Mohon tunggu...
Mariemon S. Setiawan
Mariemon S. Setiawan Mohon Tunggu... Silentio Stampa!

Seorang mahasiswa filsafat. Menyukai sepakbola, sastra, musik, dan makan. Berasal dari Maumere, Flores-NTT.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Liverpool, Beberapa Dugaan, dan Target yang Tersisa

16 April 2021   23:21 Diperbarui: 17 April 2021   10:52 162 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Liverpool, Beberapa Dugaan, dan Target yang Tersisa
Kekecewaan Mohamed Salah usai timnya disingkirkan Real Madrid pada babak perempatfinal Liga Champions beberapa waktu lalu. (Sumber: Tempo)

(Saya menduga, sebelum kompetisi musim ini dimulai, Jurgen Klopp menulis daftar target piala yang akan didaratkan di Anfield, lalu ia gantungkan daftar tersebut di ruang ganti. Harapannya, semua target itu diberi tanda centang pada akhir musim nanti.)

Mulanya saya menduga, bahwa Jurgen Klopp dan pasukannya akan bertarung habis-habisan pada babak perempatfinal UEFA Champions League (UCL) melawan Real Madrid kemarin, jika target mereka adalah 'trofi', bukan sekedar 'melangkah jauh' di ajang tersebut. 

Persaingan di Liga Inggris sudah tidak memungkinkan lagi untuk mempertahankan gelar, sekalipun mereka meraup poin penuh dan Manchester City kalah dalam semua pertandingan sisa.

Mulanya saya menduga, bahwa Liverpool akan mengalahkan (atau paling tidak menahan imbang) Real Madrid di Stadion Alfredo di Stefano, lalu mempecundangi mereka di Anfield. 

Namun, apa yang terjadi di Madrid ibarat deja vu untuk The Reds. Skor yang sama seperti final UCL 2018 lalu itu (3-1) adalah hasil yang setimpal untuk Liverpool dan tiga gelandangnya yang kerap kebingungan untuk membangun serangan. Klopp tampaknya berusaha mencari 'alasan lain' (baca: kambing hitam) untuk kekalahan timnya, dan ia menemukan penyebabnya:lapangan yang kecil. (Meski pada kenyataannya, lapangan di Anfield tidak lebih besar dari lapangan di Stadion Alfredo di Stefano. Stadion itu tampaknya punya 'kekuatan' tersendiri, persis seperti nama orang yang diabadikan untuk stadion tersebut.)

Mulanya saya menduga, leg kedua di Anfield akan menyajikan cerita tentang epic comeback lagi, tetapi rupanya kali ini Real Madrid masih terlalu besar untuk ditaklukan. 

Klopp seolah-olah telah memberi harapan palsu kepada para penggemarnya (dan kepada para pembenci Madrid). Aroma pesimis mulai nampak ketika ia berbicara soal kehadiran para pendukung di stadion, dan akan 'mencoba' untuk bangkit dari ketertinggalan. 

Absennya Sergio Ramos dan Raphael Varane harusnya menjadi keuntungan bagi Liverpool, tetapi ternyata ketangguhan Courtois, lambatnya gerak Sadio Mane dalam menyambut beberapa umpan penting di depan gawang, hingga ketidakberuntungan akhirnya memaksa para pemain Real Madrid merayakan kemenangan di Anfield.

Sebelum melawan Real Madrid, posisi Liverpool ibarat 'maju kena, mundur kena'. Ingin fokus di UCL, tetapi mereka masih tertatih-tatih di liga dan bahaya terdepak dari zona UCL musim depan masih mengintai. Ingin fokus di liga yang sudah tidak mungkin dimenangi, tetapi nanggung di UCL. Entah mengapa, Liverpool tampaknya lebih memilih memperbaiki posisi mereka di klasemen.

Saya (kembali) menduga, jangan-jangan merebut tiket UCL otomatis musim depan lebih penting dari trofi Si Telinga Lebar; mengakhiri musim di atas Manchester United (MU) lebih bergengsi ketimbang trofi UCL ketujuh; dan menduduki posisi empat besar setelah sempat tercecer hingga posisi ke-8 lebih heroik ketimbang menjadi juara UCL tanpa Van Dijk. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN