Mohon tunggu...
Maria Kristi
Maria Kristi Mohon Tunggu... Not a tiger mom, but a dragon mom.

A mother and pediatrician https://healthykiddo.blogspot.com https://mariakristisworld.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Saat Saya Kecanduan Media Sosial

8 Mei 2021   10:56 Diperbarui: 8 Mei 2021   12:31 72 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Saya Kecanduan Media Sosial
Sumber foto: Sara Kurfeb/Unsplash

Ibu beranak tiga, pecinta kopi tapi harus pakai gula yang banyak. Itu adalah bio tercantum pada akun Facebook saya, tepat di bawah foto profil. Kalimat yang menjadi pengantar bagi orang-orang yang ingin mengenal saya lewat media sosial yang digawangi Mark Zuckerberg itu.

Ya, meskipun saya memiliki akun di beberapa media sosial lainnya seperti Twitter, Instagram, Linkedln, dan Quora (eh, Quora masuk media sosial atau tidak sih?) saya hanya aktif di Facebook. Khas generasi boomer, meskipun usia saya masuk ke golongan milenial. Di Facebook saya berteman dengan ibu, bapak, dan pakde-pakde saya. Hal ini membuat saya sedikit banyak merasa tua, tapi tidak ada yang lebih membuat saya merasa tua saat salah seorang kenalan yang usianya satu tahun lebih muda memberitahu bahwa ia tidak punya akun Facebook.

"Saya nggak main Facebook. Tapi saya punya akun Instagram. Kakak ada IG?"

Wkwkwk ... Saya punya akun Instagram juga sih, tapi nggak aktif. Foto terakhir yang saya unggah berasal dari tiga tahun yang lalu.

Bicara tentang media sosial, sebenarnya Kompasiana juga dapat dimasukkan ke dalam golongan media sosial lho. Lihat saja disclaimer di bawah yang menyatakan bahwa Kompasiana adalah platform blog sehingga isi artikel merupakan tanggungjawab penulisnya. Blog, yang sebenarnya merupakan singkatan dari weblog, merupakan salah satu media sosial tertua, yang muncul sebelum media sosial seperti yang kita kenal ini. Mungkin sama tuanya dengan kanal chatting MIRC.

Mengapa hari ini saya menulis tentang media sosial? Ya karena ini topik pilihan Kompasiana. Menulis topik pilihan adalah latihan terbaik untuk tetap menulis saat merasa nggak punya ide. Tantangannya ada pada bagaimana kita mengolah tema yang telah ditentukan menjadi tulisan yang enak disimak dan (kalau bisa) bermanfaat.

Sesuai judulnya, hari ini saya akan menceritakan tentang hubungan cinta tapi benci saya dengan media sosial. Kalau kata anak Jakarta Selatan, "sebuah love-hate relationship gitu". Terutama dengan akun Facebook saya sebagai akun media sosial utama. Saya tidak akan membahas Twitter dan Instagram sebab saya hanya menggunakan keduanya seperlunya. Twitter untuk melihat apa yang sedang happening di Indonesia dan Instagram untuk mendaftar simposium online di organisasi profesi yang saya ikuti.

Dimulai dengan saat saya mendaftar Facebook di tahun 2009 silam. Saya membuat akun Facebook karena teman-teman saya saat itu sudah beralih dari Friendster ke Facebook. Jadi mulanya sekadar ikut-ikutan, agar tidak tertinggal dari teman-teman.

Pada mulanya teman-teman media sosial (Facebook) saya hanyalah mereka yang saya kenal di dunia nyata. Ketika itu saya berprinsip bahwa media sosial adalah tempat untuk mencari tahu kabar terkini dari orang-orang yang sudah kita kenal sebelumnya (di dunia nyata), entah sebagai kawan, teman kerja, keluarga, maupun mereka yang sekadar "pernah bertemu" dengan kita.

Saya tidak tertarik untuk berkenalan dengan orang baru karena khawatir akan konsekuensi keamanannya. Ya kalau orang yang kenalan dengan kita di dunia maya itu orang baik-baik, bagaimana jika tidak? Tak kurang banyak berita tentang anak gadis yang dilarikan teman Facebooknya yang ternyata penjahat atau berita tentang mereka yang ditipu sejumlah besar uang. Saya tidak mau menjadi salah satu dari mereka.

Baru setelah Facebook meluncurkan setting terbarunya, tempat kita bisa memilih untuk membagikan sebuah postingan pada: diri kita sendiri, kenalan dekat (daftar teman yang kita pilih sendiri), teman di Facebook, dan publik, saya merasa lebih aman untuk berkenalan dengan mereka yang tidak saya kenal di dunia nyata. Orang-orang pertama yang saya tambahkan ke daftar teman ini adalah Kompasianer.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN