Mohon tunggu...
Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Mohon Tunggu... Pensiunan PNS -

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mungkinkah AHY Akan Dampingi Prabowo Pada Pilpres 2019?

28 Juli 2017   17:55 Diperbarui: 28 Juli 2017   18:27 1009
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Mungkinkah AHY Maju Dampingi Prabowo Pada Pilpres 2019?

Pertemuan antara SBY dan Prabowo Subianto pada Kamis, 27 Juli 2017 mengundang berbagai tanggapan,komentar maupun spekulasi politik.Pertemuan di kediaman SBY tersebut wajar menjadi perhatian publik oleh karena untuk waktu yang lama kedua tokoh tersebut tidak pernah bertemu secara khusus.

Sepanjang yang diberitakan ke pers ,pertemuan di Cikeas itu menghasilkan beberapa poin yaitu, 1). Sepakat untuk mengawal pemerintahan agar pemerintahan berjalan secara baik dan tidak muncul penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power, 2). Sepakat bahwa UU Pemilu yang mencantumkan Presidential Treshold 20 persen dari jumlah kursi atau koalisi parpol di DPR atau 25 persen dari suara hasil perolehan suara parpol atau koalisi parpol secara nasional tidak wajar. Dalam bahasa Prabowo, Presidential Treshold (PT) yang demikian merupakan lelucon politik yang menipu rakyat dan untuk itu, 3). Gerindra dan Demokrat sepakat untuk mengajukan uji materi UU Pemilu kepada Mahkamah Konstitusi.

Tetapi di luar pernyataan resmi yang demikian publik juga menduga duga beberapa kemungkinan adanya kesepakatan SBY dan Prabowo yang tidak diumumkan ke media.

Salah satu kemungkinan itu ialah terjadinya koalisi antara Gerindra dan Demokrat pada Pilpres 2019 nanti. Kalau demikian halnya tentu pasangan yang akan diusung nantinya adalah Prabowo Subianto sebagai calon Presiden dan Agus Harimurty Yudhoyono (AHY ) sebagai calon Wakil Presiden.

Kalaulah penolakan parpol terhadap UU pemilu digunakan sebagai ukuran terbentuknya koalisi maka nantinya akan ada 4 parpol yang berkoalisi yaitu Gerindra (73 kursi = 11,81 %). Demokrat  ( 61 kursi = 10,19%,PKS ( 40 kursi = 6,79 % ) dan PAN ( 49 kursi = 7,59 %).

Sementara calon kuat lainnya yang akan muncul adalah Jokowi yang didukung oleh 6 parpol yaitu PDI Perjuangan ( 109 kursi= 18,95 %) ,Golkar ( 91 kursi = 14,75 %),Partai Kebangkitan Bangsa ( 47 kursi=9,04 %),Nasdem ( 35 kursi = 6,72 %),Partai Persatuan Pembangunan( 39 kursi = 6,53% ) dan Hanura ( 16 kursi = 5,26 %).

Kalau pengelompokan yang demikian yang terjadi maka pada Pilpres 2019 nanti hanya akan ada dua pasangan calon yang bertarung dan ini sepertinya pengulangan kompetisi yang sangat ketat dan keras seperti pada Pilpres 2014 yang lalu.

Walaupun kemungkinan besar akan ada dua pasangan calon pada Pilpres 2019 tetapi saya menduga pasangan Prabowo Subianto bukanlah AHY tetapi seorang figur lain yang sekarang masih digodok.

Menurut pendapat saya, SBY belum melepas AHY ke gelanggang pertarungan pada Pilpres 2019 mengingat elektabilitasnya di pilgub DKI yang lalu belum terlalu tinggi. Sedangkan dihitung dari sekarang waktu pelaksanaan Pilpres hanya sekitar dua tahun lagi.Karenanya Masih dibutuhkan waktu untuk menaikkan tingkat popularitas dan elektabilitas putra sulung Presiden ke-6 RI tersebut.

Kalau demikian apa arti koalisi dengan Gerindra bagi Demokrat?.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun