Mohon tunggu...
Margono Dwi Susilo
Margono Dwi Susilo Mohon Tunggu... PNS

Pendidikan : SD-SMP-SMA di Sukoharjo Jawa Tengah; STAN-Prodip Keuangan lulus tahun 1996; FHUI lulus tahun 2002; Magister Managemen dari STIMA-IMMI tahun 2005; Pekerjaan : Kementerian Keuangan DJKN

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Manusia Penunggu Badak

21 Maret 2020   11:18 Diperbarui: 21 Maret 2020   11:31 13 0 0 Mohon Tunggu...

MANUSIA PENUNGGU BADAK
(cerpen)
 
Dulu kami selalu berdua. Tetapi kini terpisah oleh jarak, nasib dan apapun. Laut lepas, rimbun pohon dan lenguh satwa menghalangi tubuh dan ingatan kami. Tetapi, tetaplah ada satu garis tipis yang sayup-sayup menghubungkan kami berdua.

Ya, kami dulu selalu berdua. Kesan pertemanan itu, walau timbul tenggelam, tetapi tetap bisa dikenang. Saya, Panembromo, biasa dipanggil Bromo. Dia, Susanto Raharjo, biasa dipanggil Ajo. Bromo dan Ajo, kadang disingkat Brojo. Itulah kami. Dwitunggal dari distrik kesepian di wilayah eks karesidenan Surakarta.

Tahun-tahun saat kami tumbuh, konon pemerintah mengekang kehidupan warga. Tetapi kami merasakan sebaliknya. Kami bebas bergaul dengan siapa saja. Tidak perduli suku, jenis baju, tipe kopiah, bentuk kelamin, atau agama. Menyembah pohon pun tidak mengapa, asal kau baik pada sesama. Berkawan dan meminta bantuan jin atau arwah penunggu kuburan juga silahkan saja, ibarat kita meminta bantuan guru les untuk mengerjakan PR matematika. Semua fine-fine saja. Dalam era seperti itu, Aku dan Ajo dibesarkan.

Aku lebih pragmatis dalam hidup: belajar TPA di surau, nyolong jambu saat sore, belajar moral pancasila saat malam, dan mandi sekedarnya di waktu pagi lalu tergopoh-gopoh ke sekolah tanpa sarapan.  Sedangkan Ajo lebih rumit: percaya danyang kuburan, suka keris bertuah, tetapi ahli matematika. Keahlian terakhir ini yang membuat Ajo paling cemerlang diantara sebayanya. 

Tidak luput pula ia digandrungi cewek yang kesulitan mengerjakan angka. Satu lagi, Ajo terkenal dengan ketegasannya, termasuk tegas bahwa ramalan Sabdo Palon akan tergenapi sebentar lagi. Rumit memang, ahli matematika tetapi suka sejarah mistis. Ia percaya bahwa Majapahit runtuh karena ekspansi islam. Ya, sudahlah.

Tetapi bakat matematika yang Ajo miliki memang luar biasa. Saat SMA, ia sudah fasih ilmu kalkulus, trigonometri dan integral parsial. Zaman itu belum ada mbah Google, sehingga kehebatan Ajo memang murni karena otaknya encer. Dan karena itulah ia ditabalkan akan mempunyai masa depan cemerlang.

Bulan itu sedang demam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Kami berdua membidik sekolah tinggi kedinasan. Disamping gratis, ada sensasi unik jika menjadi pangreh praja. Kami membayangkan memakai seragam dinas, penuh emblem dan tanda kehormatan. Setiap tanggal 17 melaksanakan ritual upacara bendera. Walau gaji kecil tapi selalu ada salam tempel, uang pensiun dan jatah beras. 

Jujur jatah beras ini yang waktu itu mempesona saya. Di sekolah, kami diberitahu oleh guru tentang fungsi lumbung desa yang menjadi pertahanan terakhir saat masa paceklik. Dan guru kami selalu melebihkan fungsi lumbung desa. Katanya dulu, nenek moyang kami, entah yang mana, selamat dari kelaparan karena lumbung desa. 

Saat musim paceklik berakhir, saat panen pertama berhasil, syukur dimulai. Surau penuh dendang doa dan pujian. Pohon-pohon besar berjibun sesajian. Dan semua itu berkat jasa lumbung desa. Aku sendiri tidak pernah melihat lumbung desa, tetapi percaya saja bahwa cerita itu benar adanya. Bagi kami seorang guru tidak mungkin cerita kebohongan.

Paceklik, lumbung desa dan jatah beras membuat kami mantab untuk mencoba peruntungan menjadi PNS, pangreh praja.

Saya masih ingat saat kami beramai-ramai pergi ke Yogya untuk mengasingkan diri sembari belajar menyambut ujian masuk perguruan tinggi itu. Kami berlima naik bus umum, berangkat dari tepi jalan besar Kartasura, setelah sebelumnya diantar oleh ayah dengan astrea prima. Tentu Ajo termasuk di dalam bus itu.

Dan betul juga, di Yogyakarta, Ajo justru lebih sering dimintai tolong untuk mengerjakan tugas anak kuliahan. Dunia terbalik. Kami takjub. Jika bakat besar ini diketahui pemerintah, tentu Ajo akan mendapat beasiswa ke Amerika, bisa bekerja di NASA. Tetapi kami sudah berniat menjadi PNS, demi jatah beras.

Titah di lauh al mahfudz tidak terbantahkan. Kami diterima di perguruan tinggi kedinasan. Saat lulus kami sudah menyandang besluit sebagai pangreh praja. Rasa syukur saya tiada putus. Ajo kulihat biasa saja. Bahkan Suatu saat ia berseloroh ke saya "Mas Bromo, saya mau mengundurkan diri dari PNS."

Tentu saja waktu itu saya anggap guyonan belaka. Orang tua Ajo di kampung begitu gembira dengan pencapaiannya, tidak mungkin mundur dari PNS begitu saja. Apalagi  Mbah Semito menggelar wayang kulit untuk merayakan kelulusannya.

Tidak kusangka Ajo cukup serius. Saya tanya alasanya, mengapa? Ajo dengan ringan menjawab "menjadi PNS bukan tempat saya." Saya maklum, otak matematika memang tidak bisa tertampung di meja PNS yang bekerja dengan menggunakan mesin ketik buterfly. 

Saya tidak lekas menjawab, hanya saya mengingatkan "ingat perasaan orang tuamu, Jo." Ajo diam. Dan benar juga, orang tua yang menghalanginya hengkang dari PNS. Setidaknya sampai saat itu.

Tidak terduga saya dan Ajo terpisah oleh surat keputusan mutasi dari pejabat yang sama sekali tidak mengenal kami. Tanpa banyak bicara kami berpisah, saling merelakan. Pulau dan kota-kota menghalangi kami.

Jamanpun cepat berubah, menderu seperti gasing raksasa. Melindas kegugupan manusia. Mesin ketik manual buterfly diganti mesin ketik listrik olympia lantas diganti dengan komputer Univac, Apple II, IBM PC, IBM Pentium II, Dell lalu laptop Lenovo. Terus dan terus.
Beberapa diantara kami telah berkeluarga, termasuk saya. Ada yang bahagia, ada yang tidak, ada yang setia ada yang selingkuh, bahkan bercerai.

Tuhan memang mengejutkan. Di tahun 2010, sekira bulan oktober, saat angin muson timur sibuk mencari pohon untuk diterjang, saya bertemu kembali dengan Ajo, setelah dua belas tahun lebih berpisah. Pertemuan kami di tempat yang tidak biasa: pinggiran Ujung Kulon.

"Ajo, ngapain kamu disini?" Ajo hanya tersenyum. Tidak menjawab. Beberapa jam kemudian saya baru tahu bahwa Ajo sekarang berprofesi mirip jaga wana. Di sela-sela penugasan, saya sempatkan diri menemuinya. Aku bercerita bahwa saat ini pemerintah sedang berusaha menyusun neraca sumber daya alam, dan kami melakukan uji petik penilaian sumber daya alam di wilayah suaka ini.

Ajo menghela nafas. Saya menangkap binar mata matematikanya telah musnah, berganti kepasrahan -- mungkin bahkan kemurungan -- yang tiada berujung. Ajo bercerita bahwa ia keluar dari PNS dua belas tahun lalu, tanpa memberitahu orang tua. Alasannya karena sesuatu yang sangat prinsip, yaitu ia ingin betul-betul melaksanakan perintah Tuhan, sehebat dan selurus mungkin. 

Ajo menegaskan bahwa ia tidak mungkin bekerja di instansi pemungut pajak, cukai dan retribusi serta sistem ribawi, karena itu semua dilarang agama. Saya terkejut bukan kepalang. Kemana otak matematika yang hebat itu? Kemana ramalan Sabdo Palon itu?

Segera saya sadar, otak matematika memang tidak mengenal abu-abu. Harus tegas. Harus pasti. Ikuti perintah Tuhan maka selamat, ingkari perintah Tuhan maka celaka. Tidak ada tafsir yang mendua, tidak perlu sok filosofis, subtantif atau sufistis.  Dan saya sadar itu sudah menjadi pilihan Ajo, saya tidak bisa protes.

"Pekerjaan saya saat ini adalah menjaga badak, atau tepatnya menunggu badak, karena selama saya bekerja belum sekalipun melihat wujud badak secara langsung, kecuali jejak kaki dan tahinya. Pernah berminggu-minggu mengantarkan wartawan Natgeo untuk memotret badak, tapi tak jua jumpa." Saya nyaris tergelak mendengarkan kisahnya, tetapi tertahan karena menangkap ironi yang menyedihkan.

Kamipun bertukar nomor handphone. Lalu berpisah. Laut, pulau, pohon, dan badak kembali memisahkan kami. Sesekali saya kirim SMS ke Ajo, yang selalu dijawabnya dengan dingin, semisal: oke, baik, iya, sehat dan kalimat acuh lainnya.

Gusti mboten sare. Di awal 2019, pada pagi selepas subuh, saya kembali bertemu Ajo di stasiun kereta Bogor. Waktu itu koran dan medsos mengabarkan berita akan ada demontrasi besar di Ibu Kota. 

Kereta api listrik jurusan Bogor-Jakarta penuh manusia, ada yang hendak berangkat kerja ada pula yang hendak demo. Kami berhimpitan di kereta, saling tatap. Menebak sanubari masing-masing. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut kami berdua. Entah mengapa, sejak itu saya merasa telah kehilangan sahabat terhebat waktu muda, sang ahli matematika.  
 
KRL Bogor-Jakarta, 2020
Margono Dwi Susilo

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x