Mohon tunggu...
Maria Cecilia Gritce Widjaja
Maria Cecilia Gritce Widjaja Mohon Tunggu... Dokter - dokter umum

Membahas seputar masalah kesehatan

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Lupus, Penyakit dengan "Seribu Wajah"

11 Juni 2022   21:50 Diperbarui: 11 Juni 2022   22:19 168 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi: penyakit lupus dengan gambar seribu wajah/Foto: Pixabay

Saat ini sudah sering kita mendengar penyakit lupus dan beberapa artis baik di Indonesia atau di luar negeri mengidap penyakit ini. Lupus atau lebih lengkapnya systemic lupus erythematosus merupakan penyakit autoimun yang melibatkan reaksi antibodi yang berlebihan yang menyerang sel dan organ tubuh sendiri. Penyakit ini sering mengenai ras Asia Pasifik, dengan perempuan lebih sering terkena di rentang usia 20-30 tahun. 

Tentu kita bertanya-tanya apa penyebab dari lupus ini. Dapat dikatakan bahwa penyebabnya multifaktorial, dari genetik, lingkungan, gangguan imun. Gejala lupus pun sangat bervariasi sehingga seringkali disebut penyakit dengan seribu wajah atau great imitator yang berarti penyakit ini dapat menyerupai penyakit lain dan tiap penderita yang satu dengan yang lain dapat sekali berbeda. Berikut ini, kenali tanda dan gejala lupus yang seringkali muncul:

  • Kelelahan
  • Demam
  • Ruam kupu-kupu (di daerah hidung dan pipi)
  • Nyeri sendi
  • Rambut rontok
  • Fotosensitif
  • Luka di mulut (biasanya tidak nyeri)
  • Radang paru-paru
  • Radang selaput jantung
  • Radang ginjal

Ilustrasi butterfly rash (ruam kupu-kupu di pipi) yang merupakan salah satu gejala klinis lupus/Foto: Pixabay
Ilustrasi butterfly rash (ruam kupu-kupu di pipi) yang merupakan salah satu gejala klinis lupus/Foto: Pixabay

Tanda dan gejala diatas dapat muncul sendiri-sendiri atau bersamaan, tergantung dari organ yang terkena dan masing-masing pasien dengan lupus (ODAPUS) ini dapat berbeda. Jika dilihat dari gejala yang timbul juga menyerupai penyakit lain, bukan? Misalnya nyeri sendi, banyak penyakit dengan gejala nyeri sendi contohnya osteoporosis, osteoarthritis, gout, rheumatoid arthritis dan lain-lain. Berarti lupus sulit ya untuk dikenali dan didiagnosis? Ya, memang sulit untuk kita pastikan seseorang terkena lupus atau tidak, oleh karena itu jika mengalami gejala diatas kita tidak bisa mendiagnosis diri kita terkena lupus, datang dan biarkan dokter yang memeriksa. Mengapa harus dokter? Karena begitu banyak poin yang akan diperiksa baik secara klinis maupun imunologis. Poin-poin tersebut ada di dalam kriteria SLEDAI (Systemic Lupus Erythematosus Disease Activity Index) yang meliputi pemeriksaan klinis apakah ada demam, gangguan di kulit, sendi, saraf, darah, jantung, dan ginjal. Selain itu, pemeriksaan imunologis juga penting seperti antibodi antifosfolipid, protein komplemen dan antibodi yang spesifik untuk lupus berupa antibodi anti ds-DNA dan anti Smith. Didiagnosis lupus bila kriteria SLEDAI berapa? Bila poin lebih dari 10 dengan minimal 1 kriteria klinis. Jadi bisa saja ODAPUS hanya mempunyai gejala demam tapi dengan pemeriksaan imunologisnya menunjukkan mengidap lupus. Setelah terdiagnosis lupus, bagaimana selanjutnya?

  • Pola hidup sehat, ingat bahwa ODAPUS bila terkena infeksi akan menimbulkan perburukan dari akitivitas penyakit lupus itu sendiri.
  • Hindari stress, sinar UV, asap rokok
  • Mengkonsumsi obat secara teratur sesuai anjuran dokter
  • Pemantauan ke dokter secara berkala
  • Mengenali gejala kekambuhan

Apa saja obat yang diberikan ke ODAPUS?

  • Hidroksiklorokuin
  • Kortikosteroid (Prednisolon, Metilprednisolon)
  • Imunosupresan (Siklofosfamid, Azatrioprin, Mikofenolat mofetil)
  • Antibodi monoklonal (Belimumab)

Pengobatan diatas tidak semua harus diberikan ke ODAPUS, pada prinsipnya dokter akan memberikan terapi sesuai dengan berat ringannya gejala atau gangguan organ yang sudah terlibat dengan melihat skor SLEDAI. SLEDAI tidak hanya untuk diagnosis awal lupus tetapi juga untuk monitoring aktivitas lupus itu sendiri apakah masih tergolong ringan (SLEDAI <6), sedang (6-12), atau sudah berat (SLEDAI 12). Setiap obat pasti memiliki efek samping, seperti pada penggunaan Hidroksiklorokuin jangka panjang (5 tahun) dapat mengakibatkan toksisitas retina, oleh karena itu perlu dilakukan skirining retina saat awal pemberian dan selama pemberian Hidroksiklorokuin. Pemberian kortikosteroid dan imunosupresan juga seringkali memberikan efek samping berupa gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan peningkatan enzim hati. Bila terjadi gangguan tersebut, ada baiknya untuk tidak langsung menghentikan pengobatan tetapi melakukan konsultasi dengan dokter yang merawat (dokter rheumatologi), apakah tetap perlu dilanjutkan terapinya atau tidak, apakah perlu dikurangi dosisnya atau diganti obatnya atau ditambahkan obat untuk mengatasi efek samping yang timbul. Mengapa tidak boleh langsung berhenti pengobatan? Karena perlu diketahui bahwa setiap obat memiliki efek samping dan dokter dalam memberikan obat pasti akan memikirkan risk dan benefit dari penggunaan suatu obat. Bila benefit (kesembuhan) dibandingkan risk (efek samping) lebih besar maka obat tersebut dapat dipertimbangkan untuk tetap diberikan.

Apa target pengobatan lupus?

Tentunya setelah menjalani pengobatan, target yang diharapkan adalah remisi atau pengurangan aktivitas penyakit atau kondisi stabil dari lupus. Bagaimana melihat ODAPUS sudah di tahap remisi? Bila skor SLEDAI 0 atau <6, tidak muncul gejala baru dari aktivitas penyakit lupus, dosis prednisolon yang diberikan dokter sudah  ≤ 7,5mg/hari, dan pengobatan yang diberikan dapat ditoleransi/diterima baik oleh tubuh.

Apakah harus minum obat-obatan seumur hidup?

Pertanyaan ini pasti sering ditanyakan, apakah ODAPUS harus minum obat-obatan seumur hidup?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan