mau menjadi cawapres Megawati maka PDIP akan mendukung Prabowo sebagai capres tidak ditepati.

Dalam Pilpres 2014 PDIP melihat ada peluang untuk mendukung calon dari Partainya yakni Jokowi yang memang sedang populer karena gebrakan nya sebagai Gubernur DKI.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2