Maria Fillieta Kusumantara
Maria Fillieta Kusumantara pelajar/mahasiswa

Writing.Listening music.Woman Fashion.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Tinta yang Tumpah

12 Oktober 2018   11:31 Diperbarui: 12 Oktober 2018   11:38 319 0 0
Tinta yang Tumpah
Sumber : kisspng.com

"Annyeonghaseyo*, senang bertemu denganmu di acara One Hour with Takeshi Maru, Lee Young Im noonim**. Aku dengar ini kali pertamamu mengunjungi Jepang, apa itu benar? Lantas apa yang membuat anda terkesan saat berkunjung ke negara ini?", tanya Takeshi Maru sang pembawa acara talkshow. "Ya. Aku sebenarnya sudah lama ingin ke Jepang tapi belum sempat karena berbagai kesibukanku. Tapi menurut aku Jepang itu negri yang indah, keren, penduduknya sangat ramah, sopan dan hangat terutama penggemar-penggemarku, aku sangat suka dengan sikap mereka", jelasku singkat lalu mengangkat tangan membentuk tanda love diikuti suara histeris dari para penggemarku.

"Ah, ngomong-ngomong soal kariermu nih, sejak kapan kau menyukai dunia tulis-menulis dan berkeinginan menjadi seorang novelis?", tanya Takeshi lagi. "Sebenarnya aku suka menulis sejak aku kecil. Dulu aku sama sekali belum ada keinginan untuk menjadi seorang novelis, aku malah tertarik terjun di bidang pertelevisian melihat bisnis ayahku di bidang pertelevisian Inggris. Tapi takdir berkata lain, jadi aku memutuskan kembali ke Korea dan melanjutkan hobi masa kecilku yang kemudian berbuah jadi pekerjaanku sekarang", jelasku.

"Boleh cerita sedikit tentang bagaimana sih bisa tercetus ide novel Love Under Pressure?", tanya Takeshi penasaran. "Hmm, kisah di dalam novel ini berasal dari kisah cinta pertamaku saat aku bekerja di sebuah stasiun televisi Inggris. Semua orang tentu berharap kisah cinta mereka akan berjalan baik bahkan sempurna, tetapi karakter utama dalam novel ini tidak mengalami hal itu. Dia mencintai atasannya yang ternyata mantan pacar teman kuliahnya sendiri dan telah memiliki satu anak dengan masa lalu keluarga yang buruk sebagai mantan pecandu narkoba. Saat dia berusaha menerima semua kenyataan yang ada, dia mengalami hal yang menyiksa dirinya, dikerubuti paparazzi, dilecehkan, dikejar-kejar media hingga diberitakan yang bukan-bukan tanpa sama sekali mendapatkan pertolongan dan bantuan dari orang terdekatnya. Sampai akhirnya dia frustasi dan memilih untuk menyingkir diam-diam ke Korea untuk menata lagi kehidupannya", ujarku panjang lebar.

"Wow, cerita yang luar biasa, noonim. Adakah keinginan untuk membuat sekuel dari novel anda seperti yang diharapkan penggemar?", tanya Takeshi usai bertepuk tangan bersama para penggemar. "Hmm, konsep mentah untuk sekuel sudah ada namun untuk judul masih dirahasiakan, no spoiler", kataku lalu tertawa. "Oke oke, noonim. Ditunggu segera sekuelnya", tutup Takeshi.

"Ternyata benar dugaanku selama ini. Kau membeberkan semua kejadian itu dalam novelmu dan di acara talkshow itu", gumam Griffin di ruangannya. "Katanya kau hanya mau baca novelnya saja dan tidak mau mengikuti acaranya karna tidak sempat, ternyata kau mengikuti lewat internet saat jam kerja ya, dasar", kata Tony tiba-tiba mengunjungi ruangan kerja Griffin. "Tony, apa yang kau lakukan disini?", kata Griffin kaget. "Sejak kapan seorang sahabat dilarang mengunjungi sahabatnya sendiri?", tanya Tony membela diri. "Aku hanya kaget bro, kau ternyata tidak bekerja tapi malah sibuk membuntuti mantan wanitamu", kata Tony lalu menenggak segelas air minum. "Kenapa tidak kau lanjutkan acaranya? Bukankah kau baru menonton 30 menit dari durasi sepanjang 1 jam?", tanya Tony seraya membungkukkan badan kearah laptop untuk melihat lebih jelas.

"Tony", panggil Griffin pelan. "Ya, bro, what's up?", tanya Tony penasaran. "Aku dan keluargaku sudah melakukan kesalahan yang tak termaafkan pada Young Im yeobo***. Masih adakah kesempatan bagiku untuk dimaafkan? Mungkin memang kita tak lagi bisa menjalin kasih, tapi bisakah aku dan dia tetap berteman dan ia tak membenci keluargaku?", ucap Griffin pelan tak sadar air matanya menetes. "Cie ileh sok pake bahasa Korea segala kau ini", gelak Tony. "Aku tidak sedang bercanda, Tony", bentak Griffin. "Bagaimana menurutmu? Haruskah aku terbang ke Korea untuk meminta maaf padanya", tanya Griffin serius. "Sebentar, apa kau yakin dia sebegitu bencinya pada keluargamu?", tanya Tony tidak percaya. "Menurut novel yang kubaca seperti itu", ungkap Griffin jujur.

"Hmm, kalau aku sih terserah padamu saja. Apa lagi yang bisa kulakukan sebagai sahabat selain mendukung dan menyemangatimu? Aku hanya berpesan, kalau kau mau minta maaf padanya, harus benar-benar kau lakukan dengan tulus. Jangan kau buat hatinya makin sakit. Apalagi kalau hanya ingin menjaga popularitas keluargamu, lebih baik kau kubur dalam-dalam saja permintaan maafmu itu. Ingat, wanita paling tidak suka janji manis dan pengkhianatan", bisik Tony. "Aku Griffin Atkinson dengan tulus ingin minta maaf pada Young Im yeobo. Aku tersiksa dengan mimpi-mimpi burukku selama ini dan rengekan Tuscany memanggil-manggil namanya", ujar Griffin bangkit dari kursinya seraya sedikit berteriak bak membacakan deklarasi kemerdekaan.

"Hei, kau tak perlu seperti itu, bro. Ini di kantor, bukan di lapangan", kata Tony sambil menggerakkan tangan menutupi mulut Griffin. "Ma-maaf", ucap Griffin. "Baiklah, cepatlah pesan tiket ke Bandara Incheon sekarang, kurasa rumahnya tidak jauh dari Bandara Incheon", pesan Tony. "Ru-rumahnya dekat Bandara Incheon? Kau tau darimana?", tanya Griffin. "Ya, aku lihat melalui sosial medianya saat memenuhi permintaanmu untuk mencari informasi tentangnya waktu itu. Apa kau lupa?", terang Tony. "Oh, tidak aku tidak lupa. Aku akan pesan tiket sekarang", jawab Griffin lalu menghambur ke mejanya membuka situs pemesanan tiket melalui laptop.  "Oke, jangan lupa selesaikan pekerjaanmu. Aku mau menghadiri rapat dulu", tutup Tony.

Davis, Young Im, siapapun namamu, aku rela terbang jauh ke negara yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Negara tempatmu dan ibumu tinggal sekarang. Kuharap kau membuka lebar-lebar pintu maaf untukku dan keluargaku. Aku tahu ini mungkin kejahatan kami yang tak termaafkan dan sungguh terlambat aku melakukan ini, tapi aku ingin memperbaiki hubungan kita walaupun tak lagi menjadi kekasih. --To Be Continued-

*terjemahan : Halo

**sebutan formal (dalam hubungan pekerjaan atau situasi sedang bekerja) pada kakak perempuan untuk bawahan/pihak yang lebih muda berjenis kelamin laki-laki dalam bahasa Korea

***sebutan sayang/yang terkasih dalam bahasa Korea