Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Social worker

"Jika kita bukan bagian dari solusi, maka kita adalah bagian dari masalah" -Eldridge Cleve- http://www.kaisaindonesia.org/

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Sorry Bos, Panggil Gue Sarjana Teknik

19 Juli 2012   03:11 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:48 5549 25 33
Sorry Bos, Panggil Gue Sarjana Teknik
13426416391189120140

[caption id="attachment_201398" align="aligncenter" width="470" caption="berganti kaos, siap mendapat sambutan"][/caption]

Bagaimana rasanya lulus sarjana dan menjadi wisudawan? Setiap orang pasti mempunyai rasa dan kenangan yang berbeda. Karena selain era yang berganti, juga disebabkan gaya penyelenggaraan setiap perguruan tinggi berbeda. Seperti yang dilakukan ITB dalam acara wisuda sarjana di Sasana Budaya Ganesha pada tanggal 14 Juli 2012.

Ada acara standar tetapi menjadi menarik ketika ada sesi pembacaan kesan-kesan konyol para wisudawan khususnya yang lulus “mulur” hingga tahun keenam.

Menimbulkan gelak tawa, misalnya:

·Cita-cita :  “Mencari Istri yang menjadi tulang punggung keluarga!” ……..Grrrrr…….

·Yang paling tidak disukai : “Melihat teman dengan Indeks Prestasi (IP) diatas 3 …….Grrrr…….

·Yang paling disukai : “:Menjahit dan menyulam”………Grrrr……

Semuanya jauh dari kesan jaga image (jaim), juga jauh dari kesan sok jaga wibawa seperti tampilan luar anak-anak ITB.

Khusus prodi Teknik Sipil, kelompok  wisudawan  yang menamai angkatannya “Cakar langit” didampingi Liaison Officer (LO)  Apa tugas seorang LO? Banyak. Mulai dari menyongsong setiap wisudawan dan orangtuanya hingga memastikan kelancaran dan kenyamanan wisudawan beserta  keluarganya. Seperti mengantar dari kampus ke gedung Sabuga hingga menyiapkan baju ganti wisudawan.

Wisudawan prodi Teknik Sipil harus mengganti bajunya dengan kaos, celana olah raga dan sandal jepit karena akan mendapat sambutan khusus dari adik-adik angkatannya. Termasuk  wisudawan perempuan  cantik-cantik yang semula mengenakan kebaya, bersanggul dan bermake-up lengkap.

[caption id="attachment_202681" align="aligncenter" width="346" caption="before"]

13432540641311153498
13432540641311153498
[/caption] [caption id="attachment_202682" align="aligncenter" width="241" caption="after wisuda"]
13432542451251535785
13432542451251535785
[/caption]

Sebelum mendapat urutan untuk di sambut dan diarak, para wisudawan dijemur di tengah lapangan yang terletak disamping gedung Sabuga. Hingga akhirnya rombongan pengarak datang dengan segala atribut, yel-yel dan musiknya.

[caption id="attachment_201404" align="aligncenter" width="580" caption="sah, melepas status mahasiswa"]

13426425551356841507
13426425551356841507
[/caption]

[caption id="attachment_201400" align="aligncenter" width="592" caption="beda himpunan, beda gaya"]

13426419451203006850
13426419451203006850
[/caption]

Arak-arakan tiap prodi sangat menarik. Ada yang berpakaian bak Snow White, ada yang berpakaian bak Indian. Bahkan ada yang bertelanjang dada dan dicoret moret badan serta wajahnya. Entahlah apa kata orang tuanya apabila melihat anak-anaknya rela  berkorban ria demi acara wisuda kakak kelasnya.

[caption id="attachment_201401" align="aligncenter" width="580" caption="sambutan teknik mesin memang beda (kiri) ; arak-arakan tiap himpunan (kanan)"]

13426420461598158598
13426420461598158598
[/caption]

Layak disimak penjelasan Daniel yang menjadi LO Eko, anak sulung penulis yang ikut diwisuda kali ini. “ Kita kan nanti juga dilayani dan dirayain seperti angkatannya bang Eko sekarang”.  Mungkin itulah sebabnya setiap anggota himpunan di ITB  all-out dalam  penyelenggaraan  pesta wisuda .

Tidak hanya menyiapkan arak-arakan, panitiapun memastikan  orang tua dan keluarga wisudawan mendapat santap siang dan tempat istirahat yang nyaman. Selain tentu saja mendapat kesempatan melihat para wisudawan dibully.

Dimulai dari semprotan air dan guyuran bedak (atau tepung?) di sepanjang perjalanan Sabuga hingga kampus (dulu kantung plastik  digunakan untuk menimpuk wisudawan  tetapi sekarang diganti pistol air dan selang air yang lebih “ramah lingkungan”). Kemudian wisudawan laki-laki   diinstruksikan untuk push-up. Kenapa? Ya ngga tau, pokoknya push-up aja deh ......  ^_^

Sudah? Belum. Untuk memasuki area, para wisudawan diharuskan menggunakan semacam bakiak panjang yang digunakan bareng sehingga memerlukan kerjasama. Selain itu ada juga ada juga lomba mengambil uang koin dari bola yang sudah berlumur kecap. Dan lomba memasukkan belut dari ember ke botol air mineral.

[caption id="attachment_201402" align="aligncenter" width="480" caption="dikerjain......"]

13426422311211771931
13426422311211771931
[/caption]

Tapi jangan membayangkan para kakak kelas ini “nrimo” dibully begitu saja oleh adik kelasnya. Karena lebih tepatnya mereka saling membully. Iyalah kakak angkatan yang sudah lulus pastinya mempunyai wibawa senioritas sehingga ajangpun berubah menjadi saling semprot air dan guyur tepung. Selain itu mayoritas panitia adalah teman seangkatan wisudawan yang belum lulus sidang.

Yang menyeramkan  adalah ketika para wisudawan tiba-tiba berteriak dan  menghambur ke jalan penghubung antar himpunan. Rupanya mereka melihat “musuh bebuyutan” yaitu arak-arakan wisudawan Teknik Pertambangan. Untung acara berubah menjadi saling mengucapkan shalom. Nggak lucu juga apabila ditengah kebahagiaan wisuda mereka saling tawuran karena  “sisa dendam” pertandingan sepak bola antar prodi.  Selain dengan Teknik Pertambangan, Teknik Sipil  mempunyai “lawan” lainnya, yaitu Geodesi.  Beruntung urutan arak-arakan Geodesi  jauh di depan sebelum Teknik Sipil. Yaelah nak, kalo udah menyangkut sepak bola ternyata kalian nggak beda dengan Viking dan Jakmania  ^_^

[caption id="attachment_201403" align="aligncenter" width="519" caption="Teknik Sipil vs Teknik Pertambangan ..........shalom......"]

1342642347942098495
1342642347942098495
[/caption]

Di penghujung acara, para LO yang kesemuanya merupakan mahasiswa angkatan termuda  memberikan butir-butir “kata mutiara” sebagai kenang-kenangan kepada masing-masing wisudawan yang didampingi. Sungguh mengharukan. Ada ikatan batin. Tidak sekedar mengenal : “Oh, si A adalah kakak kelasku, dia angkatan sekian”. Tapi lewat ajang ini setiap mahasiswa yang bergabung dalam himpunan di prodinya bisa berjejaring, saling peduli dan menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.

Bukankah itu yang terpenting?  Bukankah arti kelulusan hanya sekedar menutup satu lembaran lama  dan membuka lembaran  baru ?

Acara wisuda berlangsung tanggal 14 Juli dan baru diposting tanggal 19 Juli karena mumpung anak-anak ngumpul, penulis asyik membuat ayam kodok dan fermented cassava cake yang gosong ini ^_^

**Maria Hardayanto**

[caption id="attachment_201395" align="aligncenter" width="360" caption="ayam kodok, tempe, capcay (ceritanya) dan fermented casava cake"]

13426407742034275012
13426407742034275012
[/caption]

[caption id="attachment_201605" align="aligncenter" width="392" caption="ada apa sih? T. Pertambangan lewat ya?"]

1342722365521757239
1342722365521757239
[/caption]

13427225561045726701
13427225561045726701

[caption id="attachment_201607" align="aligncenter" width="411" caption="persis perploncoan ^^"]

1342722722187184463
1342722722187184463
[/caption] [caption id="attachment_201608" align="aligncenter" width="411" caption="terkena kecap dan semprotan air"]
134272294859847518
134272294859847518
[/caption] [caption id="attachment_201609" align="aligncenter" width="420" caption="terkilirpun tertawa .... ^^"]
1342723354756041697
1342723354756041697
[/caption] [caption id="attachment_201610" align="aligncenter" width="461" caption="before ........... "]
1342724066822434942
1342724066822434942
[/caption] [caption id="attachment_201611" align="aligncenter" width="526" caption="after........^^"]
13427244091054501725
13427244091054501725
[/caption]