Kesehatan Artikel Utama

Setop Katakan "Nanti Disuntik Dokter" untuk Mendisiplinkan Anak

6 November 2018   13:24 Diperbarui: 7 November 2018   07:39 677 8 2
Setop Katakan "Nanti Disuntik Dokter" untuk Mendisiplinkan Anak
Sumber gambar: pamf.org

Sesungguhnya saya paling sebel sama orangtua yang jelas-jelas mengatakan "Nanti disuntik dokter lho." untuk sekadar "mendisiplinkan" anaknya. Andaikata hal itu dilakukan di depan saya, saya akan segera mengatakan pada sang anak "Jangan takut, Bu Dokter tidak akan nyuntik Adek hanya karena Adek lari-lari (atau nggak mau makan, atau nangis, atau minta jajan, atau apapun itu)." 

Apa sebab? Sebab biasanya anak yang sering ditakut-takuti akan disuntik dokter akan sulit sekali untuk diperiksa; yang teriak lah, kabur, dan sebagainya. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. 

Berbeda dengan anak yang tidak ditakut-takuti orangtuanya, mereka jauh lebih kooperatif. Bahkan ketika mereka memang harus mendapatkan obat suntik kemudian (yang nyuntik suster perawat, bukan dokternya. Hehe...)

Banyak orangtua yang menakut-nakuti anaknya dengan menggunakan sosok dokter, polisi, tentara, bahkan orang gila hanya karena mereka tidak mampu mendisiplinkan anaknya. 

"Ayo makan, kalau nggak mau makan nanti disuntik dokter lho." atau "Ayo mandi, kalau nggak mau mandi nanti ditangkap pak polisi lho." Lha, apa urusannya dokter sama anak yang tidak mau makan dan pak polisi sama anak yang tidak mau mandi? Tapi sedihnya, itulah yang sering terjadi. 

Orangtua semacam ini tidak mengerti bahwa dengan menakut-nakuti anaknya, nantinya mereka membuat anak berada dalam kesulitan yang lebih besar daripada sekadar tidak mau makan dan mandi.

Anak yang sering ditakut-takuti, akan menjadi sosok yang penakut. Paling tidak itu yang terlihat dalam jangka pendek. Takut diperiksa dokter, takut jika ada mobil polisi yang melintas, dan sebagainya. Bagaimana nanti ketika anak sakit dan perlu pergi ke dokter? Dia akan sulit sekali diperiksa. 

Dalam jangka panjangnya, anak yang sering ditakut-takuti akan menjadi orang yang selalu penuh dengan keraguan, kurang inisiatif, tidak berani menghadapi masalah, memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan selalu bergantung pada orang lain. Nah lho, bapak-ibu mau anaknya mengalami hambatan-hambatan tersebut di kemudian hari? Saya rasa tidak.

Sebenarnya ada cara yang jauh lebih mudah untuk mendisiplinkan anak ketimbang menakut-nakutinya. Yaitu dengan menjelaskan apa akibat dari perbuatannya. Misalnya anak tidak mau makan, beri tahu anak bahwa jika ia tidak mau makan, ia akan kelaparan dan harus menunggu sampai waktu makan selanjutnya. 

Jika anak masih tetap tidak mau makan, berikan konsekuensi yang telah dikatakan, yaitu anak baru boleh makan di waktu makan selanjutnya sehingga ia merasakan sendiri apa korelasi antara tidak makan dan rasa lapar. 

Kemudian jika anak tidak mau mandi, badannya akan menjadi bau dan kemungkinan gatal-gatal. Dan sebagainya dan sebagainya. Jangan anggap remeh anak yang terlihat masih kecil. Ia dapat mengerti apa yang kita katakan dan menangkap penjelasan kita.

Juga jangan pernah membohongi anak karena ia akan mengingatnya. Ibu saya tidak pernah mengatakan bahwa es krim kampung yang dijual berkeliling itu tidak enak atau pahit, karena itu jelas bohong. Siapapun tahu bahwa es krim kampung itu rasanya enak dan saya akan tahu jika sedang dibohongi hanya dengan sekali mencicipi. 

Alih-alih berbohong, ibu mengatakan bahwa pembuatan es krimnya belum tentu bersih (belum tentu lho, bukan pasti tidak bersih) sehingga saya bisa sakit jika memakannya. Saya pun tetap dibelikan ketika ngeyel minta jajan es krim tersebut. Ketika akhirnya saya sakit batuk-pilek, ibu saya tinggal berkata "Nah kan ..."

Itu saja sharing saya hari ini. Semoga bermanfaat dan semakin sedikit orang tua yang menakut-nakuti anaknya untuk mendisiplinkan mereka.