Mohon tunggu...
Maria Neno
Maria Neno Mohon Tunggu... Mahasiswa

Cuma gadis yang tergila-gila dengan militer, dan berharap suatu hari menjadi salah satu anggota dalam barisan militer.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Hari Pendidikan Nasional, dan Peran Serta Orangtua dalam Pendidikan Anak

2 Mei 2019   11:06 Diperbarui: 2 Mei 2019   11:09 0 4 1 Mohon Tunggu...

Selamat hari pendidikan nasional bagi kita semua! Sekiranya ini adalah salah satu kalimat yang selalu diucapkan banyak orang ketika hari itu tiba. Kalimat ini bukan hanya sekedar ucapan belaka, melainkan menjadi salah satu titik tolak agar pendidikan di tanah air semakin maju.

Hari pendidikan nasional merupakan hari dimana kita memperingati hari kelahiran sang pelopor pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara.

Dari jamannya Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi, perubahan pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan kearah yang lebih baik. Prestasi-prestasi gemilang yang di raih putra-putri bangsa kian mengharumkan nama negeri.

Sesuai judul artikel di atas, saya ingin berbagi pandangan saya tentang peran orangtua dalam pendidikan anak-anak mereka. Selama saya masih di bangku menegah hingga sekarang di bangku perguruan tinggi, satu yang selalu mengganjal dalam pikiran saya yakni kenapa orangtua lebih menginginkan(terkadang memaksa) anaknya meningkatkan nilai pada mata pelajaran yang rendah tanpa melihat kembali pada nilai yang lebih tinggi.

Contohnya pada adik perempuan saya  yang sekarang duduk dikelas tiga SMP dan sebentar lagi akan lulus. Sebelumnya pada penerimaan rapor kenaikan kelas, didalam rapor itu ada dua nilai merah yakni mata pelajaran matematika dan pendidikan kewarganegaraan. Alhasil, dia omeli habis-habisan karena nilai merah itu.

 Padahal pada mata pelajaran senibudaya, bahasa indonesia, dan ilmu pengetahuan sosial, dia meraih nilai yang tinggi. Namun, orangtua saya tak menghiraukan itu. Kejadian ini bukan hanya dialami adik saya saja, tapi juga saya sendiri, dan anak-anak tetangga didekat rumah saya. 

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, kenapa orangtua lebih berfokus pada nilai yang rendah ketimbang nilai yang lebih tinggi? Apa hanya nilai rendah yang perlu ditingkatkan dan nilai yang tinggi di abaikan? Atau apa menurut orangtua mata pelajaran seperti itu tak ada apa-apanya?

Mungkin teman-teman semua juga  pernah mengalami hal ini. Dimarahi orangtua karena ada beberapa nilai  merah di rapor tapi tidak di puji saat ada nilai yang tinggi. Ya, kebanyakan orangtua bilangnya itu bentuk kekecewaan mereka karena hasil yang anak-anak mereka dapatkan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan dan ingin agar selanjutnya dapat memperoleh nilai yang lebih baik lagi.

Disaat yang bersamaan ada nilai yang lebih tinggi, malah tidak dipuji dan dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Padahal, kalau kita lihat lagi, itu merupakan kemampuan dari sang anak yang seharusnya semakin di asah dan didukung penuh oleh orang tua. Akan tetapi, orangtua malah mengharuskan agar anaknya mengikuti apa yang mereka mau ketimbang apa yang menjadi kelebihan dan kemampuan anak mereka. Akibatnya, untuk mengikuti kemauan orangtua anak-anak jadinya belajar dengan terpaksa, sehingga kemajuan yang terjadi juga tidak seberapa dan kemampuan yang mereka miliki malah tidak berkembang.

Memang banyak anak yang berprestasi, tapi tak sedikit anak-anak yang tidak seperti itu. Semuanya tergantung pada dukungan orangtua, dan pendidikan yang mereka dapatkan. Pemerintah telah mengusahakan agar pendidikan di Indonesia merata, dan sekarang tinggal bagaimana dukungan orangtua pada anak-anaknya agar lebih berprestasi.

Oleh karena itu di Hari Pendidikan Nasional ini, saya ingin menyampaikan alangkah baiknya bila orangtua tidak mengedepankan ego mereka agar anak-anaknya mengikuti apa yang menjadi keinginan mereka, melainkan membuka mata dan melihat apa sesungguhnya yang menjadi kemampuan sang anak dan mendukung mereka. Karena salah satu faktor keberhasilan anak adalah dukungan orangtua.