Aba Mardjani
Aba Mardjani profesional

Wartawan Olahraga, Kadang Menulis Cerpen, Tinggal di Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Sketsa Betawi | Mpok Rodiah Kagak Budeg

16 September 2018   09:14 Diperbarui: 16 September 2018   22:46 1538 10 7
Sketsa Betawi | Mpok Rodiah Kagak Budeg
Foto ilustrasi: kompas.com

RODIAH uring-uringan saja belakangan ini, khususnya sesudah ia melaksanakan umroh kali kedua. Ia ingin disebut Bu Hajjah oleh siapa pun yang bicara dengannya. Tapi, hampir semua orang tetap memanggil namanya cukup dengan Rod, Rodiah, atau yang lebih muda menyebutnya dengan Mpok Rodiah.

Rodiah, meskipun hidup menjanda belasan tahun, cukup beruntung bisa pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dua kali dalam tiga tahun terakhir. Yang pertama, ia berangkat karena menang undian umroh di pengajian ibu-ibu PKK. Yang kedua, ia juga berangkat tanpa biaya karena diongkosi majikan tempat ia bekerja mencuci pakaian dan menjaga anak.

Untuk yang kedua, ia ingin ongkos umrohnya ditabung untuk melaksanakan ibadah haji. Tapi, kedua anaknya yang sudah disibukkan dengan urusan keluarga masing-masing enggan mencari tambahan biaya untuk keberangkatan haji sang ibu.

"Lagian, pegi haji itu pan antriannya panjang, Mak," kata Tasu'ah, anak perempuannya yang tubuhnya selebar becak. "Mak daftar sekarang mungkin 10 taun lagi Mak baru bisa berangkat. Kalu Mak masih idup..."

"E buset, lu nyumpain Mak lu cepet modar?" Mpok Minah merasa sewot.

"Bukannya begitu, Mak. Umur Mak kan udah 65-an. Taro dah Mak idup 10 tahun lagi, emang Mak mau pegi haji umur 75-an?"

Maka akhirnya, Rodiah pun rela kembali cuma bisa melaksanakan umroh. Yang penting, ia membatin, bisa kembali melihat Ka'bah, mencium Hajar Aswad, dan ziarah ke makam Nabi.

Tapi, pulang dari umroh, Rodiah jadi sewot karena keinginannya untuk dipanggil bu hajjah tak tercapai. Bahkan, kedua anaknya yang diharapkannya bisa memanggilnya dengan Mak Hajjah, tetap saja cukup  memanggil Mak, Emak.

Karena itu, belakangan, Rodiah memutuskan untuk tak mau menoleh jika ada yang memanggilnya hanya dengan menyebut namanya.

"Beli sayur, Mpok Rodiah?" tanya Surtini, tetangganya ketika Rodiah lewat di depan rumahnya. Rodiah tak menyahut. Menoleh pun tidak. Melangkah mantap seolah tak mendengar sapaan tetangganya.

"Mau pegi ngaji, Rod?" tegur Aminah, tetangganya yang lain ketika melihat Rodiah sudah berdandan rapi.

Rodiah juga tak menyahut. Juga enggan menoleh. Ia terus berjalan dengan tatapan mata ke depan.

"Masih kerja di rumah Pak Jufri, Rod?" sapa Mat Sani ketika melihat Rodiah berjalan agak terburu-buru di kali yang lain.

Seperti kepada yang lain, Rodiah juga tak menggubris sapaan Mat Sani yang merasa aneh melihat kelakuan Rodiah.

Di rumah pun, jika cucu atau anaknya memanggilnya dengan Mak atau Mak Tua, Rodiah pura-pura tak mendengar sambil menahan rasa geramnya.

Sekali waktu, Rodiah bertemu Ustadz Husin yang juga dikenal sebagai amil kampung. Kepada Ustadz Husin yang belum pernah merasakan pergi ke Makkah, Rodiah mencurahkan isi hatinya.

"Gua jengkel sebenernya sama orang-orang," kata Rodiah kepada Ustadz Husin yang umrnya lebih muda separuh dari usianya sendiri.

"Jengkel kenapa emangnya, Mpok Hajjah?" tanya Ustadz Husin.

Rodiah mesem. Hatinya senang mendengar Ustadz Husin menyebutnya dengan Mpok Hajjah.

"Gua kesel. Gua kan udah dua kali ke Mekah, ke Madinah, ngeliat Ka'bah, ziaran ke Makam Rosul, sholat di Masjid Nabawi, tapi orang-orang tetep aja nggak ada yang mau manggil gua bu hajjah."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2