Mohon tunggu...
Margaretha
Margaretha Mohon Tunggu... A passionate learner.

Margaretha. Pengajar, Peneliti, serta Konselor Anak dan Remaja di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Saat ini sedang menempuh studi lanjut di the University of Melbourne.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Trauma KDRT dan dampaknya sepanjang usia perkembangan

28 April 2020   14:58 Diperbarui: 5 Mei 2020   12:07 189 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Trauma KDRT dan dampaknya sepanjang usia perkembangan
domestic-violence-children1-5ea7e653097f367c717e14b2.jpg

Anak-anak yang tinggal dalam lingkup keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memiliki resiko yang tinggi mengalami trauma atas pengalaman menyaksikan kekerasan, bahkan juga akhirnya turut menjadi korban penganiayaan.

Pengalaman menyaksikan, mendengar, mengalami kekerasan dalam lingkup keluarga dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh negatif pada keamanan, stabilitas hidup dan kesejahteraan anak (Carlson, 2000). Dalam hal ini posisi anak menjadi korban secara tidak langsung atau dapat disebut sebagai korban laten (Margaretha, 2007; 2010).Anak-anak yang menjadi saksi peristiwa kekerasan dalam lingkup keluarga atau korban KDRT secara tidak langsung juga dapat mengalami gangguan serius dalam perkembangan, mental dan emosional, perilaku, kesehatan, dan kemampuan akademisnya di sekolah (Bair-Merritt, Blackstone & Feudtner, 2006; Emery, 2011; Ramsay dkk., 2002).

Tidak jarang, karena sering melihat kekerasan di sekelilingnya, anak menjadi cenderung agresif (externalizing problem behavior) atau menarik diri dari lingkungan sosialnya (internalizing problem behavior). Penting untuk dipahami bahwa ekspos kekerasan dalam rumah tangga pada anak dapat menimbulkan berbagai persoalan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek seperti: ancaman terhadap keselamatan hidup anak, merusak struktur keluarga, munculnya berbagai gangguan mental; sedangkan dalam jangka panjang memunculkan potensi anak terlibat dalam perilaku kekerasan dan pelecehan di masa depan, baik sebagai pelaku maupun korbannya.

Lebih lanjut, penelitian longitudinal oleh Emery (2011) menemukan bahwa hubungan antara trauma menyaksikan KDRT dengan munculnya problem psikologis melemah seiring meningkatnya usia anak pada saat menyaksikan KDRT pertama kali.

Usia anak pada saat terekspos KDRT menjadi moderator hubungan antara KDRT dan problem perilaku, atau dengan kata lain probabilitas munculnya problem perilaku akibat terekspos KDRT menjadi lebih rendah jika anak menyaksikan KDRT pada usia yang lebih tua. Hal ini mengindikasikan bahwa efek trauma KDRT mempengaruhi perkembangan psikologis anak.

Trauma menyaksikan dan atau mengalami KDRT dapat mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan anak dan manifestasinya dapat terjadi secara khas di masing-masing tahapan perkembangan. Jika trauma terjadi dalam periode yang cukup lama, maka efeknya juga akan semakin buruk atas perkembangan anak; bahkan efek kumulatif tersebut dapat terus mempengaruhi hingga masa dewasanya. Oleh karena itu, tulisan ini akan fokus untuk mengulas apa dan bagaimana pengaruh KDRT pada perkembangan psikopatologi sepanjang masa kanak hingga remaja. Berikut akan diuraikan pengaruh trauma KDRT yang dapat terjadi pada masa kanak awal, masa usia sekolah dan masa remaja.

Masa kanak-kanak awal
Pada masa kanak-kanak awal (sejak lahir hingga 6-7 tahun), anak masih sangat tergantung pada pengasuhnya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya, oleh karena itu mereka mengembangkan kelekatan dengan pengasuhnya, biasanya ibunya. Hubungan antara anak dengan pengasuhnya dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya, dimana ciri kemampuan kognitif anak pada usia ini adalah pola pikir pre-operasional (Mc Devitt & Ormrod, 2002 dalam Vernon, 2009). Dalam masa ini, anak belajar lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat atau dengar daripada hasil logika berpikir mereka. Oleh karena itu mereka akan mengalami kesulitan untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak, contohnya seperti kesulitan memahami apa dan bagaimana makna kematian.

Dalam hal perkembangan diri, mereka masih berada dalam fase egosentris, artinya mereka berasumsi bahwa semua pikiran dan perasaan semua orang sama atau merujuk pada pikiran dan perasaan mereka, sehingga mereka sulit memahami situasi dari perspektif orang lain (Vernon, 2009). Secara emosional, mereka sedang berproses untuk mengenali berbagai bentuk perasaan dan emosi, serta emosi apa dan bagaimana yang perlu ditunjukkan dalam suatu konteks situasi. Lebih lanjut, keterbatasan perbendaharaan kata dan kepekaan penggunaan kata yang dimiliki mereka masih terbatas, karena itu mereka juga sering menggunakan perilaku untuk mengungkapkan emosi atau perasaan mereka, contohnya: menangis dan melempar barang sebagai tanda perasaan marah. Oleh karena itu, anak pada masa kanak-kanak awal perlu mengembangkan kelekatan yang kuat (secured attachment) dengan pengasuhnya, dimana pengasuh akan berperan penting sebagai pemberi struktur dan sebagai panduan belajar dalam memahami dan mengendalikan emosi anak (Edleson, 1999).

Pada usia ini anak masih sangat bergantung pada pengasuhnya atas segala aspek kehidupan mereka, maka pengaruh negatif KDRT yang akan dialami akan lebih mendalam sepanjang hidup mereka (Huth-Bocks, Levendosky, & Semel, 2001). Anak usia ini yang menyaksikan KDRT dapat memunculkan lebih banyak permasalahan perilaku, permasalahan relasi sosial, gejala post-traumatic stress disorder, dan kesulitan mengembangkan empati jika dibandingkan dengan anak seusianya yang tidak menyaksikan KDRT (Huth-Bocks, Levendosky, & Semel, 2001). Stress yang dialami balita muncul dalam berbagai gejala seperti: mudah menangis, kurang berkembang atau mundurnya kemampuan berbahasa dan toilet training (Osofsky, 1999); gangguan tidur, serta persoalan kelekatan dimana anak mudah takut dan stress jika ditinggal pengasuhnya (Lundy & Grossman, 2005). Juga ditemukan gejala psikosomatis seperti sakit kepala, sakit perut, asma, insomnia, mimpi buruk, tidur sambil berjalan, dan eneuresis (Cunningham & Baker, 2004 dalam Holt, Buckley, & Whelan, 2008). Gejala-gejala psikosomatis ini merupakan indikasi usaha ego mereka untuk melepaskan diri dari rasa takut atau kecemasan mereka yang disebabkan oleh stress menyaksikan KDRT.

Pertanyaan yang muncul dari sini adalah, bagaimana mekanisme munculnya permasalahan psikologis anak yang menyaksikan KDRT pada masa kanak-kanak awal?

Pemahaman anak pada usia ini atas KDRT sebagai konsep yang abstrak masihlah terbatas. Mereka dapat membuat simpulan-simpulan sederhana tentang apa itu KDRT dari apa yang mereka lihat sehari-hari, seperti KDRT adalah bekelahi atau memukul; namun pemahaman mereka atas bagaimana dan mengapa KDRT terjadi belumlah utuh.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa efek negatif KDRT tidak terjadi secara langsung pada saksi KDRT balita melainkan pengaruhnya tidak langsung melalui hubungan kelekatan antara balita dan pengasuhnya. Ibu yang menjadi korban KDRT akan mengalami keadaan emosional yang negatif dan mendalam (emosi sedih, marah), hal ini membuat ibu kesulitan menyediakan kebutuhan emosi keamanan dan kenyaman yang konsisten bagi anak karena mereka sibuk dengan mengelola emosi negatif yang mereka alami sebagai korban KDRT. Terbagi di antara rasa sedih, marah dan takut dengan tuntutan memberikan rasa nyaman dan aman bagi anaknya.

Jika orang tua gagal memberikan dukungan emosional bagi balitanya, maka akibatnya kelekatan antara orang tua-anak menjadi lemah (Levendosky, Huth-Bocks, & Semel, 2002) atau pada beberapa kasus anak dapat mengembangkan kelekatan ambivalen atau disorganized attachment, dimana ibu dilihat sebagai sumber rasa nyaman dan juga rasa takut (Martin, 2002).

Martin (2002) mencoba menjelaskan bahwa anak yang dibesarkan ibu korban KDRT mengalami kesulitan dalam menentukan pendekatan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan afeksinya yaitu rasa aman dan nyaman dari pengasuhnya.

Akhirnya, ambivalensi ini membuat anak kesulitan belajar mengidentifikasi, memahami dan memilih emosi yang tepat untuk diungkapkan dalam suatu relasi yang dekat.

Lebih lanjut ibu juga kurang dapat berperan menjadi panduan dalam memahami dan mengungkapkan emosi yang tepat dalam suatu konteks. Misalkan, kemarahan ibu sebagai korban KDRT yang tidak tersalurkan juga ditemukan dapat disalurkan pada perilaku kekerasan dalam pengasuhan anak. Lebih lanjut, ibu yang mengalami gangguan kesehatan mental juga berhubungan dengan semakin besarnya gangguan perkembangan anak. Hal ini dapat terjadi karena di satu sisi, depresi ibu semakin memperburuk pengalaman negatif anak atas KDRT (McKlosky dkk., 1995 dalam Holt, Buckley, & Whelan, 2008).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x