Mohon tunggu...
Margono Dwi Susilo
Margono Dwi Susilo Mohon Tunggu... PNS

Pendidikan : SD-SMP-SMA di Sukoharjo Jawa Tengah; STAN-Prodip Keuangan lulus tahun 1996; FHUI lulus tahun 2002; Magister Managemen dari STIMA-IMMI tahun 2005; Pekerjaan : Kementerian Keuangan DJKN

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pusaka, Doa, dan Corona

21 Maret 2020   09:36 Diperbarui: 21 Maret 2020   11:00 59 0 0 Mohon Tunggu...

PUSAKA, DOA, DAN "CORONA"
(Sejarah)

Bulan-bulan ini dunia dikejutkan dengan pandemi Covid-19 atau biasa disebut Corona. Ratusan ribu orang terinveksi dan ribuan meninggal dunia. Berbagai opini dan spekulasi berkembang. Beragam upaya telah dilakukan: karantina, membuat antivirus, minum curcuma, menjaga jarak sosial, WFH, istighotsah sampai lockdown negara.

Buku sejarah kesehatan telah mengulas cukup panjang bahwa di Nusantara terutama Jawa sering diserang wabah (pagebluk) mematikan seperti pes, colera, cacar, malaria dan influenza.  Wabah tersebut merenggut ribuan manusia. Misalnya Ensiklopedia Jakarta: Volume 2 mencatat bahwa tahun 1910 dan 1911 merupakan tahun kolera. 

Hingga akhir tahun itu tercatat warga Batavia yang meninggal 6.000 orang. "Begitu banyak yang meninggal sehingga mayat tidak sempat dikubur. Mayat-mayat diletakkan didekat jalan raya bersama peti matinya. Wabah ini menyebar sampai Bogor" tulis Wiwin Juwita Ramelan dkk dalam laporan penelitian di Universitas Indonesia berjudul "Penyakit Menular di Jakarta."

Selain colera, wabah cacar juga menjadi mimpi buruk. Tahun 1644 cacar masuk Batavia. Saat itu belum ada obat dan tenaga medis. Alhasil cacar meluas dan terus mengintai nyawa penduduk sampai pergantian abad. 

Pada akhir abad 18, tingkat kematian bayi karena cacar di Bogor dan Priyangan mencapai 20 persen. Data juga menunjukkan bahwa pada tahun 1820-an, 10 persen dari total kematian bayi di Yogyakarta karena cacar. Cacar juga sempat menghantam Bali, dan dilaporkan sampai akhir 1871, tak kurang dari 18.000 orang di Bali meninggal karena cacar.

Wabah juga melanda jantung peradaban Jawa, Yogyakarta. M.C. Ricklefs dalam buku Mengislamkan Jawa memberikan catatan menarik tentang upaya orang Jawa saat Yogyakarta diamuk wabah influenza (setipe Corona) pada tahun 1918, yaitu dengan mengarak keliling kota pusaka paling sakti kerajaan, Kyai Tunggul Wulung. 

Masyarakat percaya  wabah itu berhenti karena pengarakan pusaka tersebut. Ricklefs juga mencatat bahwa Kyai Tunggul Wulung juga pernah mempunyai andil besar saat wabah menyerang tahun 1892 dan 1876 (hal.87-88).

Kyai Tunggul Wulung adalah pusaka keraton Yogyakarta berupa secarik kain bendera berwarna wulung (biru tua kehitaman) dari kain penutup Ka'bah yang ditulisi kalimat tauhid dan ayat Qur'an. Kain tersebut dipercaya diberikan oleh Mufti Mekkah kepada Sultan Agung saat sultan sukses membantu membasmi wabah yang melanda Mekkah waktu itu. Versi lain mengatakan bahwa bendera tersebut diberikan oleh Turki Usmani kepada Raden Patah yang kemudian di wariskan kepada dinasti Mataram.

Ricklefs juga mencatat bahwa Kyai Tunggul Wulung (dan Kyai Selamet) kembali di arak keliling Yogyakarta saat terjadi wabah pada 1931. Atas titah sultan pusaka tersebut diarak pada malam tanggal 21-22 Januari 1932, ketika pertemuan antara sistem minggu lima hari dan tujuh hari jatuh pada hari Jum'at Kliwon, yang diyakini sebagai hari terbaik dari sudut pandang supernatural bagi Kyai Tunggul Wulung.

Seratus ulama pamethakan (berbaju putih) mempersiapkan diri untuk mengusung kedua pusaka keluar dari istana. Azan dikumandangkan secara bersama-sama diikuti oleh doa secara Islam dalam Arab dan Jawa. Di luar, ribuan orang telah menanti. Perlu dicatat, selain azan dan doa islami, ritual tolak bala tersebut juga dikombinasikan dengan pemberian sesaji pada danyang waringin kurung (pohon beringin di alun-alun).

Arak-arakan pusaka tersebut walau diyakini manjur (seperti keberhasilan tahun 1918) juga tak luput dari kontroversi dan kritik, terutama dari kalangan Islam modernis yg mulai tumbuh di Yogyakarta.

Ricklefs tidak menguraikan, apakah Kyai Tunggul Wulung masih "sakti" di saat wabah tahun 1931-1932 tersebut.

Wilayah Surakarta juga tidak luput dari Wabah. Dalam Staatsblad 1915 No.263 ditegaskan bahwa Surakarta dimasukkan dalam daerah pes. Terapi diberikan dalam Staatsblad 1915 No.370 yg mengatur ordonansi perbaikan rumah.

Otoritas di Surakarta (Kasunanan dan Mangkunegaran) menyetujui ordonansi tersebut walaupun butuh biaya besar. Pihak Otoritas memberikan bantuan uang kepada penduduk yang kurang mampu dgn kewajiban mengangsur. Rumah-rumah diperbaiki secara massal. 

Atap ijuk diganti dengan genteng. Sri Mangkunegoro juga mengharuskan setiap hari Rabu penduduk wilayahnya mengeluarkan bantal, guling, tikar untuk dijemur. Rumah disapu karena ada inspeksi dari mantri Pes, bagi yang melanggar 3 kali berturut-turut akan dikenakan hukuman (Tiknopranoto, sejarah Kutha Sala, hal.50).

Di tahun-tahun tersebut wabah juga melanda Semarang. Berbeda dengan Yogyakarta yang lebih supranatural, Semarang yang babak belur karena wabah lebih realistis dan ilmiah dgn mengikuti program "kampongverbetering" (perbaikan kampung)  yang digagas pemerintah Belanda. Program di Semarang meliputi perbaikan jalan, pembangunan sarana pasokan air, sanitasi dan jika memungkinkan dilakukan perbaikan rumah (Roosmelan, 2008: 105).

Kita menyaksikan, dalam kondisi apapun, termasuk di era wabah, ikhtiar manusia selalu sama: pusaka dgn segala ragamnya, doa dengan segala lafadznya, dan akal dengan segala pencapaian ilmiahnya.

KRL Jakarta-Bogor, 20 Maret 2020
Margono Dwi Susilo

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x