Mohon tunggu...
Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Mohon Tunggu... Pensiunan PNS -

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Adakah Penolakan dari Parpol Pendukung Jokowi hingga SBY "Berbalik Arah"?

24 April 2018   17:42 Diperbarui: 24 April 2018   17:58 709
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Saya selama ini beranggapan bahwa SBY/ Demokrat lebih nyaman berkoalisi dengan parpol pengusung Jokowi ketimbang mendukung Prabowo.

Tanda tanda kecenderungan yang demikian  sudah lama terlihat. Pada berbagai momen politik terlihat keakraban dan kemesraan Jokowi dengan SBY/ AHY.

Karenanya untuk saya ,agak mengejutkan juga pernyataan SBY yang menegaskan pada tahun 2019 akan lahir pemimpin baru. Seperti dikutip dari detiknews.com, 23/4/2018, SBY menyatakan "Saya akan pasangkan nanti, capres-cawapres yang ngerti keinginan rakyat", ujar SBY dalam keterangan tertulis PD, Senin, 23/4/2018.

Presiden RI Keenam tersebut juga menyatakan "Insya Allah nanti ada pemimpin baru yang amanah, cerdas dan memikirkan rakyat banyak".

Tidak ada tapsir lain dari pernyataan tersebut. Sangat jelas SBY tidak mendukung Jokowi pada pilpres nanti. Berkaitan dengan hal tersebutlah tentu muncul spekulasi apa penyebab perobahan " sikap " itu?.

Disebut "sikap" (dalam dua tanda kutip) karena SBY secara resmi memang belum pernah menyatakan mendukung Jokowi. Tetapi  dari bahasa bahasa isyarat terutama pada Rapimnas Demokrat, kita menangkap sinyal bahwa Demokrat akan mendukung Jokowi. Ucapan SBY ," Andainya Tuhan mentakdirkan..." merupakan sinyal tentang sikap Demokrat tersebut.

Seperti yang dinyatakan sebelumnya ,dengan posisi yang demikian mengapa kemudian muncul ucapan SBY itu?. Kemungkinan besar SBY sudah memperoleh informasi tentang sikap parpol koalisi pengusung Jokowi andainya Demokrat bergabung.

Informasi itu tentu berkisar pada ,1). semua partai pendukung welcome dengan gabungnya Demokrat tetapi partai besutan SBY itu gabung tanpa syarat, 2). Demokrat gabung dengan syarat AHY jadi cawapres ,3 ). Demokrat gabung dan akan dapat jatah posisi beberapa menteri dan 4), ada parpol yang tidak menghendaki gabungnya partai tersebut pada koalisi.

Dengan perkembangan sekarang ini tidak salah juga kalau menduga kemungkinan besar memang ada parpol yang tidak terlalu nyaman kalau Demokrat gabung dengan koalisi ini.

Bisa saja ketidak nyamanan ini karena faktor psikologis, bisa juga karena ada yang tidak menginginkan Jokowi dan Demokrat akrab atau mungkin ada lagi alasan alasan lain.

Mungkin yang dikemukakan ini hanyalah sebatas spekulasi, bisa saja benar tapi juga bisa salah. Kalaulah memang kemesraan Demokrat -Jokowi akan berakhir lalu apakah yang akan dilakukan Demokrat?. Kemungkinan besar Demokrat ( 10,19%), akan membentuk poros baru bersama PAN ( 7,59 %) dan PKB ( 9,04%).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun