Mohon tunggu...
Margaretha
Margaretha Mohon Tunggu... A passionate learner - Ad Astra Abyssoque.

Margaretha. Pengajar, Peneliti, serta Konselor Anak dan Remaja di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Saat ini sedang menempuh studi lanjut di the University of Melbourne.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Ketika Berhadapan dengan Keterpurukan Mental (Bagian I)

2 Januari 2021   22:53 Diperbarui: 4 Januari 2021   10:39 428 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Berhadapan dengan Keterpurukan Mental (Bagian I)
Old man in sorrow oleh Vincent van Gogh

Berhadapan dengan krisis terus-menerus selama pandemi ini bisa jadi membuat kita menjadi lebih adaptif, atau berjuang menjadi adaptif, atau bisa juga membuat jatuh dalam keterpurukan mental

Keterpurukan mental atau nervous breakdown, adalah kondisi dimana kapasitas mental seseorang tidak lagi mampu menghadapi tekanan psikis yang dihadapinya sehingga memunculkan persoalan serius dan kegagalan berfungsi hidup sehari-hari. 

Dari munculnya perasaan sedih yang tidak bisa dikendalikan, depresi, hingga munculnya ide bunuh diri. Dari munculnya kemarahan yang sulit dikelola, menjadi gangguan mental seperti curiga-paranoia atau kecemasan, hingga munculnya perilaku yang beresiko mengancam keselamatan diri maupun orang lain. Dalam kondisi terpuruk, seseorang seakan kehilangan kendali atas tubuh, pikiran dan hidupnya. Seakan tubuh dan jiwa menolak untuk menghadapi tuntutan fisik dan beban mental yang selama ini dijalaninya.

Jika kita menghadapi keterpurukan dalam emosi sedih dan takut, apakah yang sebenarnya terjadi? Lalu bagaimana cara kita melampaui krisis ini? Tulisan ini adalah bagian dari refleksi pribadi penulis, serta menguraikan apa, mengapa dan bagaimana memahami keterpurukan mental.

Apa artinya terpuruk secara mental?
Keterpurukan mental bukan istilah klinis, tapi adalah konsep untuk menjelaskan kondisi yang memayungi beberapa persoalan psikologis berat yang tengah dihadapi seseorang, biasanya merujuk pada kondisi gangguan mental depresi atau kecemasan disertai dengan stress tingkat tinggi. 

Artinya, ketika orang mengalami keterpurukan mental, ia membutuhkan bantuan dalam menangani persoalan yang dihadapinya.

Apa gejalanya?
Ketika mengalami keterpurukan mental muncul gejala psikologis, fisik, dan perilaku yang menandai kekalutan yang dialami seseorang, seperti: sedih dan menangis tidak terkendali, gagal menyelesaikan tugas, tidak mampu bekerja, belajar atau melakukan perilaku produktif (sering ijin atau absen), menghindari interaksi sosial, mengisolasi diri atau kemunduran sosial, kesulitan tidur, hilangnya nafsu makan, berbicara tidak runtut/ide melompat hingga halusinasi dan delusi, muncul perilaku ekstrim dan bermasalah (judi, adiksi, perilaku seks beresiko/selingkuh), psikosomatis (penyakit fisik yang muncul karena dipicu stress), kesulitan merawat diri dan kebersihan tubuh. 

Jika kita melihat diri sendiri atau orang di sekitar kita menunjukkan gejala seperti ini, maka penting diarahkan untuk mencari bantuan. Bantuan yang dibutuhkan untuk memahami apa yang tengah terjadi dan bagaimana menyelesaikannya.

Siapa yang beresiko terpuruk?
Manusia akan mengalami berbagai tekanan hidup atau stress sepanjang hidupnya. Ada beberapa jenis stress: eustress, distress dan trauma. Eustress adalah tekanan level ringan yang justru mendorong diri melakukan upaya secara optimal dan termotivasi membangun diri. Distress adalah tekanan yang membuat kita merasa kesulitan dan tidak berdaya. Sedangkan trauma adalah distress tingkat tinggi/berat yang secara signifikan merubah hidup seseorang. 

Setiap orang akan pernah berhadapan dengan salah satu dari tiga jenis stress ini di satu waktu dalam hidupnya. Bagaimana seseorang menghadapi stress akan mempengaruhi kondisi sakit atau sehat dan sejahtera hidupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x