Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Social worker

Kompasianer of The Year 2012; Founder #KaisaIndonesia; Member #DPKLTS ; #BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) http://www.kaisaindonesia.org/

Selanjutnya

Tutup

Energi Artikel Utama

"Welcome Euro IV", Selamat Datang Generasi Sehat dan Berkualitas

5 Februari 2018   17:10 Diperbarui: 6 Februari 2018   14:27 2372 6 1
"Welcome Euro IV", Selamat Datang Generasi Sehat dan Berkualitas
sumber: whitewolfpack.com

Bagai hidup di "kamar gas", seperti  itulah situasi  warga New Delhi, kota dengan polusi udara terparah di dunia. Dilaporkan media terbesar setempat, NDTV, Kamis (9/11/2017) Menteri Utama India Arvind Kejriwal menyebut polusi udara New Delhi sangat parah sehingga mirip kamar gas.

Istilah kamar gas digunakan untuk mendeskripsikan situasi mematikan saat banyak orang disekap dalam ruangan bergas yang membuat mereka mati secara perlahan. Seperti yang dilakukan Nazi terhadap warga Yahudi pada decade 1940-an.

"Warga sebaiknya menghindari jalan raya pada pagi hari atau beraktivitas di luar ruangan", demikian pernyataan Kementerian Kesehatan India. Polusi udara yang terjadi merupakan yang terburuk yang pernah terjadi di ibu kota India yang berpenduduk 40 juta orang tersebut selama hampir 20 tahun terakhir.

Saking  buruknya kualitas udara, jumlah kasus penyakit pernapasan di India tercatat tertinggi di dunia, dengan 159 kematian per 100.000 orang pada tahun 2012.

sumber: tribuneindia.com
sumber: tribuneindia.com
Selain kematian, polusi udara menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Seperti kelahiran  dini, sesak napas, kanker hingga kemandulan. Sejumlah peneliti di Chinese University menemukan bahwa tingginya polusi udara menyebabkan buruknya kualitas sperma. Setiap 5 ug per meter kubik peningkatan partikel kecil polusi, terdapat 26 persen peningkatan risiko ukuran dan bentuk sperma berada di bawah 10 persen batas normal. (sumber).

Bagaimana dengan Indonesia? Sama saja! Mengutip data World Health Organisation (WHO) tahun 2012, Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa setiap tahunnya terjadi 60.000 kematian di Indonesia akibat pencemaran udara.

Khusus Kota Jakarta, 57,8 persen warganya menderita sakit akibat terpapar pencemaran udara, sehingga harus membayar biaya berobat mencapai 38,5 triliun per tahun," ujar Karliansyah, di Jakarta, Senin (3/4/2017).

sumber: indianexpress.com
sumber: indianexpress.com
Karena emisi kendaraan menjadi penyebab utama tragedi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.20/2017 mengenai Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, Kategori N dan Kategori O, pada tanggal 10 Maret 2017.

Konsekuensinya hanya gasoline dengan nilai oktan minimal 91, tanpa kandungan timbal dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm yang boleh didistribusikan Pertamina. Sedangkan syarat gasoil adalah dengan nilai Cetane 51, kandungan sulfur 50 ppm dan viskositas min. 2 mm/s -- maks 4,5 mm/s.

Penerapan regulasi KemenLHK tersebut sangat penting karena tidak ada negara yang membangun industri untuk  generasi yang sakit-sakitan, impoten bahkan sekarat akibat cemaran udara.

Regulasi KemenLHK berkaitan erat dengan Euro IV yang telah diberlakukan negara-negara di dunia. Bahkan Negara-negara Asean, seperti Thailand, Malaysia dan Filipina telah memulainya sejak tahun 2012. Bahkan Singapura lebih lama lagi, Euro IV diwajibkan sejak tahun 2006. (sumber)

Euro IV merupakan standar emisi yang ditetapkan negara-negara Eropa (European Union/EU) yang bertujuan memperkecil kadar bahan pencemar yang dihasilkan kendaraan bermotor. Yang dimaksud bahan pencemar yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan tersebut adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), sampai volatile hydro carbon (VHC) dan sejumlah partikel lain.

Selain standar Euro, standar lainnya adalah Environmental Protecton Agency (EPA). Standar ini diterapkan oleh industri otomotif di Amerika Serikat. Kendati demikian, banyak produsen yang berkiblat pada standar Euro yang sudah berlaku sejak 1988 dengan sebutan Euro 0. Penghitungan yang lebih ketat mulai diwajibkan pada 1992 dengan Euro I. Lalu secara bertahap EU memperketat peraturan menjadi standar Euro 2 (1996), Euro 3 (2000), Euro 4 (2005), Euro 5 (2009), dan Euro 6 (2014).

Banyak keuntungan dan relevansi penerapan Euro IV, yaitu:

1. Sesuai komitmen Indonesia dalam KTT Perubahan Iklim.

Yaitu mengurangi gas rumah kaca sebesar 29 % di tahun 2030. Kontribusi yang diharapkan dapat mendorong terciptanya kesepakatan dalam usaha membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celcius.

2. Sesuai dengan kebijakan Gaikindo

 Lini produksi pabrik otomotif menjadi lebih efisien. Karena selama ini produsen mobil di Indonesia harus membangun lini produksi ganda, yaitu satu lini untuk produk domestik dan satu lini lain untuk produk ekspor.

 Kukuh Kumara, Sekertaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengingatkan bahwa pemberlakuan Euro IV harus  seiring dengan penyediaan bahan bakar,  agar tidak timbul masalah di lapangan.

"Teknologi mesin kendaraan Euro IV lebih sensitif, dan di negara yang sudah memberlakukan ini, mobil-mobilnya dilengkapi dengan on board diagnostic (OBD). Jadi kendaran itu tidak bisa jalan ketika mengonsumsi bahan bakar dengan spesifikasi tidak sesuai, untuk membendung konsumen   nakal, yang akan menimbulkan dampak negatif lebih besar," ujar Kukuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2