Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pandangan Tokoh Agama di Medan, Toleransi Merupakan Keharusan dalam Menbangun Bangsa

7 Desember 2018   06:39 Diperbarui: 7 Desember 2018   06:53 118 2 2
Pandangan Tokoh Agama di Medan, Toleransi Merupakan Keharusan dalam Menbangun Bangsa
Walikota Medan Memberi Sambutan Pada Pertemuan Tokoh Agama di Medan ,Rabu ,5/12/2018.Dok Pribadi

Pandangan  Tokoh Agama di Medan, Toleransi Merupakan Keharusan Dalam Membangun Bangsa
Seperti apakah sekarang wajah toleransi di negeri ini? Untuk  mendapat gambaran tersebut, sangat layaklah disimak artikel " Gempa Intoleransi Mengancam Indonesia ", yang ditulis Munawir Aziz pada Kompas.com.

Artikel itu mengutip Laporan Setara Institue yang menyebutkan, intoleransi semakin berdenyut di nadi ke-Indonesia-an kita. Sepanjang 2017, terjadi 155 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di 29 provnsi di Indonesia. Sementara pada awal 2018, narasi intoleransi memenuhi wajah ke-Indonesia-an kita.

Paparan riset Setara Institue juga melengkapi test sebelumnya yang meringkas bahaya intoleransi di ranah pendidikan. Dari survei di 171 sekolah terungkap betapa siswa SMA rentan terpapar radikalisme dan gejala terorisme. Dari analisa 18 pertanyaan kunci,terungkap sebesar 2,4 persen siswa memiliki sikap intoleransi aktif. Sedangkan,  siswa yang terpapar radikalisme sebanyak 0,3 persen .

Selain mengutip Setara Institute, Munawir Aziz juga mengutip survei PPIM UIN Syatf Hidayatullah Jakarta yang dirilis pada Oktober 2018. Pada survei ini, variabel utama yang digali yakni level intoleransi dan radikalisme guru serta faktor faktor dominan yang mempengaruhi. Dari laporan survei itu terungkap, betapa level intoleransi guru di beberapa kawasan di Indonesia cukup tinggi, serta mengarah bahaya pada rusaknya ekosistem pendidikan di negeri ini.

Persentasenya secara umum diatas 50 persen untuk guru dengan opini intoleran dengan 46 ,09 persen diantaranya mempunyai pandangan radikal, tentulah hasil survei yang demikian memprihatinkan kita. Untuk menangkal tumbuh kembangnya faham intoleran dan radikal maka di yakini para tokoh agama punya peran penting untuk itu .

Kelihatannya Walikota Medan Drs.T.Dzulmi Eldin sangat menyadari peran penting para tokoh agama untuk terus menumbuhkan sikap saling pengertian serta memupuk terus semangat dan jiwa toleransi. Seperti diketahui, Medan dengan penduduk sekitar 3 juta jiwa merupakan sebuah kota yang punya penduduk yang sangat majemuk. Majemuk tidak hanya dari sisi etnik tetapi juga dari keragaman agama yang dianut oleh pemilihnya.

Dengan kemajemukan yang dimilikinya itu sering muncul perasaan was-was apabila terjadi sebuah benturan fisik disebuah lokasi di tanah air kita ini terlebih benturan itu dipicu oleh masalah etnik atau masalah keagamaan. Namun sampai sekarang masyarakat kota Medan merasa bersyukur karena di kota ini tidak terjadi benturan yang dilatar  belakangi oleh konflik etnik maupun agama .

Para pemuka agama maupun pemuka adat dan tokoh masyarakat lainnya sangat menyadari kemajemukan itu ,sehingga selalu berusaha agar keharmonisan masyarakat tetap terpelihara dengan baik. Bertitik tolak dari hal yang demikianlah walikota Medan Drs T. Dzulmi Eldin, terus melakukan berbagai upaya untuk merawat keharmonisan itu.

Demikianlah pada Rabu ,5 Desember 2018,Pemerintah Kota Medan menyelenggarakan " Pertemuan  Tokoh Agama Dalam Rangka Membangun Kota Medan ".

Para Pimpinan Majelis Agama Yang Menjadi Nara Sumber.Dok Pribadi
Para Pimpinan Majelis Agama Yang Menjadi Nara Sumber.Dok Pribadi
Acara yang diselenggarakan di salah satu hotel berbintang di Medan itu dihadiri sekitar dua ratus orang yang terdiri dari para tokoh agama serta anggota komunitas kelompok keagamaan. Sebagai nara sumber para acara itu pemko Medan mengundang pimpinan majelis majelis agama yang ada di kota itu yakni, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Medan Prof DR Muhammad Hatta, Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja Medan Pdt DR Tulus Siahaan ,Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Daerah Pendeta Martin Manullang, MTH,MM, Ketua Walubi Ridwan ST, Ketua Parisada Hindu Dharma M.Kalidasen , Ketua Masyarakat Konghucu Infonesia TS Tevi Tandijono .

Uskup Agung Medan juga diundang tetapi berhalangan hadir.Selanjutnya diundang juga sebagai nara sumber Ketua Forum Kerukunan Ummat Beragama Kota Medan Drs .Ilyas Halim dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan Drs .Al Ahyu MA.Bertindak sebagai Moderator pada acara itu Afifuddin Lubis.

Masing masing nara sumber memberi pandangan tentang makna toleransi yang bertitik tolak dari pandangan agama yang dianutnya. Dari paparan yang disampaikan diperoleh kesimpulan bahwa membina dan merawat toleransi merupakan ajaran yang disampaikan oleh masing masing agama. 

Para pembicara juga mengutarakan betapa indahnya toleransi yang terbina antar tokoh tokoh agama di Medan.Hal tesebut tercermin dari kerjasama yang telah berlangsung selama ini . Dalam hubungan keseharian sering muncul canda diantara para tokoh agama yang kadangkala diselingi joke seperti misalnya saling seloro antara Kiai dan pendeta.

Semua tokoh agama yang hadir sepakat untuk terus menjaga keharmonisan antar Ummat beragama. Para tokoh agama itu merasa bersyukur bahwa toleransi antar pemeluk agama di Medan telah terjalin dengan baik.Para pimpinan majelis ulama itu juga sepakat bahwa semangat toleransi yang telah  terbina selama ini tidak hanya sebatas untuk mencegah terjadinya benturan sesama pemeluk agama namun toleransi itu sendiri telah memancarkan sikap positip untuk bekerjasama membangun Kota Medan.

Walikota Medan Drs T Dzulmi Eldin dalam sambutannya pada acara itu ,mengucapkan terima kasih kepada tokoh tokoh serta pemeluk agama di kota yang dipimpinnya itu yang selama ini telah menunjukkan semangat toleransi yang tinggi.Kemudian Dzulmi Eldin mengharapkan agar kerukunan yang telah terpelihara selama ini terus dapat dijaga dan ditingkatkan kualitasnya terutama untuk membangun Medan yang punya visi : " Mewujudkan Medan Rumah Kita Menjadi Kota Masa Depan Yang Multi Kultural, Berdaya Saing, Humanis, Sejahtera dan Religius".

Di tengah tengah munculnya ancaman intoleransi di negeri ini ,terasa suasana yang menyejukkan pada pertemuan tokoh tokoh agama di kota yang terbesar penduduknya di pulau Sumatera itu. Merawat toleransi selalu dimaknai sebagaimana motto Forum Kerukunan Ummat Beragama ( FKUB ) ," Aqidah Terjamin ,Silaturrahim Terjalin".
Salam Toleransi!