Mohon tunggu...
Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Mohon Tunggu... Pensiunan PNS -

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jokowi Menyatakan Sempat Keliru ketika Ucapkan "Horas" di Sumatera Utara

30 Oktober 2018   06:53 Diperbarui: 30 Oktober 2018   07:25 563
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia


Presiden Jokowi ,Minggu ,7 Oktober 2018 sore ,bertempat di Tiara Convention Medan bertemu dengan ulama dan juga beberapa pengasuh pondok pesantren.

Pada kesempatan itu Jokowi mengemukakan betapa luasnya tanah air kita ini..Untuk terbang dari Sabang ke Waimena saja butuh waktu penerbangan sekitar sembilan setengah jam .

Di tanah air yang luas ini ,mantan Gubernur DKI itu juga mengemukakan terdapat lebih dari 700 suku bangsa yang masing masing juga punya bahasa lokal masing masing.
Begitu juga halnya dengan Provinsi Sumatera Utara terdapat berbagai suku yang masing masing dengan bahasa lokalnya.

Disini lah awal"  kekeliruan "Jokowi itu.

Pada awalnya  ,Jokowi mengira kata " Horas " yang sering digunakan sebagai salam untuk membuka pidato maupun untuk mengakhiri pidato merupakan salam khas Sumatera Utara.

Tetapi kemudian  ayah Kaesang itu menyadari bahwa kata  " Horas " adalah salam khas yang dimiliki masyarakat Batak Toba, Angkola dan Mandailing.

Sedangkan beberapa suku lainnya yang ada di Sumatera Utara punya salam khas juga.
Untuk masyarakat Karo ,salam itu adalah " Mejuah-juah" , untuk masyarakat Pakpak " Njuah-juah". Sedangkan untuk masyarakat Nias " Yaahowu" ,untuk masyarakat Melayu " Ahooi". Kemudian untuk masyarakat pesisir pantai barat " Hai Dulsanak".

Memang kalau direnungkan ,masyarakat Sumatera Utara lah yang paling beruntung dengan adanya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional ,sebagai bahasa persatuan.

Andainya kita tidak memiliki bahasa nasional ,maka saya yang berasal dari etnik Mandailing yang sehari hari berbicara dengan bahasa Mandailing akan kesulitan atau tidak akan bisa berkomunikasi dengan Nabari Ginting, teman akrab saya yang berasal dari suku Karo. Begitu juga halnya, saya akan kesulitan berbicara dengan Baharuddin Berutu, shohib saya yang berasal dari suku Pakpak.Hal yang sama akan terjadi ,saya tidak bisa berbicara dengan Justin Dachi yang berasal dari Nias dan juga dengan Janter Damanik yang berasal dari Simalungun.

Dalam kaitan yang demikianlah terasa betapa beruntungnya kita dengan adanya Sumpah Pemuda. Dengan sumpah sakti itu suku suku yang punya beragam bahasa lokal itu dapat menjadi satu ,menjadi Indonesia.Suku yang jumlahnya ratusan itu berhasil dipertautkan oleh sebuah bahasa nasionalnya .
Kita juga bersyukur sejarah perjalanan kita sebagai satu bangsa tidak pernah diwarnai adanya konflik yang berhubungan dengan bahasa persatuan.

Semua suku bangsa termasuk suku Jawa yang punya populasi mayoritas dengan legawa menerima bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan.
Kalau hanya menilik dari jumlah penduduk ,seyogianyalah suku Jawa menginginkan Bahasa Jawa lah yang menjadi bahasa nasional.Tetapi masyarakat Jawa tidak menginginkan bahkan tidak memaksakan kehendaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun