Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Reaksi Jurnalis, Publik akan Pertanyakan Sikap Kenegarawanan Prabowo

7 Desember 2018   14:58 Diperbarui: 7 Desember 2018   15:35 299 1 1

Agak ramai juga pemberitaan berkaitan dengan pernyataan Prabowo Subianto yang merasa kesal dan marah karena banyak media yang menurutnya tidak terlalu penting memberitakan kehadiran 11 juta orang pada Reuni 212 yang diadakan di Jakarta pada Minggu, 2 Desember 2018.

Kalau disimak, pernyataan capres 02 itu menyangkut 3 hal, 1) Beberapa media mengecilkan jumlah peserta yang hadir, 2) tidak menganggap penting reuni itu dan 3), media bersikap demikian karena telah dipengaruhi antek yang ingin hancurkan Republik Indonesia.

Sejatinya acara Reuni Mujahid 212 dilaksanakan oleh Persaudaraan Alumni 212 ( PA212) yang diketuai oleh Slamet Ma'arif. Persaudaraan Alumni/ Mujahid ini membentuk Panitia Pelaksana yang dikomandoi oleh Ustadz Bernard Abdul Jabbar.

Panitia inilah yang mengundang Ummat Islam untuk menghadiri acara tersebut termasuk mengundang tamu-tamu VVIP antara lain Prabowo Subianto, Amien Rais, Hidayat Nur Wahid dan tokoh tokoh lainnya. Panitia ini jugalah yang membatalkan undangan kepada Jokowi.

Menurut pendapat saya, banyaknya Ummat Islam yang hadir tidak terlepas dari wibawa dan pengaruh Habib Rizieq Shihab, Imam Besar Front Pembela Islam ( FPI) yang kemudian oleh sebahagian Ummat Islam telah dinobatkan sebagai Imam Besar Ummat Islam Indonesia.

Dalam kaitan yang demikian maka kehadiran para tamu VVIP termasuk Prabowo Subianto hanyalah sebatas tamu.Bahwa kemudian acara reuni itu menjadi acara kampanye atau arena untuk mengajak yang hadir agar memilih Prabowo pada Pilpres nanti adalah sebuah kenyataan yang juga tidak dapat dibantah.

Kemungkinan besar oleh karena acara itu merupakan acara kampanye untuk dirinya maka muncul rasa kesal dan marah pada diri mantan Pangkostrad itu yang menilai media tidak objektif dan jujur mengabarkan peristiwa besar itu. Pada point  yang demikian tentu merupakan hak bagi jurnalis juga untuk memaknai peristiwa itu.

Bisa saja jurnalis yang dituduh tidak objektif itu justru melihat acara reuni itu bukan murni sebagai sebuah kegiatan keagamaan karena nyatanya sebahagian besar para pembicara pada acara itu menggunakannya sebagai panggung untuk menyampaikan pesan pesan politik. Kalau ada jurnalis yang punya pandangan yang demikian tentu tidak ada keharusan baginya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai sebuah berita besar.
Apalagi jurnalis harus membuat berita bahwa kegiatan itu dihadiri oleh sekitar 11 juta orang, sebuah jumlah yang sampai sekarang masih menumbuhkan perdebatan. Kemudian ada lagi pernyataan Prabowo yang menjadi bahan pembahasan.

Mantan Pangkostrad itu menyatakan jurnalis telah menghianati profesi mereka sendiri sebagai wartawan saat melakukan peliputan reuni 212.
"Mereka menelanjangi diri dihadapan rakyat. Ada belasan juta mereka tidak mau laporkan. Mereka menghianati tugas sebagai wartawan,"kata Prabowo ( CNN Indonesia). Kemudian capres 02 itu meminta masyarakat tak lagi menghormati profesi jurnalis karena menurutnya sudah tidak lagi objektif.

Berkaitan dengan tudingan Prabowo terhadap jurnalis ini telah mengemuka beberapa komentar yang intinya menyesalkan pernyataan capres 02 itu.
Ketua Asosiasi Jurnalis Independent (AJI) Abdul Manan menyatakan ucapan Prabowo soal media berbohong berlebihan dan sentimental. "Ya, maksud saya agak cengeng juga, lebay lah", kata Abdul Manan ketika dihubungi Katadata, Rabu ( 5/12/2018).

Ia juga menilai sikap Prabowo yang hanya mau diwawancarai media massa tertentu menunjukkan sikap tidak dewasa.Hal tersebut lanjutnya ,akan membuat publik bertanya atas sikap kenegarawanan Prabowo selama ini.

Dalam jangka panjang, Abdul Manan menilai hal tersebut bakal merugikannya. Sebab akses media massa kepada Prabowo akan menjadi terbatas ."Itu membuat dia semakin kecil berpeluang menyampaikan ide dan gagasannya diluar media yang dia sukai", kata Abdul. Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) Ilham Bintang menyayangkan pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis antek pemecah Republik Indonesia. Tak seharusnya, Prabowo melampiaskan kekesalan kepada wartawan, ujar Ilham.

"Niatnya mau koreksi wartawan tapi cara yang ditempuh salah dan menggunakan diksi yang kesannya bermusuhan wartawan", ujar Ilham. Mengutip pernyataan petinggi AJI dan PWI itu jelaslah terlihat para jurnalis sangat tersinggung dengan ucapan capres 02 itu. Berkaitan dengan hal yang demikian menjadi menarik untuk mencermati apakah para jurnalis akan semakin jauh atau tetap biasa biasa saja dengan pasangan capres nomor 02 itu.

Salam Demokrasi!