Mohon tunggu...
Mariemon Simon Setiawan
Mariemon Simon Setiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Silentio Stampa!

Orang Maumere yang suka makan, sastra, musik, dan sepakbola.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Lima "Sajian" Sepakbola Maret 2021 (Bagian I)

1 April 2021   13:43 Diperbarui: 5 April 2021   08:50 172
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Penyerang Swedia, Zlatan Ibrahimovic, sedang mengikuti jumpa pers setelah ia dipanggil kembali untuk membela timnas Swedia. (Sumber: YahooBerita)

Di London Utara, Arsenal telah menjadi ikon selama bertahun-tahun sejak Liga Inggris bertansformasi pada awal dekade 1990-an. Puncaknya, mereka menjuarai Liga Inggris tanpa tersentuh kekalahan pada musim 2003/04.

Perkembangan sepakbola Inggris memaksa peta persaingan perburuan gelar juara makin lebar, dari The Big Four (Manchester United, Liverpool, Arsenal, Chelsea) menjadi The Big Six (ditambah Manchester City dan Tottenham Hotspurs).

North London Derby yang sudah panas sejak dulu itu pun makin membawa. Arsenal dan Tottenham yang sama-sama pernah menjadi runner-up UCL itu terus bersaing menjadi penguasa sesungguhnya di London Utara.

Arsenal boleh saja mengklaim kekuasaan, tetapi klasemen menunjukkan bahwa Tottenham masih lebih baik dari Tim Meriam London yang masih berjuang di papan tengah. Namun ketika keduanya bertemu pada pertenggahan Maret lalu, Tottenham harus mengakui keunggulan Arsenal (2-1)

Tampaknya kejayaan masa lalu, prestasi, sejarah, dan gengsi menjadi salah satu kekuatan tim asuhan M. Arteta itu untuk mengalahkan rival mereka. Sekalipun terseok-seok di klasemen, setidaknya mereka masih menjadi penguasa London Utara.

Hal yang sama pun terjadi di Manchester. Kota Manchester sejak dulu identik dengan warna merah, setidaknya sebelum Sheikh Mansour menyusui Manchester City dengan uang minyaknya. Sejak Sir Alex Ferguson pamit dari Old Trafford, performa Manchester United (MU) menjadi tidak stabil. Hal ini dimanfaatkan oleh 'saudara sekota' mereka untuk melaju kencang (3 kali juara).

Musim ini, The Citizens kembali tampil apik dengan menguasai puncak klasemen, sementara MU tertahan di urutan ke-2. Selisih poin keduanya pun cukup lebar dengan dua digit angka. Ketika keduanya bertemu pada 8 Maret lalu, MU di luar dugaan bisa menundukan City dengan skor meyakinkan, 2-0.

Seperti Arsenal, tampaknya MU pun menjadikan kejayaan masa lalu, prestasi, sejarah, dan gengsi sebagai amunisi tambahan untuk menundukkan rival mereka tersebut. Yah, sekalipun di klasemen mereka terpaut jauh, toh setidaknya mereka masih mewarnai Manchester dengan warna identik: merah.

Sementara di Jerman, Erling Haaland yang digadang-gadang bakal menjadi bintang masa depan mendapat pelajaran berharga dari penguasa sejati Bundesliga: Robert Lewandowski (tepatnya, Bayern Munchen).

Dalam laga melawan Bayern Munchen pada awal Maret lalu, Haaland (yang sebelumnya dipuja-puja berkat performa apik di UCL) sudah menggila dengan mencetak dua gol pada sepuluh menit awal laga. Sayangnya, ia harus tertunduk lesu (selain karena cedera) di akhir laga setelah Munchen membalikan keadaan menjadi 4-2, dan Lewandowski mencetak hattrick.

Lupakan 'jika saja Haaland tidak cedera', sebab Dewa Sepakbola menginginkan Haaland mendapat pelajaran. Hah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun