Mohon tunggu...
Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Mohon Tunggu... Pensiunan PNS -

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Menduga Hasil Pertemuan Gerindra-PKS tentang Wagub DKI dan Kaitannya dengan Pilpres

5 November 2018   05:24 Diperbarui: 5 November 2018   13:26 441
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Seperti yang diberitakan sebelumnya, hari ini Senin, 5 November 2018, DPD Gerindra DKI mengundang DPW PKS DKI Jakarta untuk hadir di kantor DPD Gerindra DKI Jakarta, Jalan Letjend Suprapto Jakarta Pusat.

Ketua Fraksi PKS pada DPRD DKI Abdurrahman Suhaimi telah memastikan jajarannya akan datang memenuhi undangan Gerindra itu. Diberitakan juga pertemuan tersebut hanya membahas agenda tunggal terkait penetapan nama Wagub DKI.

Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku karena pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada DKI 2017 diusung oleh Gerindra-PKS maka untuk mengisi kekosongan jabatan Wagub ini juga harus melalui pengusulan kedua partai ini.

Melalui media kita bisa membaca betapa sengitnya pertarungan kedua partai ini untuk memunculkan masing masing kadernya menduduki jabatan yang prestisius itu. Sampai sekarang ini kedua parpol kelihatannya masih tetap bersikukuh agar kadernya lah yang akan diajukan mengisi jabatan yang ditinggalkan Sandiaga Uno itu.

Berkaitan dengan hal tersebut, PKS DKI bahkan mengeluarkan ancaman kalau tidak kader PKS yang disepakati maka mesin politik PKS akan dimatikan menjelang Pilpres 2019.

Beragam argumentasi juga telah dikemukakan partai yang pernah dipimpin oleh Anies Matta ini. Walaupun berbagai alasan telah diungkapkan namun kelihatannya Gerindra masih tetap menginginkan kadernya lah yang dipilih menjadi pendamping Anies Baswedan.

Seperti diketahui DPD Gerindra DKI telah menyetujui bahwa kader yang akan mereka usulkan adalah M. Taufik yang sekarang juga adalah Wakil Ketua DPRD DKI.

Di sisi lain PKS telah menetapkan dua orang kadernya yaitu Akhmad Syaikhu dan Agung Yulianto sebagai cawagub DKI.
Berkaitan dengan cawagub ini, Prabowo Subianto Ketua Umum DPP Partai Gerindra telah menyerahkan sepenuhnya urusan cawagub ini kepada DPD Gerindra DKI.

Sejalan dengan pertemuan hari ini maka tidak salah jugalah kalau menduga duga hasil rapat tersebut. Di atas kertas ada 3 kemungkinan hasil kesepakatan hari ini:

1) Gerindra menyetujui cawagub yang akan diusulkan dua dua nya dari PKS

2) Gerindra mengusulkan agar M. Taufik dan salah satu dari dua kader PKS diusulkan bersama sama dan

3) Kedua parpol belum menemukan titik temu.

Untuk dugaan yang pertama, menurut pendapat saya belum akan disetujui Gerindra karena sampai sekarang belum terlihat tanda tanda ke arah itu.

Untuk dugaan yang kedua kemungkinan Gerindra akan menyetujui hal yang demikian tetapi menurut pandangan saya PKS belum tentu menyetujuinya.

Seperti diketahui dua nama akan diusulkan oleh kedua parpol ke Gubernur DKI dan kemudian oleh Gubernur disampaikan pada DPRD DKI dan anggota DPRD DKI lah yang akan memilih salah satu dari dua nama yang diajukan itu.

Sepanjang yang saya ketahui, pada rapat paripurna DPRD apabila berhubungan dengan memilih orang maka pemilihannya dilakukan secara tertutup dan rahasia .Artinya masing masing anggota DPRD DKI akan memilih secara rahasia dan tertutup. Untuk itu selayaknyalah kita melihat komposisi kekuatan masing masing parpol di DPRD DKI.

1) PDIP=28 kursi 

2) Gerindra = 15 kursi

3) PKS=11 kursi

4) Demokrat =10 kursi

5) Hanura = 10 kursi

6) PPP =10 kursi

7) Golkar=9 kursi

8) PKB=6 kursi

9) Nasdem =5 kursi dan 

10) PAN =2 kursi 

Jumlah keseluruhan kursi =106.

Apa yang dikhawatirkan PKS kalau dua nama ,masing masing Taufik dari Gerindra dan satu kader PKS, Akhmad Syaikhu atau Agung Yulianto yang diajukan?

Kalau kita perhatikan kekuatan politik parpol pengusung Jokowi- Ma'ruf Amin pada DPRD DKI maka parpol tesebut menguasai 68 kursi sedangkan parpol pengusung Prabowo Subianto menguasai 38 kursi.

Secara perhitungan politik taktis maka keseluruhan suara parpol pengusung Jokowi - Ma'ruf Amin itu sejumlah 68 kursi ditambah yang dikuasai Gerindra sejumlah 15 kursi akan mengarah semuanya ke M. Taufik.

Mengapa seluruh kursi yang dikuasai parpol pengusung calon 01 diberikan pada Taufik? Karena kalau skenario ini yang dilakukan kemungkinan besar PKS akan matikan mesin politiknya pada Pilpres. Sedangkan kalau suara diberikan kepada kader PKS maka partai ini akan semakin bersemangat mendukung pasangan 02.

Apabila hal ini yang terjadi maka PKS tetap akan beranggapan kader mereka tidak memenangkan pertarungan di  DPRD DKI oleh karena Gerindra tetap mencalonkan M. Taufik. Mereka bisa saja menilai Gerindra tidak mau mengalah pada pertarungan memperebutkan jabatan "hanya" setingkat Wagub, sedangkan PKS telah legowo tetap mengusung Prabowo biarpun cawapresnya bukan berasal dari kader partainya.

Mengingat pertemuan hari ini masih merupakan pertemuan pertama antara Gerindra-PKS maka kuat dugaan, pertemuan ini masih belum menghasilkan kesepakatan. Masih dibutuhkan lagi waktu untuk mencapai kata sepakat.


Tetapi sekali lagi ini hanyalah dugaan.
Salam Demokrasi!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun