Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Mungkinkah Gerindra Tinggalkan PKS dan Merapat ke Demokrat?

12 Juli 2018   09:27 Diperbarui: 12 Juli 2018   09:34 320 3 2

Desakan dari petinggi PKS agar Prabowo Subianto/ Gerindra memilih cawapres nya dari kader partai itu semakin nyaring disuarakan .Malahan nada yang agak keras muncul dari Tifatul Sembiring seorang petinggi partai yang juga pernah menjabat menteri pada pemerintahan SBY.

Ustadz Tif ,panggilan akrab Tifatul dengan nada keras mengatakan ,partainya lebih memilih pecah kongsi dengan Partai Gerindra jika kadernya tak ada yang dipilih menjadi calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto. Anggota Majelis Syuro PKS itu menambahkan ,partainya tidak mau hanya sebagai penggembira saja dalam pilpres.Kalau hanya sebagai penggembira ,mungkin kami lebih baik jalan masing masing saja.( Kompas.com,11/7/2018).

Dari sudut pandang PKS ,rasanya memang wayar mereka menunjukkan kekesalannya karena sampai sekarang tawaran partai itu ke Gerindra belum mendapat tanggapan yang memuaskan. Ketika Prabowo pada 11 April 2018 menyatakan kesiapannya untuk maju pada pilpres,PKS langsung memberikan dukungan dan menyatakan siap koalisi dengan Gerindra dengan syarat cawapres dari kader PKS.

Artinya sudah 3 bulan PKS menyampaikan tawaran yang demikian namun sampai sekarang Gerindra belum menanggapinya. Oleh karena belum ada tanggapan tersebut maka muncullah berbagai dugaan tentang hal itu.

Apakah misalnya Gerindra menilai para kader yang diajukan PKS itu tidak punya elektabilitas tinggi atau karena ada alasan lain. Apakah misalnya karena kader yang diajukan PKS itu tidak punya tingkat keterpilihan yang tinggi sehingga kemudian membuat Prabowo melirik tokoh lain selain kader PKS.

Dengan dugaan yang demikian maka  bukan tidak mungkin mantan Pangkostrad itu menjadi tertarik dengan figur Agus Harimurthi Yudhoyono ,seorang kader Demokrat yang sedang bersinar.

Sepanjang yang ditunjukkan oleh berbagai hasil lembaga survei ,tingkat popularitas dan tingkat elektabilitas putra sulung SBY ini untuk posisi cawapres termasuk lumayan bagus.

Apabila Prabowo dan AHY dipasangkan maka jajaran Demokrat akan memberi dukungan penuh . SBY juga akan all out berjuang untuk kemenangan pasangan ini. Karenanya saya menduga ,Prabowo sedang menghitung dengan cermat ,pasangan mana yang akan dipilihnya sebagai cawapres.Apakah koalisi dengan PKS ,PAN atau justru dengan Demokrat.

Menurut dugaan saya ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan Prabowo untuk memilih cawapresnya. Apabila berkoalisi dengan PKS ,kemungkinan tingkat keterpilihan kadernya tidak terlalu tinggi. Namun kalau berkoalisi dengan partai ini suara sebahagian besar ummat Islam terutama pendukung Aksi Aksi Bela Islam yang menguat pada Pilkada DKI 2017 akan bisa ditarik.

Kalau berkoalisi dengan Demokrat ,kemungkinan besar suara ummat Islam yang demikian tidak akan dapat diraih karena Prabowo maupun AHY bukanlah representasi kekuatan politik ummat Islam.

Ada lagi hal lainnya yang menurut dugaan saya masuk dalam pertimbangan Prabowo.Kalau PAN dan PKS ditinggalkannya bukan tidak mungkin kedua partai ini berkoalisi dengan PKB .Apabila koalisi ini terjadi maka posisi politik Prabowo akan melemah.Memang menurut pendapat saya koalisi ketiga partai ini sangat kecil kemungkinannya terbentuk.

Tetapi kata orang orang pandai,didalam politik ,apa yang tidak mungkin. Hal lain yang menurut pendapat saya yang menjadi pertimbangan Prabowo ialah yang berkaitan tingkat elektabilitas AHY.Sejauhmana suami Anisa Pohan itu mampu memberi kontribusi untuk peningkatan elektabilitas pasangan mengingat tingkat keterpilihan Prabowo saat ini menurut beberapa lembaga survei masih berada pada kisaran angka 22-25 persen.

Pemilih muda tahun 2019 diperkirakan mencapai 30 persen dari jumlah pemilih.Mampukah AHY menempatkan dirinya sebagai representasi anak muda Indonesia.Memang dari berbagai kegiatan yang dilakukannya terlihat AHY ingin menjadi idola anak muda negeri ini.

Dengan kata lain tentu Prabowo menimbang mana yang lebih menguntungkan berkoalisi dengan PKS atau dengan Demokrat. Karena mempertimbangkan berbagai hal yang demikianlah maka menurut dugaan saya sampai sekarang Prabowo belum menyahuti tawaran PKS. Dengan  kondisi yang demikian itu jugalah maka saya punya dugaan kuat ,pada akhirnya Gerindra akan berkoalisi dengan Demokrat.

Selamat Menduga-duga!