Maria Fillieta Kusumantara
Maria Fillieta Kusumantara pelajar/mahasiswa

Writing.Listening music.Woman Fashion.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lembaran Baru

11 Oktober 2018   08:11 Diperbarui: 11 Oktober 2018   08:14 470 2 0
Lembaran Baru
Sumber : http://marketplus.co.id/

Setahun kemudian di Bandara Incheon...

         "Maaf aku sibuk dengan pekerjaan baruku jadi baru bisa mengangkat teleponmu. Ada apa?", tanya Davis usai mendengar telepon genggamnya berdering. "Aku dan keluargaku berusaha mencari dan menghubungimu selama berbulan-bulan dan kau masih bertanya ada apa? Dimana kau sekarang?", bentak Griffin gusar mendengar jawaban Davis. "Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk resign dari kantor dan tinggal bersama ibuku di Korea. Sekali lagi aku minta maaf sepertinya hubungan kita tidak dapat berlanjut, Sir", balas Davis pelan. "Lee Young Im, ternyata kau masih disini toh. Ayo segera naik pesawat. Sebentar lagi kita akan berangkat", teriak sang ibu terengah-engah.

        "Apa maksudmu, Davis? Je...", tanya Griffin terputus. Suara siapa tadi itu? Kenapa dia memanggil Davis dengan nama Lee Young Im? Apa jangan-jangan sejak kepindahan Davis ke Korea, dia sengaja mengganti namanya untuk menghilangkan jejak?

Suara laptop dibuka...

Davis Devonne McLarren atau populer dengan nama kecil sekaligus nama penanya, Lee Young Im adalah seorang penulis muda bestseller berkebangsaan Korea-Inggris yang terkenal sejak novel perdananya berjudul Abbaggam-eul Neukkineun Salang (Love Under Pressure) dirilis Februari lalu. Jadwal sekarang : Abbaggam-eul Neukkineun Salang (Love Under Pressure) Japan Book Signing and Talkshow 2-3 Maret 2018 @TokyuPlazaOmotesandoHarajuku @ShibuyaShoppingDistrict 1P.M-end.

            "Jadi begitu ya. Dia sekarang beralih profesi jadi penulis novel. Apakah kisah di novel perdananya ini memang diadaptasi dari kejadian nyata? Rasanya aku tidak asing dengan judulnya", tanya Griffin pada Tony usai membuka laptopnya untuk mencari informasi terbaru Davis. "Hmm, maybe. Coba baca saja novelnya kalau kau penasaran", jawab Tony. "Ya. Mungkin dari situ aku bisa tahu semua maksud kelakuan Davis setahun belakangan ini", balas Griffin sambil mengelus wajahnya.

           "Kau ini kenapa masih saja mencari informasi tentang wanita itu sih? Bukannya tadi kau cerita bahwa dia tidak ingin melanjutkan hubungan denganmu lagi?", tanya Tony. "Kau masih mencintainya ya?", tanya Tony lagi dengan suara lebih pelan. "Bukan urusanmu. Tolong belikan novel itu dan terjemahkan semuanya dalam bahasa Inggris. Ah, satu lagi, secepatnya ya", perintah Griffin pada Tony sembari setengah berjalan menuju ruangannya.

          "Baiklah, tapi kenapa kau tidak datang saja ke acaranya? Kupikir kau akan dapat jauh lebih banyak informasi daripada hanya membaca novelnya saja", saran Tony. "Aku tidak punya waktu untuk pergi ke Jepang sekarang. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sepeninggal Davis dari kantor ini", kata Griffin pelan menarik ujung kerah kemeja Tony kuat-kuat. "Ah, kalau soal itu aku bisa bilang kepada HRD untuk memasang iklan lowongan pekerjaan supaya kau tidak perlu bersusah payah mendouble pekerjaan seperti itu", ucap Tony lalu membetulkan kerah kemejanya. "Tidak perlu", tegas Griffin lalu menghambur ke ruangannya secepat kilat.

Pyosideung-i kkeojyeo iss-eum-eul natanaeneun pyosideung-i issjiman,i bihaeng-giga wanjeonhi chaglyug hal ttaekkaji gyesog anjeon belteuleul chag-yonghaneun geos-i johseubnida (The seat belts lights have been turned off, but we recommend that you keep wearing the seat belt until this plane has landed perfectly)

         "Kau tidak apa-apa, Young Im?", tanya sang ibu yang duduk bersebelahan denganku. "Ya, Eomma*", jawabku singkat sembari memperbaiki posisi dudukku. "Apa kau yakin? Aku melihat wajah yang tidak baik-baik saja sejak tadi. Ada apa denganmu? Apa ini berkaitan dengan pria yang barusan meneleponmu?", tanya ibu lagi.

Kenapa pria itu lagi-lagi menghubungiku? Tidakkah kau sadar bahwa aku sangat menderita akibat kejadian itu. Memori dikejar-kejar bahkan diberitakan yang bukan-bukan oleh media terus saja terngiang di kepalaku. Dan lagi, kau tidak berbuat apapun untuk menolong orang yang nyatanya kau sebut kekasihmu ini. Dulu kupikir resign dari kantor dan kabur ke Korea adalah jalan terbaik untuk mengakhiri masalah ini. Ternyata malah sebaliknya, kau masih terus memburu dan menanyaiku macam-macam. Kalau saja ibuku tidak menghentikan omonganmu di telepon, mau kau apakan lagi diriku? Tidak cukup puas kah kau menginjak-injak diriku bagai biskuit yang jatuh di jalan?

           "Ahjumma** Lee Min Gyu, apa kau mau pesan makan siang?", tanya seorang pramugari. "Oh, sebentar akan kutanyakan pada anakku dahulu", jawab ibu singkat. "Hei, Young Im kenapa kau malah melamun seperti itu. Oke kau bisa menjawab pertanyaanku itu nanti, tapi jawab dulu pertanyaanku yang ini, kau mau pesan makan siang?", tanya ibu pelan. "Hmm, eomma saja yang pesan makan siangnya. Aku tidak lapar", jawabku singkat lalu berpaling kearah jendela. "Kau serius, nak?", tanya ibu tak percaya lalu memesan pada pramugari usai melihat anggukanku. "Baik, pesanan anda akan segera saya antarkan", kata pramugari usai mencatat pesanan ibu.

          "Kau kenapa tiba-tiba begini, nak? Apa benar ini karena pria yang meneleponmu? Apa yang dia katakan? Kau kelihatannya...", kata ibu terputus. "Eomma, dimana kamar kecilnya?", tanyaku cepat. "Oh, ah itu ada di belakang kursi terakhir", jawabnya lalu aku segera berlari dan memuntahkan sesuatu yang mengganjal di perutku ke kloset. Pasti pria itu lagi yang menelpon Young Im. Tega-teganya dia mengacaukan kehidupan baru anakku lagi. Dasar pria kurang ajar!  

            "Kau tidak apa-apa nak? Butuh minyak angin?", tanya ibu sambil menyodorkan minyak angin padaku usai kembali duduk. "Kau harus sehat, nak. Setelah ini kita akan banyak bertemu penggemarmu. Tentu kau tidak ingin membuat mereka kecewa, kan?", kata ibu lagi sembari aku mengambil minyak angin darinya dan mengolesnya sedikit di tubuhku. Aku mengangguk mendengar perkataan ibu.

 Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapan penggemar-penggemarku. Tidak adil rasanya kalau penggemarku rela datang jauh-jauh dan membayar mahal tiket masuk tetapi mereka hanya melihat sang idola terkapar tidak berdaya. Tapi bagaimana cara menghentikan kemunculan memori ini? Ini semua gara-gara dia. Ya ini semua gara-gara pria yang dulu kucintai itu, cihhhh...harusnya aku tak pernah mengenalnya sedikit pun. Katanya menyesal telah meninggalkanku sendirian disaat diriku benar-benar membutuhkan pertolongannya, nyatanya itu cuma omong kosong, dia tak mau membantu menyelesaikan masalah media yang terus mencecarku bahkan memberitakan yang bukan-bukan hingga membuatku frustasi. Lelaki macam apa dia itu?

          "Ahjumma** Lee Min Gyu, pesanan anda telah siap. Selamat menikmati", ujar pramugari membawakan pesanan lalu menerima sejumlah uang dari ibu. "Terimakasih", ucap ibuku. "Maaf sebelumnya, sebaiknya Ahjumma selesaikan masalah dengan kerabat Ahjumma ini. Tidak baik terbang dalam perasaan yang kacau", bisik sang pramugari. "Kau ini, jangan ikut campur urusan orang lain", bisik ibu lalu menggerakkan tangan tanda menyuruhnya cepat pergi.

         "Young Im, aku memesan bibimbap with chicken bulgogi kesukaanmu. Kau bilang kau tidak akan mengecewakan penggemarmu kan? Makanlah sekarang sebelum pesawat mendarat", kata ibu sambil menyodorkan sekotak pesanannya padaku. "Ah, aku tahu kau tidak lapar tapi kau akan banyak aktivitas yang menguras energimu. Ini penting lho, supaya kau tidak pingsan ditengah acara. Apa perlu kusuapi?", tanya ibu dua menit kemudian setelah aku mengambil sekotak bibimbap with chicken bulgogi pesanannya dengan malas. "Tidak perlu, Eomma. Aku akan memakannya sendiri", balasku singkat.

Chin-aehaneun seung-gaeg, god nalita gonghang-e chaglyughabnida. uijaleul dwilo jabgo teibeul-eul jeobgo bihaeng-giga meomchul ttaekkaji jeonja jangchileul jagdongsikiji mal geos-eul sang-gihabnida. daehan hang-gong-gwa hamkke yeohaeng hae jusyeoseo gamsahabnida. da-eum yeohaeng-eun eonjena jeulgeobseubnida. (Dear passengers, soon we will land at Narita Airport. We remind you to hold back of the chair, fold the table and not activate your electronic device until the plane has stopped. Thank you for your choice to fly with Korean Airlines, hopefully your next trip is always fun.)

             "Tatoeba, i yon'imu ga tchaku shita. I yon Imu, issho ni shashin o toru koto wa dekimasu ka?"1, teriak salah satu penggemar setelah melihatku keluar dari tempat pengambilan bagasi pesawat. "Anata, i yon Imu wa nihongo o rikai shite imasen. Anata wa Kankoku-go ya eigo o hanasu no ga yoideshou"2, bisik teman salah satu penggemar ini pelan. "Ilbon-e osin geos-eul hwan-yeonghabnida, Lee Young Im. Hamkke sajin-eul jjig-eul su iss-eulkkayo?"3, teriak teman salah satu penggemar tadi dalam bahasa Korea. Melihat penggemarku yang meskipun lelah menunggu, namun masih sangat antusias menyambut kehadiranku di Jepang seketika membuyarkan sejenak memori pahit yang mampir di kepalaku barusan. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan karna takkan datang dua kali. Aku meminjam handphone mereka kemudian berfoto cantik sebagai kenang-kenangan. --To Be Continued-

terjemahan : Lihat, Lee Young Im sudah tiba. Lee Young Im, bisakah kita berfoto bersama?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2