Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Hilangnya Nama Mahfud MD dan Pernyataan Sebelumnya yang Menyebut Telah Disepakati Sebuah Nama

10 Agustus 2018   21:03 Diperbarui: 10 Agustus 2018   21:07 317 0 0

Sungguh menarik mengamati dinamika yang terjadi pada penentuan nama cawapres baik di kubu Jokowi maupun di kubu Prabowo.Bahkan tidak salah kalau menyebut perhatian publik terhadap penentuan cawapres ini lebih besar ketimbang penentuan capres itu sendiri.

Kalau tentang capres masyarakat sudah meyakini bahwa yang akan muncul adalah Jokowi dan Prabowo.Memang sebelum resmi dideklarasikan sedikit spekulasi masih mencuat apakah Prabowo yang akan maju atau figur lain. S

edangkan untuk Jokowi sejak awal sudah dipastikan akan dapat tiket mengingat sejumlah parpol sudah memastikan dukungannya. Spekulasi yang muncul hanyalah sebatas ,apakah akan ada parpol yang menyatakan mengusung tetapi kemudian hengkang oleh karena adanya alasan tertentu terutama yang berkaitan dengan posisi cawapres.

Oleh karena posisi Jokowi dan Prabowo yang demikian maka keingintahuan publik menjadi  tertuju terhadap sosok yang akan mendampingi masing masing tokoh bangsa itu. 

Melalui berbagai pertemuan antara Jokowi dan parpol pengusungnya ,publik mendapat informasi bahwa untuk cawapres presiden petahana itu telah diperoleh kesepakatan ,sebuah nama yang disetujui oleh Jokowi dan semua parpol pengusung.Disebutkan kesepakatan dimaksud dicapai pada pertemuan Jokowi dengan 6 Ketua Umum Parpol pengusung di Istana Bogor,Senin ,23 Juli 2018.

Disebutkan juga nama yang disepakati itu masih dirahasiakan dan pada waktu yang tepat akan diumumkan langsung oleh Jokowi. Pada waktu itu saya sendiri masih ragu ,benarkah sudah disepakati sebuah nama? 

Keraguan itu muncul karena sehari sesudahnya ,seorang petinggi PKB menyatakan masih ada peluang 80 persen untuk Muhaimin untuk dipilih sebagai cawapres Jokowi. Dalam hati saya bertanya ,kalau sudah ada nama yang disepakati mengapa  disebut masih ada peluang Ketua Umum PKB itu.

Indikasi bahwa belum ada nama yang disepakati semakin menguat ketika Jokowi melalui Romahurmuzij menyebut, cawapres Jokowi punya inisial M .Tentang siapa yang dimaksud dengan M ini juga masih memunculkan teka teki.Bisa maksudnya Muhaimin ,bisa Moeldoko ,mungkin Mahfud MD dan juga mungkin Ma' ruf Amin.

Perkembangan menjelang tanggal 10 Agustus menunjukkan nama Mahfud semakin menguat.Disisi lain Muhaimin melakukan manuver dengan menyatakan PKB masih akan minta pendapat para kiai tentang sikap PKB terhadap Jokowi apabila bukan Cak Imin yang dipilih sebagai cawapres. Alasan yang dikemukakan ,karena majunya Cak Imin berdasarkan mandat yang diberikan para kiai.

Dalam hal yang demikian fungsionaris partai yang didirikan Gus Dur ini memberi semacam ancaman halus yang isinya apabila para kiai memberi perintah agar meninggalkan Jokowi ,partai tersebut akan menaatinya.

Pada 4 Agustus malam sejumlah kiai berkumpul di Kantor PB NU Jakarta. Hasil pertemuan itu menyatakan apabila bukan kader NU yang dipilih Jokowi sebagai cawapresnya maka NU beserta Nahdliyin secara moril tidak ikut bertanggung jawab untuk memenangkan Jokowi.

Bersamaan dengan hal tersebut ,Said Aqil Siroj,Ketua Umum PB NU menyatakan bahwa Mahfud MD bukanlah kader NU.Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu memang warga NU atau NU kultural tetapi bukan kader NU. 

Selanjutnya diberitakan hanya 4 nama kader NU yang dusampaikan ke Jokowi untuk dipilih salah satunya sebagai cawapres.Keempat kader itu ialah,1). KH Ma' ruf Amin,2). Said Aqil Siroj 3). Muhaimin Iskandar dan 4). Romahurmuzij. 

Perkembangan yang demikian semakin meyakinkan saya bahwa sesungguhnya belum ada sebuah nama yang disepakati sebagai cawapres Jokowi. Dan tibalah pada 9 Agustus 2018 sore saat pengumuman siapa yang akan dipilih Jokowi sebagai wakilnya. 

Sampai sekitar pukul 16.00 ,publik masih meyakini bahwa yang akan diumumkan sebagai pendamping presiden petahana itu adalah Mahfud MD.Saat itu penyiar Tv juga memberitakan bahwa mantan Menteri Pertahanan Era Gus Dur itu sudah berada disekitar tempat berkumpulnya Jokowi beserta Ketua Umum dan Sekjend partai pengusung dan pendukung.Diberitakan juga ahli Hukum Tata Negara itu sudah mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Bahkan keterangan nya pada hari ini Mahfud menyebut memang sudah dihubungi supaya bersiap jadi cawapres bahkan menurutnya pembicaraan juga sudah agak mendetail.

Karenanyalah publik terkejut juga ketika pada akhirnya yang dipilih Jokowi adalah KH Ma'ruf Amin dan bukan Mahmud MD. Selanjutnya pemberitaan media hari ini,10 Agustus 2018 menyatakan bahwa pergantian nama Mahfud MD memang terjadi pada menit menit terakhir.Diberitakan juga pergantian nama itu terjadi pada 9 Agustus 2018 sekitar pukul 14.00 karena adanya keberatan beberapa parpol apabila Mahfud yang dipilih.

Informasi itu menunjukkan pergantian terjadi sekitar 3 jam sebelum Jokowi mengumumkan pasangannya. Dengan demikian dinamika yang terjadi itu menunjukkan bahwa pada pertemuan di Istana Bogor ,23 Juli 2018 itu sebenarnya belum berhasil merumuskan sebuah nama. Dugaan saya pada waktu itu kesepakatan yang dicapai adalah memberi mandat kepada Jokowi untuk memilih wakilnya dan perkembangan tanggal 9 Agustus sore menunjukkan bahwa sungguh tidak mudah untuk mencapai sebuah deal politik.

Memang politik itu rumit dan njlimet.
Salam Demokrasi!